Makelar, Pekerjaan Berpenghasilan Besar

All About Money

Makelar sering kali dianggap sebelah mata oleh banyak orang. Padahal, jika sukses, penghasilan dari pekerjaan ini sangatlah besar.

Kita sama-sama tahu bahwa ada banyak sekali jenis pekerjaan di dunia ini. Mulai dari yang resmi dan berada di kantor hingga yang tidak resmi dan berada di lapangan alias tidak memiliki meja dan kursi untuk bekerja, semua ada. Untuk poin yang kedua, pekerjaan yang paling menghasilkan tak lain adalah makelar.

Makelar adalah perantara yang atas nama orang lain (pemberi kuasa) mencarikan barang bagi pembeli dan atau menjual barang. Pekerjaan ini bertugas untuk mengadakan perjanjian-perjanjian atas nama mereka dalam penjualan atau pembelian suatu barang. Orang yang bekerja di bidang ini tidak ikut bertanggung jawab atas penyerahan barang dan pembayarannya. Tugasnya hanya memungkinkan penjual dan pembeli mengadakan perjanjian jual-beli sendiri. Ada pun uang yang dihasilkan oleh makelar disebut provisi atau kurtase.

Baca juga: Karyawan Tetap di Perusahaan, Apa Kelebihannya?

Banyak sekali orang yang bingung dengan perbedaan antara makelar dan broker. Mungkin Anda salah satunya? Jika iya, mari kita bahas lebih dalam seputar makelar dan broker di bawah ini!

Ranah Usaha Makelar dan Broker

Makelar sering diasumsikan sebagai jasa perantara yang dilakukan oleh perseorangan. Keberadaannya acapkali dianggap sebagai orang yang tidak memiliki pekerjaan tetap namun memiliki penghasilan besar. Faktanya, jarang sekali orang yang mau mengakui bahwa mereka bekerja sebagai seorang makelar hanya karena citra pekerjaan tersebut yang terdengar buruk. Padahal, pekerjaan tersebut terbilang legal dan tidak menyalahi aturan yang ada di negara ini.

Contoh jual-beli atau perniagaan yang sering memanfaatkan jasa makelar:

  1. Jual-beli kendaraan bermotor bekas: Mobil hingga sepeda motor.
  2. Jual-beli atau sewa properti: Rumah, tanah, ruko, serta apartemen.
  3. Jual-beli ternak: Sapi, kerbau, atau kambing.
  4. Jual-beli online: Reseller dropshipper, hingga affiliate program.

Beralih ke broker. Manurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, broker adalah pedagang perantara yang menghubungkan pedagang satu dengan yang lain dalam hal jual-beli atau antara penjual dan pembeli (saham dan sebagainya); cengkau; makelar; pialang).

Secara umum, broker dan makelar itu memiliki pengertian yang sama. Namun, masyarakat mengidentifikasikan broker identik dengan agen pemasaran berbentuk perusahaan. Mudahnya, broker adalah makelar berbadan usaha.

Biasanya ada perjanjian tertulis antara pihak prinsipal (pemilik barang atau jasa) dengan broker. Sering pihak penjual mensyaratkan pihak broker sebagai rekanan tidak boleh menjual barang dari pihak lain. Jadi pihak broker hanya fokus memasarkan dan menjual produk dari satu pihak saja.

Baca juga: Melihat Lebih Dalam Seputar Kategori Perusahaan Multifinance

Contoh perusahaan broker antara lain:

  1. Broker di bidang keuangan: Agen asuransi, pialang saham, jasa investasi, agen forex, agen kartu kredit, dll.
  2. Broker di bidang properti: Agen properti.
  3. Broker di bidang transportasi dan wisata: Agen tiket pesawat, agen umroh dan haji, hingga agen wisata.

Persamaan Makelar dan Broker

Berdasarkan pengertiannya masing-masing di atas, persamaan dari makelar dan broker adalah:

  1. Sama-sama jadi perantara pihak lain.
  2. Sama-sama tidak punya otoritas penuh atas produk dan jasa yang dipasarkan atau dikerjakan.
  3. Sama-sama mendapat imbalan, fee, komisi, provisi, keuntungan sebagai imbal jasa dari kegiatan usaha yang dilakukan.

Jadi, jika Anda melakukan pekerjaan seperti menyalurkan motor atau mobil pada calon pembeli dan kendaraan tersebut akhirnya dibeli dan Anda pun memeroleh komisi, berarti Anda merupakan seorang makelar dan broker.

Baca juga: Yuk Kupas Tuntas Keseruan Unicorn Startup

Perbedaan Makelar dan Broker

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, sejatinya tak ada perbedaan antara makelar dan broker. Persepsi masyarakat saja yang membuat dua hal ini menjadi terlihat berbeda, padahal sama. Mungkin, jika ada perbedaan, makelar biasanya menggarap pekerjaannya tanpa ada perjanjian resmi, sedangkan broker umumnya sudah terikat dengan perjanjian dari awal.

Sistem Kerja Makelar

Sistem atau cara kerja makelar umumnya tergantung kesepakatan antara penjual dengan perantara. Prinsip utamanya adalah menguntungkan kedua belah pihak. Adapun sistem yang banyak digunakan seperti berikut ini:

Sistem Harga Mati

Pada sistem ini, makelar hanya mempertemukan penjual dengan pembeli. Urusan negosiasi harga, pengiriman barang, dan hal-hal terkait jual beli lain, ditangani sendiri oleh penjual. Sistem ini tidak memungkinkan makelar ‘memainkan haga’ dan mengambil untung lebih. Berapa pun nilai transaksinya, dia hanya akan mendapat komisi sesuai perjanjian awal. Bayaran yang diperoleh umumnya senilai 2,5 hingga 5 persen dari nilai transaksi.

Sistem Harga Induk

Sistem ini artinya pemilik barang telah menentukan harga patokan. Terserah makelar mau menjual berapa pada konsumen. Sang perantara bebas mencari keuntungan sendiri dari selisih harga yang telah ditetapkan dengan harga produk yang terjual. Makin mahal harganya, makin besar keuntungannya.

Produsen atau penjual biasanya mematok harga di bawah harga pasar. Tujuannya untuk memberi kesempatan perantara memperoleh pendapatan, sekalipun hanya berhasil menjual dengan harga umum.

Baca juga: Kelebihan dan Kekurangan Fintech Lending di Indonesia

Temukan Asuransi Mobil Terbaik Anda

Rp

Sistem Titip Jual

Tak banyak yang menyadari kalau sistem titip jual termasuk sistem penjualan makelar. Sistemnya, pemilik produk menitipkan barang dagangannya pada orang lain untuk dijualkan. Biasanya pemilik sudah menetapkan harga jual akhir dan memberikan selisih keuntungan pada pihak yang dititipi produk sebagai komisi.

Dalam skala kecil, sistem titip jual sering dilakukan oleh wirausaha UKM kue basah dengan menitipkan kuenya pada toko kue, pedagang sayur, warung, kantin. Kalau skala besar, disebut dengan istilah beken yakni distributor. Untuk menjadi makelar kakap sekelas distributor, pastinya harus ada uang jaminan dan persyaratan lain yang harus dipenuhi.

Cara pemasaran ini berisiko besar jika diterapkan pada produk bernilai jual tinggi, seperti emas, barang elektronik, kendaraan bermotor, dan sejenisnya. Sebab, dengan menyerahkan barang tersebut pada makelar, hal buruk yang mungkin terjadi adalah sang makelar tidak menyerahkan uang hasil penjualan atau dalam kata lain, kabur.

Makelar memang sering dianggap remeh oleh orang. Padahal, pekerjaan ini terbukti legal dan tidak bermasalah di ranah hukum. Setelah membaca penjelasan di atas, ada yang tertarik untuk menjadi seorang makelar?

Comments are closed.