Cara Menghitung PTKP Tanpa Bantuan Orang Lain

All About Money

PTKP menjadi acuan utama untuk menentukan besaran dari PPh 21. Dirjen kementrian keuangan telah menetapkan batasan untuknya. Lalu, bagaimana cara menghitungnya?

Bagi perusahaan besar diberikan beban untuk menghitung besaran biaya yang nantinya dipotong untuk kas negara. Potongan ini hanya bisa dilakukan bila karyawan yang dipekerjakan telah memiliki upah sesuai standar. Tetapi bila tidak mencapai batasan, karyawan tidak akan dikenakan pemotongan.

Pada kesempatan kali ini, kami akan berbagai informasi mengenai bagaimana cara melakukan perhitungan pajak tahunan. Tapi sebelumnya, mari kenali dulu siapa yang diwajibkan untuk membayar pajak itu sendiri.

Baca juga: Bagaimana Cara Menghitung PPh 21?

Apa yang Dimaksud dengan PTKP?

menghitung PTKP

PTKP kependekan dari Penghasilan Tidak Kena Pajak. Ini merupakan istilah untuk menjelaskan batasan seseorang berpenghasilan yang nantinya lolos dari pemungutan pajak. Artinya, seseorang tidak wajib untuk mengeluarkan biaya atau mengisi kas negara dari upah bulanannya.

Istilah tersebut menjadi tolok ukur pada pengambilan pajak penghasilan dari pemerintah. Syarat utamanya adalah besaran gaji yang diterima seseorang sudah melebihi batasan kena pajak. Dan ini sudah diatur oleh dirjen keuangan pemerintah.

Pengeluaran pajak ini menjadi salah satu kontribusi penting seseorang dalam mendukung pembangunan yang digalakkan pemerintah. Anda yang tinggal di negara hukum wajib mematuhinya. Sebab ini adalah bentuk kewajiban yang wajib ditaati.

Untuk perhitungan pajak ini sebenarnya bisa dihitung sendiri. Acuannya adalah melihat batasan tentang seseorang yang wajib dikenai pajak. Dari sini, penghasilan setahun akan dihitung seluruhnya, baru kemudian dikurangi dengan batasan kena pajak serta dikalikan lima persen (PPh 21).

Besaran Tarif Terbaru PTKP

Sejauh ini pemerintah telah merevisi besaran PTKP berulang-ulang. Hal ini didasarkan pada banyak faktor. Di antaranya adalah pertumbuhan ekonomi, kebutuhan pokok seseorang, serta perubahan status gaji dari karyawan.

Tetapi di 2019 ini, besaran tarif seseorang yang tidak kena pajak tampaknya masih stagnan. Artinya tidak mengalami perubahan sejak 2016 yang lalu.

Nah, besaran nilainya ini disesuaikan dengan status seseorang. Status orang yang belum menikah akan berbeda dengan yang sudah menikah. Begitu pula jika memiliki tanggungan di dalam keluarganya.

Ketika memiliki tanggungan keluarga, nilainya akan ditambah dengan Rp4,5 juta di tiap satu tanggungan. Misalnya memiliki satu tanggungan, perolehan penghasilan tidak kena pajaknya akan ditambah Rp4,5 juta. Tapi jika dua orang, maka tinggal menambahkan Rp9 juta.

Untuk lebih jelasnya, besaran penghasilan tidak kena pajak dari seseorang berstatus belum kawin sekitar Rp54 juta. Sementara yang sudah menikah di kisaran Rp58,5 juta. Dan bila menikah dan memiliki satu tanggungan seperti anak, bapak, atau ibu, maka batasannya ada di kisaran Rp63 juta rupiah.

Perlu diingat bahwa pertanggungan yang diizinkan adalah sekitar tiga orang saja. Meskipun kenyataannya memiliki lima orang yang ditanggung, batasan ini tetap mengacu pada tiga orang saja. Makanya, Anda tidak bisa mencari keringanan dalam pembayaran pajak dengan alasan menanggung lima orang dalam keluarga.

Baca juga: Cara Lapor Pajak Online SPT dengan E-Filling

Cara Menghitung Penghasilan Tidak Kena Pajak

Ada dua cara yang bisa ditempuh untuk menghitung. Pertama adalah menghitung secara manual. Kedua adalah menghitung secara otomatis. Nah, bagaimana cara melakukannya?

Cara Manual

menghitung ptkp

Nilai ini didapatkan dari akumulasi gaji setahun. Gaji keseluruhan nanti akan dihitung dengan rumus khusus. Hasilnya menentukan apakah seseorang akan dikenai pajak penghasilan atau tidak.

Rumusnya sendiri adalah gaji bulanan x 12 bulan – nilai penghasilan tidak kena pajak. Sementara PPh 21 didapatkan dari hasil perhitungan tersebut di kali 5%.

Di sini, kami contohkan dua ilustrasi yang akan menjelaskan gambaran perhitungannya. Perhatikan baik-baik jika ingin mengetahui seberapa besar pajak yang mungkin Anda bayar dari penghasilan di tiap tahunnya.

Contoh 1:

Joko belum menikah, memiliki penghasilan sekitar Rp4 juta per bulan. Joko tinggal dengan ibunya yang sudah tua. Bagaimana perhitungan?

Penghasilan bulanan: Rp4.000.000.

Penghasilan setahun: Rp4.000.000 x 12 = Rp48.000.000.

Penghasilan Tidak Kena Pajak setahun: Rp54.000.000 + 4.500.000 = Rp58.500.000.

Penghasilan setahun – Penghasilan Tidak Kena Pajak setahun = Rp48.000.000 – Rp58.500.000 = – Rp10.500.000.

Dari perhitungan ini, Joko sebenarnya tidak mencapai batasan yang ada di kisaran Rp58.500.000. Malahan cenderung mengalami kekurangan. Maka dari itu, Joko tidak dikenai pajak dari penghasilannya tiap bulan.

Contoh 2:

Joko belum menikah memiliki penghasilan bulanan sekitar Rp6 juta. Dia tinggal sendirian dan tidak memiliki komponen pengurang apa pun. Jadi, apakah Joko dikenai pajak?

Penghasilan bulanan: Rp6.000.000.

Penghasilan setahun: Rp6.000.000 x 12 = Rp72.000.000.

Penghasilan Tidak Kena Pajak setahun: Rp54.000.000.

Penghasilan setahun – Penghasilan Tidak Kena Pajak setahun: Rp72.000.000 – Rp54.000.000 = Rp18.000.000.

PPh terutang: 5% x Rp18.000.000 = Rp900.000.

Di lihat dari hasilnya, Joko memiliki penghasilan tahunan melebihi batasan tidak kena pajak. Joko wajib mengeluarkan PPh. Hasilnya dikalikan lima persen sehingga didapatkan Rp900.000 sebagai pajak terutang dari penghasilannya dalam satu tahun.

Baca juga: Ternyata, Mendapatkan e-FIN Pajak Tidak Susah

Temukan Asuransi Mobil Terbaik Anda

Rp

Cara Otomatis

Untuk perhitungan otomatis, Anda tidak perlu kesulitan untuk melakukannya. Cukup masukkan data-datanya sesuai yang tertera. Mulai dari besaran gaji, tanggungan, bonus, jaminan kesehatan, dan lain sebagainya.

Anda bisa masuk ke aplikasi hitung pajak PPh 21 yang disediakan secara online. Aplikasi ini termasuk sangat sesuai. Beberapa komponen di dalamnya sudah sangat lengkap sehingga memudahkan dalam urusan perhitungan.

Cukup masukkan datanya, aplikasi ini yang akan menghitung secara otomatis sesuai perintah Anda. Menariknya, nilai keakuratannya jauh lebih baik ketimbang metode manual.

Kesimpulannya, penghasilan seseorang akan dikenai pajak bila melebihi batasan yang ditentukan pemerintah. Sekadar gambaran jika penghasilan hanya di angka Rp4,5 juta, seseorang tidak akan dikenai PPh. Tapi bila gajinya di atas angka tersebut perbulannya, pajak akan diberlakukan lantaran penghasilan melebihi batasan.

Comments are closed.