Daftar Krisis Moneter Terparah Sepanjang Sejarah

All About Money

Bicara soal krisis moneter, pasti kita akan mengingat kejadian di akhir 1990-an. Padahal, ada banyak kejadian yang lebih buruk dari yang kita alami.

Bagi Anda yang lahir dan hidup di era 1990-an, mungkin Anda ingat bahwa Indonesia mengalami krisis moneter di tahun penghujung tahun tersebut. Bisa dibilang, perekonomian tanah air sangat bobrok pada era tersebut. Semua harga melambung tinggi, kurs rupiah terhadap dollar pun anjlok. Tapi, jika Anda berpikir bahwa krisis moneter yang dialami Indonesia tersebut adalah yang terburuk, nyatanya salah besar. Faktanya, sejarah mencatat krisis moneter yang jauh lebih buruk dibandingkan yang kita alami. Negara mana saja yang mengalami hal tersebut? Ini dia!

Baca juga: Inflasi: Definisi, Penyebab, Jenis, dan Dampaknya

Krisis Moneter Terparah di Dunia

Kepanikan Bank (1907)

Kepanikan pada 1907 terjadi karena terjun bebasnya pasar saham Dow lebih dari 50 persen dibanding tahun sebelumnya. Pemicunya adalah over-ekspansi dan spekulasi pasar yang buruk. Pasar saham jatuh pada Maret dan terulang kembali pada Oktober, menyebabkan hilangnya kepercayaan pada bank disusul bangkrutnya Bank Amerika Utara. Pada Februari 1908 kepercayaan publik mulai pulih dan pada Mei, Kongress menyetujui Undang-undang Aldrich-Vreeland Act dan membentuk Komisi Moneter Nasional untuk meredam setiap kepanikan pasar di masa datang.

“Dekade yang Hilang” dari Jepang (1990-2000)

Runtuhnya gelembung aset (asset bubble) di Jepang pada 1991 menyebabkan pertumbuhan ekonomi rendah dan berkepanjangan hingga 2000. Penyebab sebenarnya dari krisis ini adalah akibat tidak sehatnya spekulasi, tingginya angka kredit, dan rendahnya tingkat suku bunga. Ketika pemerintah mencoba mengendalikannya, kredit semakin sulit didapat dan penyertaan modal turun drastis. Inilah penyebab melemahnya ekspansi ekonomi sepanjang 1990an, menjadikannya satu dekade yang hilang. Jepang beruntung dapat menghindari depresi, tapi efek di 1991 tersebut masih terasa sampai hari ini.

Hiperinflasi Jerman (1918-1924)

Meskipun hiperinflasi Jerman bukanlah yang terburuk dalam sejarah, tapi memiliki dampak paling hebat. Pada 1914, nilai tukar USD terhadap Mark Jerman sekitar satu berbanding empat. Namun pada 1923, angka tersebut meledak hingga menjadi USD1 setara dengan 1 triliun (1.000.000.000.000) Mark Jerman. Sebagai buntut dari Perang Dunia I, “sang pemenang” membebankan biaya rekonstruksi akibat perang kepada Jerman, nilainya mencapai sepertiga dari defisit anggaran Jerman. Dengan memperkenalkan jenis mata uang baru pada 1923 yakni Rentenmark dan Reichsmark pada 1924, Jerman akhirnya dapat mengontrol inflasi tersebut.

The Great Depression (1929)

The Great Depression adalah depresi terpanjang dan paling parah dalam sejarah ekonomi global, berlangsung antara 1929 hingga pecahnya Perang Dunia II. Awal krisis ini ditandai dengan terpuruknya bursa Wall Street, yang menjadikannya sebagai keruntuhan paling dahsyat dalam sejarah pasar saham. Pada 29 Oktober 1929, USD10 miliar (nilainya sekitar USD95 miliar saat ini) lenyap ditelan bumi. Pada tahun-tahun menjelang Selasa Hitam (Black Tuesday), bursa saham Dow terlahir banyak jutawan. Pasar saham menjadi hobi bagi investor bodoh yang siap memborong saham perusahaan (banyak fiktif) tanpa mempelajari rekam jejaknya.

Baca juga: Bank Indonesia: Sejarah, Status, dan Fungsi

Krisis Minyak (1973)

Dibayang-bayangi perang Yom Kippur antara Suriah dan Mesir melawan Israel, OPEC (organisasi negara-negara pengekspor minyak dunia) menjadikan minyak sebagai senjata dengan cara melakukan embargo minyak terhadap pihak yang mendukung Israel. Biaya minyak mentah meningkat sementara produksi dipangkas, terutama untuk AS dan Belanda. Embargo hanya berlangsung selama lima bulan, namun efeknya terus dirasakan hingga kini. Pasar Saham New York kehilangan hingga USD97 miliar.

Senin Hitam (Black Monday) (1987)

Tidak ada yang tahu pasti apa penyebab terjadinya Black Monday pada 19 Oktober 1987. Yang jelas secara tiba-tiba miliaran USD hilang dari pasar saham seluruh dunia. Hong Kong kehilangan 45,8 persen dari total nilai sahamnya, Inggris kehilangan 26,4 persen, Australia lenyap 41,8 persen dan Selandia Baru menurun hingga 60 persen. Perdagangan program, perselisihan kebijakan moneter serta kekhawatiran akan inflasi, semuanya ditengarai menjadi penyebab krisis ini.

Krisis Moneter Asia Tenggara (1997)

Awalnya banyak pengamat menyebut perekonomian Asia sebagai Macan Asia yang sedang bangkit dan segera menggantikan dominasi ekonomi barat. Namun tak butuh waktu lama untuk membalikkan pujian tersebut menjadi bencana besar yang dimulai pada Juli 1997. Ini berawal dari hilangnya kepercayaan investor pada mata uang Asia. Terjadilah efek domino, dimulai dari Thailand dan meluas ke Filipina, Hong Kong, Malaysia dan Indonesia dan terus menyebar hingga memicu krisis global. Pasar saham Thailand terkoreksi 75 persen, Hong Kong 23 persen, dan Singapura anjlok hingga 60 persen, serta nilai tukar IDR terdevaluasi hingga 90 persen.

Krisis Rubel (1998)

Korupsi, kebijakan reformasi ekonomi yang tidak efektif, devaluasi nilai Rubel, dan ketidakstabilan politik membawa Rusia ke dalam krisis moneter masif. Selain itu, posisi Rusia sebagai eksportir sepertiga dari jumlah minyak dan gas di dunia, menyebabkan negeri beruang merah ini sangat rentan terhadap terjadinya fluktuasi harga minyak. Ketika investor asing menarik uangnya keluar Rusia, bank menjadi lumpuh dan dengan terpaksa meminjam pada IMF.

Resesi Hebat (2008)

Pada 2008, bangkrutnya Bank Lehman Brothers yang memiliki aset bernilai USD600 miliar menjadi simbol dimulainya krisis moneter paling dramatis sejak masa Depresi Hebat. Penyebabnya berkaitan dengan dideregulasinya beberapa kebijakan sektor keuangan, kebijakan moneter yang buruk dan runtuhnya ekonomi internasional akibat tingkat utang tinggi di sektor publik dan swasta. Efek yang disebabkan krisis ini begitu hebat. Hingga Maret 2009, 45 persen dari kekayaan global telah lenyap akibat krisis ini.

Baca juga: Investasi Sukuk, Investasi Halal dan Menguntungkan

Temukan Asuransi Mobil Terbaik Anda

Rp

Krisis Utang Sovereign Eropa (2009 Sampai Sekarang)

Inilah krisis moneter terkini yang berlangsung sampai hari ini dan tak ada seorang pun tahu kapan krisis ini akan berakhir. Saat ini pasar makin khawatir terhadap kemampuan sejumlah negara, khususnya Yunani, Irlandia, Spanyol, Portugal, dan Italia, untuk membayar utang mereka. Keterlibatan bank-bank Internasional yang terus memberi utang terhadap negara-negara ini diduga semakin membuat jatuhnya pasar. Melihat catatan sejarah di atas, tentu kita tak ingin lagi mengalami hal yang pernah terjadi di akhir tahun 1990-an silam, bukan?

Comments are closed.