5 Persiapan Membangun Rumah

Biaya membeli rumah baru akan dapat direalisasikan jika ada perencanaan keuangan yang matang. Beberapa hal perlu disiapkan lebih detail. Apa saja?

Berita

Pada beberapa tahun belakangan ini, tren biaya membeli rumah baru tiap tahun terus meningkat. Menurut Ketua Umum Persatuan Perusahaan Real Estate Indonesia (REI) Eddy Hussy, rata-rata kenaikan harga properti setiap tahun mencapai 10-15 persen. Jika kemudian ada kenaikan bahan bakar minyak (BBM) dan upah minimum regional (UMR) di kabupaten atau kota tertentu, nilainya bisa bertambah lebih tinggi sekitar lima persenÊ(cnnindonesia.com, 20 November 2014).

Makin banyaknya permintaan perumahan juga turut membuat harga properti terus naik. Menurut data yang dilansir www.kompas.com pada 22 Februari 2015, salah satu komponen yang membuat harga rumah terus naik adalah ketersediaan lahan mentah atau lahan kosong. Disebutkan bahwa harga tanah termahal di luar Jakarta ada di daerah Alam Sutera, yang nilainya mencapai Rp16-21 juta per meter persegi. Berikutnya adalah tanah di BSD City yang mencapai Rp11-16 juta per meter persegi, Bekasi mencapai Rp8-9 juta per meter persegi, serta di Bogor pada kisaran Rp5-10 jutaan per meter persegi. Menilik kenaikan harga-harga tersebut, membeli rumah baru bisa jadi hanya tinggal harapan bagi mereka yang tidak punya pendapatan yang cukup untuk mengejar kenaikan harga properti.

Menurut Ketua Statistik Negara-Negara Islam Rusman Heriawan, pada tahun 2011 ada sekitar 22 persen penduduk atau 13 juta keluarga yang masih tinggal di daerah ilegal, rumah mertua, kontrak maupun menyewa rumah. (kompas.com, 1 Juni 2011) Namun jika menilik data BPS, pada tahun 2013 persentase jumlah kepemilikan rumah mencapai 79,47 persen (bps.go.id, 27 Maret 2015). Maka jika membandingkan dengan apa yang diungkap oleh Rusman Heriawan, selama tahun 2011 ke 2013 terdapat kenaikan kepemilikan rumah sendiri sekitar 1,47 persen. Meski naik, tapi jumlah tersebut tetap belum cukup. Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk yang membutuhkan rumah, jumlah ketersediaan rumah memang cenderung terbatas. Hal tersebut membuat harga rumah akan terus meningkat. Karena itu biaya membeli rumah baru akan jadi beban keuangan bagi mereka yang tak mempunyai perencanaan keuangan yang matang.

Selain membeli rumah baru, bagi Anda yang ingin memiliki rumah sebenarnya ada cara lain yang bisa ditempuh. Salah satunya yaitu dengan membeli dan memperbaiki rumah bekas. Menurut seorang kepala riset sebuah perusahaan konsultan properti Anton Sitorus, harga rumah bekas relatif lebih terjangkau (republika.co.id, 1 April 2015). Selain membeli rumah bekas, Anda juga bisa membeli tanah kavling untuk dibangun rumah sendiri. Hal ini seperti yang dilakukan oleh pasangan suami istri, Syaiful (51) dan Widyawati (40).

Saat pertama kali menikah, mereka tinggal di rumah pinjaman dari saudara. Namun karena tak ingin terus bergantung pada saudara, mereka mencanangkan untuk segera memiliki rumah sendiri. Untuk itu mereka berusaha menyiapkan segala hal terkait kebutuhan membangun rumah baru. Mulai dari mencari lokasi yang pas, membeli tanah, menyiapkan kontraktor untuk membangun rumah, mengurus perizinan, hingga menyiapkan dana yang dibutuhkan. Menurut mereka, hal yang paling perlu dipikirkan adalah soal pembiayaan. Karena bila tidak direncanakan dengan matang, biaya membangun rumah bisa mengganggu keuangan keluarga.

Langkah yang Diperlukan untuk Membangun Rumah Baru

Menurut kisah Syaiful dan Widyawati, membangun rumah baru harus disertai dengan perencanaan keuangan yang matang. Mereka mengaku sudah menyisihkan uang gaji mereka berdua setiap bulan selama tiga tahun pernikahan. Dari uang tersebut, mereka berhasil membeli sebidang tanah yang letaknya tak jauh dari tempat tinggal mereka sebelumnya. Dari hasil memiliki tanah tersebut, mereka pelan-pelan merencanakan untuk membangun rumah sendiri.

Anda juga bisa melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Syaiful dan Widyawati. Untuk itu ada beberapa hal yang perlu Anda persiapkan. Berikut beberapa di antaranya:

  • Menentukan lokasi yang sesuai

Banyak pakar properti menyebutkan salah satu hal penting yang harus diperhatikan saat akan membeli properti adalah faktor lokasi. Namun bagi Anda yang ingin memiliki rumah untuk ditempati dan bukan sebagai salah satu bentuk investasi, hal utama tentang lokasi yang perlu dipertimbangkan adalah manfaat yang diperoleh dari lokasi tersebut. Misalnya soal kedekatan dengan sarana transportasi. Hal tersebut akan membuat Anda lebih mudah mengakses jalur transportasi sehingga akan memperlancar mobilitas. Sebagai pertimbangan lain, pakar properti Panangian Simanungkalit dalam bukunya Menjadi Kaya Melalui Properti (Jakarta, Pusat Studi Properti Indonesia, 2011) menyebutkan setidaknya ada enam jenis tanah kavling untuk menentukan lokasi membangun rumah. Pertama adalah tipe kuldesak, yakni tanah yang lokasinya di jalan buntu; kedua adalah tipe interior lot yakni tanah yang berada di tengah-tengah perumahan; ketiga tipe corner lot yakni tanah yang berada di sudut atau hook; keempat tipe intersection lot, yakni tipe tanah model tusuk sate atau berada persis di depan pertigaan jalan; kelima tipe key lot yakni rumah yang berada di tengah-tengah kavling lain dan memanjang ke belakang sehingga seperti mengunci posisi tanah lainnya; keenam tipe flag lot atau tipe seperti bentuk huruf L atau bendera berkibarÊ(rumah.com, 25 Oktober 2012).

  • Memilih desain bangunan yang sesuai dengan kebutuhan

Mendesain rumah bukan semata urusan selera. Tetapi ada baiknya Anda melihat kebutuhan ke depan. Hal tersebut terkait dengan apakah rumah akan lebih banyak ditinggali atau hanya akan jadi tempat istirahat karena aktivitas lebih banyak di kantor. Pertimbangan lain misalnya apakah Anda ingin lebih banyak berinteraksi dengan keluarga atau ingin lebih punya banyak ruang privasi. Hal ini penting dipertimbangkan ke depan. Anda dapat berkonsultasi dengan arsitek dan ahli desain interior untuk memberikan sejumlah pandangan apa saja yang sesuai dengan kebutuhan Anda. Dari arsitekÊ Anda bisa memperoleh beberapa pandangan, misalnya apakah Anda butuh membangun rumah satu atau dua lantai untuk mengantisipasi bertambahnya jumlah anggota keluarga. Sedangkan dari ahli desain interior, Anda bisa bertanya desain seperti apa yang bisa memberi kenyamanan di rumah, misalnya mengatur tata lampu, warna ruangan, dan sebagainya. Menurut Amanda Talbot, penulis buku Happy: Creating Joyous Living Spaces Through Design, pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial. Karena itu ia menyarankan agar membangun rumah dengan salah satu ruangan yang bisa dipakai untuk berinteraksi dengan seluruh keluarga. Amanda juga menyarankan daripada menyediakan satu televisi di setiap kamar, lebih baik membeli sofa besar untuk aktivitas satu keluarga di sebuah ruang besar untuk keluargaÊ(dailytelegraph.com.au, 13 Desember 2014).

  • Mengurus perizinan bangunan

Saat Anda akan membangun rumah, hal yang tak boleh diabaikan adalah soal perizinan mendirikan bangunan. Dalam Peraturan Pemerintah No. 36 Tahun 2005 tentang Peraturan Pelaksanaan UU No. 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung, disebutkan bahwa setiap orang yang ingin mendirikan bangunan harus memiliki izin mendirikan bangunan (IMB) yang diberikan oleh pemerintah daerah setempat. Untuk mendapat IMB, Anda harus memiliki tanda bukti status kepemilikan hak atas tanah yang akan dibangun, menunjukkan rencana teknis bangunan, dan memiliki analisis dampak lingkungan bangunan yang biasanya ditunjukkan dengan izin dari tetangga setempatÊ(hukumonline.com, 3 Desember 2012).

  • Bekerja sama dengan pihak yang akan membangun rumah

Saat mulai membangun rumah, Anda perlu bantuan tukang yang bisa mewujudkan rencana rumah menjadi rumah dalam bentuk jadi. Biasanya, untuk menyeleksi pihak yang akan membangun rumah, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan, utamanya terkait dengan dana yang harus dibayarkan kepada kontraktor. Di Indonesia kita mengenal ada sistem tukang dengan model bayaran harian, sistem borongan jasa, dan sistem boron
gan kontrak. Menurut direktur dari sebuah perusahaan kontraktor Sherly Surya Handoyo, jika ingin menyewa tukang harian di wilayah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi), harganya berkisar Rp100-150 ribu sehari. Kemudian untuk borongan jasa tenaga tukang, biasanya sekitar Rp600-800 ribu per meter persegi. Sedangkan jika dengan model borongan kontraktor, biayanya sekitar Rp3-5 juta per meter persegiÊ(rumah.com, 21 Juli 2014).

  • Menyiapkan anggaran yang sesuai

Untuk kebutuhan membeli tanah dan membangun rumah, Anda perlu disiplin menyisihkan uang. Seperti yang dilakukan Syaiful dan Widyawati, mereka menabung gaji mereka setiap bulan selama tiga tahun untuk mewujudkan keinginan memiliki rumah sendiri. Perencanaan keuangan memang perlu disiapkan sejak dini jika ingin membangun rumah. Perencana keuangan Prita Ghozie menyebutkan bahwa ia punya pengalaman selama dua tahun menabung untuk membeli tanah. Kemudian selama tujuh tahun berikutnya ia bersama keluarga tinggal di rumah orang tua sembari mengumpulkan uang untuk membangun rumah. Selama tujuh tahun menyimpan dana untuk membangun rumah tersebut, Prita mengatakan ia menyimpan uangnya dalam bentuk logam mulia. Selain itu ia juga menginvestasikan dalam bentuk reksa dana campuran yang agresif dengan perkiraan imbal hasil sebesar 15% per tahunÊ(pritaghozie.com, 1 November 2012). Meski begitu perlu disadari bahwa investasi pada produk yang agresif tidak bisa dilakukan semua orang. Untuk menyimpan dana sesuai dengan tujuan keuangan seorang investor harus menyadari adanya risiko pada investasinya serta sadar adanya kemungkinan rugi atau tertundanya hasil investasi karena berbagai perubahan nilai investasi.

Semoga dengan beberapa perencanaan terkait membangun rumah tersebut, Anda akan bisa segera memiliki rumah impian sendiri. Sebarkan artikel ini kepada relasi Anda melalui fitur jejaring sosial. Bagikan juga pengalaman Anda seputar membangun rumah di kolom di bawah ini.

Leave a Reply