Jangan Salah, Inilah Cara Hitung Zakat Profesi yang Benar

All About Money

Mau mengeluarkan zakat profesi tapi tidak tahu hitungannya? Jangan khawatir. Begini cara menghitung yang benar.

Salah satu tema menarik saat ini yang banyak diperbincangkan adalah terkait dengan zakat profesi. Hal paling menarik berkenaan dengan zakat profesi ini tidak lepas dari ide besar dalam hal menjembatani jurang sosial dalam kewajiban beribadah melalui zakat.

Memangnya apa itu zakat profesi? Sejenis zakat yang dikenakan pada setiap jenis pekerjaan maupun keahlian profesional tertentu, dilakukan sendiri atau bersama dengan pihak atau lembaga lain. Dan kesemuanya itu mampu mendatangkan penghasilan atau uang yang halal serta sudah mencapai nisab, yakni batas minimum wajib zakat.

Beberapa contoh dari zakat penghasilan seperti halnya pejabat, pegawai baik yang negeri maupun swasta, dosen, advokat, dokter, seniman, dan pekerjaan-pekerjaan lain yang sejenis.

Pertanyaan yang paling mendasar sebenarnya adalah bagaimana terkait dengan ketentuan hukumnya?

Banyak perbedaan pendapat antar ulama fiqh berkenaan dengan hukum zakat penghasilan. Mayoritas ulama madzhab empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali) justru tidak mewajibkan zakat penghasilan pada saat menerima kecuali jika sudah mencapi nisab dan sudah ada satu tahun (haul).

Tapi para ulama mutaakhirin seperti halnya Syekh Muhammad Abu Zahro, Syekh Andurrahman Hasan, Syekh Yusuf Al Qardlowi, Syekh Abdul Wahhab Kallaf, Syekh Az-Zuhaili, hasil kajian majma fiqh, dan fatwa dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) nomor 3 tahun 2003 menegaskan jika zakat profesi hukumnya wajib.

Ketentuan tersebut mengacu pada pendapat dari sebagian Sahabat seperti Ibnu Masud, Ibnu Abbas, dan Mu’awiyah, para Tabiin seperti Al-Hasan Al-Bashri, Az-Zuhri, dan Makhul, juga pendapat dari khalifah Umar bin Abdul Aziz serta beberapa ulama fiqh lainnya.

Baca juga: Makna Iduladha Bagi Umat Islam dalam Kehidupannya

Selain itu juga bisa dijadikan bahan pertimbangan bahwa sangat tidak logis jika tidak mewajibkan kepada kalangan profesional seperti doker misalnya yang secara penghasilan perbulannya bisa melebihi penghasilan dari para petani dalam setahun.

Kemudian, jika Anda memilih untuk ikut pendapat para ulama yang mewajibkan zakat penghasilan, pertanyaannya kemudian adalah bagaimana cara mengeluarkannya? Dikeluarkan dalam bentuk penghasilan kotor (bruto) atau penghasilan bersih (neto). Dalam hal ini ada tiga wacana berkaitan dengan bruto dan neto yang bisa Anda jadikan sebagai bahan rujukan.

Zakat Profesi: Bruto ataukah Neto?

Berkenaan dengan cara mengelurkan zakat penghasilan, buku fiqih zakat karya dari Dr. Yusuf Qaradlawi, bab Zakat dan Penghasilan, dijelaskan mengenai cara mengeluarkan zakat penghasilan. Jika diklasifikasi ada tiga pendapat:

Pengeluaran Bruto Zakat Profesi

Pengeluaran bruto maksudnya adalah mengeluarkan zakat penghasilan kotor. Artinya zakat penghasilan sudah mencapai nisab 85 gram emas dalam jumlah setahun, dikeluarkan sebesar 2,5 persen langsung pada saat menerima sebelum dikurangi apa pun.

Artinya jika Anda memperoleh gaji dan penghasilan lainnya dalam sebulan mencapai Rp2 juta x 12 bulan = Rp24 juta. Berarti Anda langsung mengeluarkan 2,5 persen dari Rp2 juta setiap bulannya, yakni Rp50.000,00, atau Anda juga bisa membayarnya di akhir tahun sebesar Rp600.000,00.

Hal di atas tersebut diambil dari pendapat Az-Zuhri dan ‘Auza’i, beliau berdua menjelaskan jika seseorang memperoleh penghasilan lalu ingin membelanjakannya sebelum wajib zakat datang, sebaiknya ia segera mengeluarkan zakat terlebih dahulu sebelum membelanjakannya.

Selain itu juga dikiaskan dengan beberapa harta zakat yang langsung dikeluarkan tanpa dikurangi apa pun terlebih dahulu. Misalnya saja seperti zakat emas, perak, ternak, rikaz, dan ma’dzan.

Baca juga: Kartu Kredit Syariah: Pengertian Akad dan Keunggulannya!

Dipotong Operasional Kerja

Artinya setelah Anda menerima penghasilan gaji atau honor yang sudah mencapai nisab, dipotong terlebih dahulu dengan biaya operasional kerja. Misalnya saja seperti ini, Anda memperoleh gaji Rp2 juta dalam sebulan, dikurangi biaya transportasi dan konsumsi harian saat bekerja sebanyak Rp500.000,00, sisanya tinggal Rp1,5 juta. Maka zakat profesi yang Anda keluarkan adalah 2,5 persen dari Rp1,5 juta yakni Rp37.500,00.

Pendapat kedua ini dianaliogikan dengan zakat hasil bumi dan kurma serta sejenisnya. Bahwa biaya yang dikeluarkan lebih dahulu baru zakat dikeluarkan dari sisanya. Cara keduanya ini adalah pendapat dari Imam Atho’.

Pengeluaran Neto

Artinya zakat profesi dikeluarkan dari harta yang masih mencapai nisab setelah dikurangi untuk kebutuhan pokok sehari-hari. Mulai dari pangan, sandang, papan, utang, hingga kebutuhan pokok lainnya untuk keperluan dirinya, keluarga, dan juga yang menjadi tanggungannya.

Jadi jika penghasilan setelah dikurangi kebutuhan pokok masih mencapai nisab, maka seseorang tersebut wajib mengeluarkan zakat. Tetapi jika hartanya sudah tidak mencapai nisab maka seseorang tersebut sudah tidak lagi diwajibkan untuk membayar zakat penghasilan.

Sebab dalam hal ini dirinya bukan lagi menjadi muzakki, yakni orang yang berhak menerima zakat. Dan bahkan dirinya sudah berubah posisinya menjadi mustahiq, yakni orang yang berhak menerima zakat. Sebab dalam posisi itu, dirinya sudah menjadi miskin dengan tidak cukupnya penghasilan terhadap kebutuhan pokok sehari-hari.

Baca juga: Pengertian dan Jenis-Jenis Lembaga Keuangan Bukan Bank

Temukan Asuransi Mobil Terbaik Anda

Rp

Kesimpulannya adalah seseorang yang berpenghasilan halal dan sudah mencapai nisab, yakni 85 gram emas maka dirinya wajib mengeluarkan zakat profesi sebesar 2,5 persen. Boleh mengeluarkannya setiap bulan atau di akhir tahun.

Dan alangkah lebih baiknya jika zakat profesi dikeluarkan dari penghasilan kotor sebelum dikurangi kebutuhan yang lain. Hal seperti ini lebih utama (afdlal) karena kehati-hatian ada harta yang wajib dizakati tapi tidak mengeluarkannya.

Juga mengutip penjelasan dari Ibnu Rusd bahwasanya zakat itu ta’abbudi (bentuk pengabdian kepada Allah SWT.), bukan hanya sekadar hak mustahiq saja. Meskipun ada juga pendapat sebagian ulama fiqh yang memperbolehkan sebelum mengeluarkan zakat profesi dikurangi dulu dengan biaya operasional kerja atau kebutuhan pokok sehari-hari.

Comments are closed.