Sebelum Melakukan Cuci Darah, Ketahui Hal Ini Terlebih Dahulu!

Asuransi KesehatanHealth

Cuci darah idetik dengan pasien gagal ginjal. Jika Anda termasuk pasien yang menderita penyakit dan akan melakukan prosedur medis tersebut, sebaiknya ketahui hal-hal berikut ini.

Cuci darah atau nama medisnya dikenal dengan sebutan hemodialisis ini adalah salah satu pengobatan yang dilakukan untuk pasien yang ginjalnya sudah tidak berfungsi lagi. Sebab, fungsi ginjal yang seharusnya menyaring kotoran (terutama urea) dari darah dan membuangnya bersama dengan air dalam bentuk urin kini sudah tidak berfungsi lagi sehingga digantikan dengan pengobatan ini secara rutin.

Selama proses pengobatan ini berlangsung, darah akan dialirkan oleh mesin dari dalam tubuh pasien melalui saluran steril dan melewati membran dialisis khusus. Melalui membran tersebut, zat-zat sisa metabolisme tubuh akan dibuang dan ditampung di dalam cairan khusus.

Indikasi Cuci Darah

Cuci darah ini diperlukan bagi seseorang yang sudah menderita kerusakan ginjal yang berat sehingga fungsi-fungsi ginjal tidak dapat berjalan dengan baik. Pengobatan ini dapat memberikan kesempatan bagi penderita gagal ginjal untuk tetap menjalani aktivitas sehari-hari dengan baik.

Indikasi Cuci Darah

Dilansir dari Aldokter.com, cuci darah dilakukan pada penderita gagal ginjal, baik gagal ginjal akut maupun gagal ginjal kronis. Gejala-gejala gagal ginjal yang dapat diamati, antara lain adalah sebagai berikut.

  1. Munculnya gejala uremia, seperti gatal-gatal, mual, muntah, kehilangan nafsu makan, dan kelelahan.
  2. Tingginya kadar asam dalam darah atau asidosis.
  3. Munculnya pembengkakan pada bagian-bagian tubuh akibat ginjal tidak dapat membuang kelebihan cairan.
  4. Hiperkalemia atau tingginya kadar kalium dalam darah.
  5. Penyebab gagal ginjal kronis yang umumnya terjadi, antara lain adalah:
  6. Hipertensi
  7. Diabetes
  8. Peradangan pada ginjal (glomerulonefritis)
  9. Peradangan pada pembuluh darah atau (vaskulitis)
  10. Kista pada ginjal atau penyakit ginjal polikistik
  11. Ginjal juga dapat mengalami kerusakan secara tiba-tiba (akut) yang dapat disebabkan oleh komplikasi pasca pembedahan, serangan jantung, serta dehidrasi.

Baca juga: Apakah yang Dimaksud Asuransi Penyakit Kritis?

Risiko

Pencucian darah merupakan salah satu terapi medis yang efektif dalam menjaga kualitas hidup pasien penderita gagal ginjal. Akan tetapi, prosedur ini juga dapat menimbulkan risiko bagi pasien yang menjalaninya, yaitu sebagai berikut.

  1. Tekanan darah rendah
  2. Anemia
  3. Kram otot
  4. Kesulitan tidur
  5. Gatal-gatal
  6. Kadar kalium tinggi dalam darah
  7. Depresi
  8. Pericarditis (inflamasi membran di sekitar jantung)

Segera beri tahukan petugas kesehatan jika Anda mengalami gejala di atas atau merasa tidak nyaman selama prosedur berlangsung.

Penderita gagal ginjal yang menjalani dialisis dalam jangka waktu sangat lama juga memiliki risiko mengalami kondisi medis yang disebut dengan amyloidosis. Penyakit ini dapat terjadi ketika kadar protein amyloid yang diproduksi oleh sumsum tulang menumpuk pada organ-organ seperti jantung, ginjal, dan hati. Kondisi ini biasanya menyebabkan seseorang mengalami kaku dan nyeri sendi, serta pembengkakan pada sendi.

Persiapan

Persiapan melakukan pencucian darah dilakukan beberapa minggu sebelum prosedur ini pertama kali dilaksanakan. Pasien perlu dibuatkan akses pembuluh darah agar memudahkan darah untuk masuk dan keluar tubuh. Terdapat tiga jenis akses pembuluh darah yang bisa dibuat oleh dokter bedah pada tubuh pasien, yaitu sebagai berikut.

Fistula Arteri Vena (Cimino)

Cimino merupakan saluran buatan yang menghubungkan antara arteri dan vena, pada lengan yang lebih jarang digunakan. Cimino merupakan jenis akses yang paling sering disarankan karena keamanan dan efektivitasnya yang lebih baik dibanding jenis akses lainnya.

Persiapan Cuci Darah

Cangkok Arteri Vena

Cangkok arteri vena dilakukan dengan menyambungkan antara arteri dan vena dengan menambahkan selang sintetis fleksibel. Metode akses ini dilakukan jika pembuluh darah pasien terlalu kecil sehingga sulit untuk dibentuk fistula.

Kateter Hemodialisis

Terdapat dua jenis kateter yang digunakan sebagai akses pembuluh darah, yaitu sebagai berikut.

  1. Kateter Non Cuffed

Kateter non cuffed atau yang biasa disebut kateter double lumen, merupakan akses yang dibuat bagi pasien yang membutuhkan pengobatan ini dalam keadaan darurat. Dokter akan memasukkan kateter plastik steril ke dalam vena besar di leher atau di lipat paha. Kateter biasanya hanya bersifat sementara (kurang dari 3 minggu) dan akan diangkat ketika pasien sudah tidak diharuskan menjalani pencucian darah, atau sudah memiliki akses yang lebih permanen, seperti cimino.

  1. Kateter Cuffed (Tunnelling)

Kateter cuffed (tunnelling) merupakan kateter yang ditempatkan di bawah kulit lalu dihubungkan ke vena besar. Tergantung dari jenis kateter, tunnelling dapat bertahan hingga 1-2 tahun. Hal ini dilakukan bila cimino atau cangkok arteri-vena tidak dapat dilakukan atau belum siap digunakan.

Baca juga: Ciri-Ciri Asuransi Kesehatan Keluarga yang Bagus

Perlu diingat bahwa akses pembuluh darah ini harus dijaga tetap bersih, agar tidak menimbulkan infeksi dan komplikasi lainnya yang dapat membahayakan pasien dan mengganggu prosedur pengobatan ini .Selain persiapan akses, pasien juga akan diperiksa kemungkinan penyakit yang dapat tertular melalui darah, seperti hepatitis B, hepatitis C, dan HIV.

Prosedur

Prosedur Cuci Darah

Langkah pertama yang dilakukan dokter untuk memulai prosedur cuci pengobatan ini adalah memeriksa kondisi kesehatan tubuh pasien. Dokter dan perawat akan melakukan pemeriksaan fisik pasien seperti tekanan darah, suhu tubuh, dan berat badan. Setelah itu, akses pencucian darah yang sudah dibuat sebelumnya dibersihkan untuk pemasangan jarum. Dua buah jarum yang terhubung dengan selang pengobatan ini kemudian dipasang di titik akses yang sebelumnya sudah dibuat di tahap persiapan. Satu buah jarum akan mengalirkan darah ke mesin pencucian darah, sedangkan satu jarum lagi akan mengalirkan darah dari mesin ke dalam tubuh.

Baca juga: Alur Rekam Medis Rawat Jalan dan Inap di Rumah Sakit

Darah akan mengalir melalui selang steril tersebut menuju alat pengobatan ini . Kelebihan cairan tubuh beserta zat-zat sisa metabolisme akan dibuang setelah melewati membran khusus. Darah yang sudah mengalami proses cuci pengobatan ini kemudian dikembalikan ke tubuh menggunakan pompa khusus. Selama prosedur pengobatan ini dilaksanakan, pasien diperbolehkan untuk melakukan kegiatan santai, seperti menonton televisi, membaca, atau tidur, namun harus tetap berada di tempat tidur. Pasien dapat memberitahukan kepada dokter atau perawat terkait ketidaknyamanan yang dirasakan selama prosedur. Selama menjalanka pengobatan ini, dokter dan perawat akan memantau kondisi pasien secara berkala.

Prosedur pengobatan ini  biasanya berlangsung sekitar 2,5 sampai 4,5 jam, dan dilakukan 2-3 kali seminggu. Setelah pengobatan ini selesai, jarum akan dicabut dari lokasi akses pengobatan ini , dan bekas tusukan jarum ditutup rapat serta diikat kencang agar pasien tidak mengalami perdarahan. Untuk memastikan berapa banyak cairan yang dibuang, dokter dan perawat akan menimbang kembali berat badan pasien.

Comments are closed.