Bursa Efek Indonesia, Sejarah dan Pembelian Saham

All About Money

Ingin mulai menanam saham? Yuk, ketahui dulu sejarah dan cara membeli saham di Bursa Efek Indonesia berikut ini.

Bursa efek merupakan pasar saham yang terorganisasi, mempertemukan antara penjual dengan pembeli yang akan terjalin komunikasi untuk melakukan transaksi jual beli saham atau surat berharga dengan aturan yang telah ditetapkan. Secara garis besar, bursa efek memperjualbelikan saham yang merupakan bukti kepemilikan perusahaan seseorang, karena menyetor penyertaan modal. Namun, apakah Anda mengetahui tentang sejarah dan cara pembelian Bursa Efek Indonesia?

Sejarah Bursa Efek Indonesia

Sejarah Bursa Efek Indonesia

Bursa Efek memang sudah tak asing lagi untuk didengar yang sering dikaitkan dengan perdagangan saham. Bursa sendiri merupakan istilah yang memiliki pengertian sama dengan pasar, tempat untuk berjual beli. Jika pasar melibatkan produk secara fisik, maka bursa merupakan tempat jual beli sebuah produk yang tidak melibatkan fisik, namun berupa saham dan obligasi. BEI atau Bursa Efek Indonesia berdiri sebab penggabungan dua bursa yang telah lebih dulu ada di Indonesia, yakni Bursa Efek Jakarta BEJ dan Bursa Efek Surabaya (BES). Secara sejarahnya, pasar modal memang sudah ada sejak sebelum kemerdekaan Indonesia, lebih tepatnya sejak zaman kolonial Belanda. Bursa efek berdiri pada tahun 1912 di Batavia atau yang sekarang adalah Jakarta.

Bursa efek saat itu didirikan oleh Hindia Belanda pada saat pemerintahan kolonial atau dikenal juga dengan VOC. Saat itu awal mulanya hanya berdiri 13 perusahaan yang menjadi pilang investor, seperti salah satunya Fa. Dunlop & Kolf dan Fa. Gebroeders. Pada sekitar tahun 1914-118 Bursa efek mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang tak berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Kegiatan pasar modal ini bahkan beberapa kali wakum yang disebabkan oleh beberapa faktor seperti Perang Dunia ke I. Pada tahun 1925-1942, melihat kondisi yang sudah teratasi dan kondusif, bursa efek kembali dibuka di Jakarta. Seiring dengan kondusifnya kondisi saat itu hingga dibuka pasar modal di Semarang dan Surabaya.

Baca Juga: Trik Sukses Bermain Saham yang Aman dan Menguntungkan

Jika sebelumnya Perang Dunia ke I menyebabkan tutupnya pasar saham, makan Perang Dunia ke II pun mengambil andil menjadi salah satu faktor penyebabnya bursa efek vacum. Bursa yang terkena dampaknya adalah Bursa Efek di Semarang dan Surabaya. Tak hanya itu pasar saham di Batavia juga ikut tutup selama berlangsungnya Perang Dunia II. Dijalankannya program nasionalisasi perusahaan Belanda membuat perkembangan pasar serta investor saham semakin tak terlihat. Kemudian pada tahun 1977, bursa efek kembali diaktifkan, karena inisiatif pemerintah Republik Indonesia.

Tepat tanggal 10 Agustus 1977 oleh Presiden Soeharto, Bursa Efek Indonesia kembali dibuka. Saat itu BEJ berada langsung di bawah BAPEPAM (Badan Pelaksana Pasar Modal) yang sekarang dikenal dengan OJK atau Otoritas Jasa Keuangan. Seiring dengan berbagai dukungan regulasi dan insentif untuk kemajuan bursa Indonesia, pasar modal ini semakin tumbuh berkembang. Pasar modal yang telah resmi kembali diiringi dengan go public atau IPO dari PT semen Cibinong selaku emiten pertama dan jalan berkembangnya Bursa Efek Indonesia. Namun, selama berjalannya Bursa Efek Indonesia pada tahun 1977 hingga 1987 tidak menghasilkan perubahan yang besar, dimana jumlah emiten baru dimiliki sekitar 24. Kepopuleran menjadi salah satu faktor enggannya perusahaan mendaftarkan usahanya dan lebih memilih instrumen perbankan dari pada pasar modal.

Bursa Efek Indonesia Saham

Sebagai solusinya, lahirlah kebijakan PAKDES 87 yang merupakan singkatan dari Paket Desember 1987 untuk memberikan kemudahan bagi para perusahaan melakukan IPO atau Penawaran Umum dan Perdana, serta investor asing akan diberi izin berinvestasi di Indonesia. Paket deregulasi di bidang Perbankan dan Pasar modal dirilis. Tahun 1988 hingga 1990 Bursa Efek melalui aktivitas transaksi yang meningkat. Tepatnya tanggal 2 Juni 1988, BPI (Badan Paralel Indonesia) mulai beroperasi dan dikelola oleh PPUE atau Persatuan Perdagangan Uang dan Efek yang organisasinya terdiri dari dealer dan broker. Kemudian berkembang kembali BES di bawah PT Bursa Efek surabaya pada tanggal 16 Juni 1988.

Pada tanggal 13 Juli 1992 yang saat ini tanggal tersebut dijadikan Hari Ulang Tahun BEJ, saat itu BEJ yang terkena dampak swastanisasi juga membuat BAPEPAM merubah nama menjadi Badan Pengawas Pasar Modal. Semakin berkembangnya pasar modal ini, hingga pada tanggal 22 Mei 1995 BEJ mulai menggunakan sistem otomasi perdagangan yang canggih yakni JATS (Jakarta Automated Trading System). Di tahun yang sama BPI melakukan merger dengan BES dan pemerintah melahirkan Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 mengenai pasar modal. Tahun berikutnya, scripless trading atau Sistem Perdagangan dengan Tanpa Warkat mulai diaplikasikan. Tingginya mobilitas bangsa Indonesia maupun asing mengiringi BEJ yang mulai menerapkan sistem perdagangan jarak jauh atau dikenal juga dengan remote trading, sistem yang tak perlu membeli atau menjual saham ke broker lagi.

Baca Juga: Jangan Salah, Ini Cara Bermain Saham yang Menguntungkan!

Perpindahan nama Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya yang menjadi Bursa Efek Indonesia dimulai pada tahun 2007. Tumbuh dengan pesat, pada tanggal 2 Maret 2009, Bursa Efek Indonesia meluncurkan sistem trading baru dengan nama JATS-NextG. Terlihatnya Bursa Efek Indonesia berkembang adalah pada tahun 2011 dengan jumlah perusahaan yang melakukan IPO sebanyak 25 emiten dan kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia di akhir tahun tersebut mencapai Rp. 3.537 triliun. Awal tahun 2014 mulai diberlakukan perubahan satuan slot dan awal tahun 2017 terjadi perubahan sistem auto rejection atau penolakan otomatis. Terakhir pada tanggal 19 Februari 2018 bursa saham di Indonesia mencapai poin baru yang berada di level 6.689,29 yang dicatat oleh IHSG, pada bulan Mei 2018 dilakukan pembaruan Sistem Perdagangan dan New Data Center, pada bulan November 2018 launching penyelesaian transaksi T+2 (T+2 Settlement), dan pada bulan Desember 2018 ada penambahan tampilan informasi Notasi khusus pada kode perusahaan tercatat.

Cara Membeli Saham di Bursa Efek Indonesia

Memulai Saham di Bursa Efek Indonesia

Perjual belian saham di Bursa Efek Indonesia dilakukan otomatis lewat trading saham online system dengan melakukan pembukaan rekening saham terlebih dahulu. Pembukaan rekening saham ini dilakukan di perusahaan sekuritas, biasa dikenal juga dengan pialang atau broker saham. Perusahaan sekuritas di Indonesia dimiliki oleh pemerintahan (BUMN) dan sebagian lainnya dimiliki oleh swasta nasional serta asing. BNI Sekuritas (NI), Mandiri Sekuritas (CC), Danareksa Sekuritas (LG), dan Bahana Sekuritas (DX) merupakan milik BUMN. Swasta Nasional memiliki Sinarmas Sekuritas (DH), Panin Sekuritas, Brent Sekuritas, Trimegah Sekuritas (LG), Trust Sekuritas, Henanputi Rai Sekuritas (HP), dan Balbury Sekuritas (CP). Sementara Kim Eng Securities, CLSA Securities, JP Morgan Securities (BK), Merril Lynch Securities (ML), Phillips Securities, UBS Securities, BNP Paribas Securities (RX). Untuk lebih jelasnya lagi, berikut ini step by step cara membeli saham di Bursa Efek Indonesia.

Pembukaan Rekening Saham

Pembukaan rekening saham di Bursa Efek Indonesia dilakukan di perusahaan sekuritas yang menawarkan investasi saham Indonesia dengan pembukaan rekening awal minimal 5 juta rupiah. Data-data yang diperlukan saat pembukaan rekening adalah data identitas, data alamat tempat tinggal, data usaha atau pekerjaan, data ahli waris, dan data buku rekening tabungan.

Baca Juga: Mau Investasi Saham? Begini Cara Bermain Saham untuk Pemula

Memilih Saham

Setelah menyetor dana awal lewat rekening saham dengan dana awal minimal sesuai dengan perusahaan sekuritas, Anda berarti sudah dapat bertransaksi saham. Kemudian Anda dapat memilih saham-saham sebelum melakukan pembelian dengan tujuan untuk membeli saham yang akan memberikan keuntungan besar untuk investasi saham Anda. Diperlukan analisa tentang kondisi perusahaan yang akan Anda beli sahamnya. Analisa tersebut dapat meliputi kondisi perusahaan yang sehat, berkembang, peningkatan keuntungan yang signifikan, dan masih banyak lagi yang perlu dianalisa yang biasa disebut analisa fundamental. Pemilihan saham ini juga perlu timing untuk melihat grafik harga saham atau disebut dengan analisa teknikal yang mengamati waktu yang tepat untuk pembelian saham. Lalu diperlukan juga beberapa analisa lain sebelum membeli saham.

Beli Saham

Ada dua macam cara yang dapat dilakukan untuk pembelian saham setelah melakukan riset sebelumnya, yakni melalui broker atau pialang saham atau secara online. Jka melalui broker langsung dapat melakukan order pembelian melalui broker atau melalui telepon. Sedangkan pembelian saham secara online akan menggunakan Trading Saham Online System. Biasanya broker akan memiliki fasilitas online berupa system software yang harus diinstall di perangkat, bisa di komputer PC, smartphone, tablet, atau notebook.

Comments are closed.