7 Wonder Women yang Pernah Mengguncang Dunia

Berita

Tidak harus dengan senjata, menjadi wonder women juga bisa dilakukan dengan pemikiran dan gagasan tajam. Keduanya justru lebih ampuh menggerakan orang lain untuk melakukan perubahan.

Wanita sering dikaitkan dengan kemunduran dan kelemahan. Tak pelak ini memunculkan stigma bahwa wanita tak punya jiwa untuk memajukan sesama. Nyatanya, di dunia ini banyak kaum hawa yang berhasil melakukan perubahan besar bagi banyak orang. Bukan dengan kekerasan melainkan dengan pemikiraannya yang tajam. Mereka adalah perempuan yang pandangannya mampu menggerakan masyarakat dunia.

Mereka menulis buku yang merevolusi pandangan masyarakat tentang masyarakat, membuat penemuan ilmiah yang memberikan sumbangsih dalam ilmu kedokteran dan membawa hukum baru yang mengguncang peradaban. Setidaknya ada tujuh wonder women di dunia ini yang mampu mengubah dunia untuk sebuah kemajuan.

7 Wonder Women yang Mengguncang Dunia

Harriet Beecher Stowe, Penulis dengan Kampanye Anti-perbudakan

Stowe sangat aktif dalam bidang penulisan, khususnya sastra.  Karya-karayanya sangat mendalam dan berisi pemikiran yang tajam. Novelnya yang paling laris berjudul Uncle Tom’s Cabin yang dicetak 1852 membantu mempopulerkan gerakan anti-perbudakan. Novel ini berkisah tetang kehidupan seorang budah berkulit hitam, Uncle Tom, dan bagaimana dunia memandangnya.

Menurut catatan, ini adalah buku terlaris kedua setelah Alkitab di abad ke-19. Katanya, buku ini menyulut perang saudara di Amerika yang melibatkan masyarakat anti-perbudakan dengan pendukung perbudakan kulit hitam. Karena karya ini pula Stowe pernah diundang ke gedung putih oleh presiden Amerika Serikat, mendiang Abraham Lincoln.

Baca juga: Sosok Wanita Gagah Berani, Pahlawan Nasional Indonesia

Emmeline Pankhurst, Aktivis Hak Perempuan

wonder women dari seluruh dunia

source: theindependent.co.uk

Emmeline Pankhurst yang berkerwarganegaraan asli Inggris ini mendirikan Serikat Sosial dan Politik Perempuan (WSPU), sebuah kelompok yang dikenal dengan bentuk-bentuk protes ekstremnya seperti merantai diri mereka sendiri ke pagar dan melakukan mogok makan.

“Kami di sini, bukan karena kami adalah pelanggar hukum; kami berada di sini dalam upaya kami untuk menjadi pembuat undang-undang,” katanya selama sidang pengadilan pada tahun 1908.

Sayangnya Pankhurst tidak pernah hidup untuk melihat mimpinya menjadi kenyataan. Ia meninggal tiga minggu sebelum undang-undang disahkan memberi perempuan hak pilih yang sama dengan laki-laki. Namun aksi-aksi besarnya ini memicu aktivitas serupa dibelahan Inggris lain. Tak heran ia menjadi wonder women wanita Inggris kala itu.

Anne Frank, Penulis Buku Harian Holocaust

wonder women modern

“Apa yang dilakukan tidak dapat dibatalkan, tetapi orang dapat mencegahnya terjadi lagi” – “Buku Harian Gadis Muda” Anne Frank.

Kebijaksanaan dan kecerdasan anak sekolah Yahudi, Anne Frank yang berusia 13 tahun, tampak dari buku harian yang ditulis ketika bersembunyi di Amsterdam selama Perang Dunia Kedua. Buku iniadalah salah satu buku yang paling banyak dibaca di dunia dengan lebih dari 30 juta eksemplar terjual.

Kisah hidupnya di bawah pendudukan Jerman adalah catatan yang kuat yang telah diterjemahkan ke dalam 67 bahasa dan diadaptasi untuk film dan teater, dengan rumahnya sendiri berubah menjadi museum.

Frank meninggal di kamp konsentrasi Bergen-Belsen pada 1945, hanya beberapa minggu sebelum dibebaskan. Meski buku tersebut hanya berupa jurnal harian, namun penampakannya ke dunia memberikan dorongan bari masyarakat untuk mendesak dihapuskannya kekerasan kepada warga Yahudi yang kala itu dilakukan oleh pemerintah Nazi. Frank sudah menjadi wonder women sebelum kematiannya datang.

Simone de Beauvoir, filsuf dan penulis “The Second Sex”

Tokoh perempuan yang menjadi filsuf kenaam di Paris ini mulai melejit namanya pada tahun 1949. Yakni ketika salah satu karyanya  “The Second Sex” menjadi karya feminis yang menonjol pada abad itu. Buku ini menganalisis perlakuan dan persepsi perempuan sepanjang sejarah, dan dianggap sangat kontroversial sehingga Vatikan mengkategorikannya sebagai indeks buku-buku Terlarang.

Maklum, isinya memang tidak sejalan dengan hukum-hukum perempuan yang diterapkan Vatikan kala itu. Apalagi, saat itu agama masih jadi dasar kehidupan masyarakat sehingga sangat memengaruhi kekuasaan dan politik negara.

“Semua penindasan menciptakan keadaan perang; ini tidak terkecuali (penindasan pada perempuan),” kata De Beauvoir, yang bersama dengan rekannya Jean Paul Sartre yang juga merupakan salah satu pemikir paling berpengaruh abad ke-20.

Baca juga: Mengenal James Riady, Sosok Sukses di Balik Lippo Group

Rosalind Franklin, Ilmuwan yang Membantu Memahami DNA

wonder women dari seluruh dunia

source: newscientist.com

Pada 1962 dunia heboh dengan penemuan baru, yakni ditemukannya struktur DNA manusia yang menjadi awal ilmu pengetahuan tentang eksistensi dan keberadaan manusia di muka bumi. Kala itu Francis Crick, James Watson, dan Maurice Wilkins dianugerahi Nobel dalam bidang Fisiologi atau Kedokteran untuk pekerjaan mereka pada model DNA. Namun ada satu orang yang tidak sempat mengecap jerih payahnya selama berjuang di laboratorium.

Ia adalah Rosalind Franklin, salah satu perempuan hebat yang berkontribusi terhadap pemahaman struktur DNA. Saat itu ia tidak menerima pengakuan penuh dari para pemberi Nobel atas keterlibatannya dalam penelitian. Setelah ia meninggal karena kanker ovarium pada tahun 1958 pada usia 37 tahun, barulah prestasinya diakui dunia.

Billie Jean King, Petenis Legenda yang Memenangkan 39 gelar Grand Slam

Nama Jean King mungkin lebih dikenal karena sebuah pertandingan panas berjuluk “The Battle of Sexes” melawan Bobby Riggs pada tahun 1973. King yang berusia 29 tahun berkacamata mengalahkan Riggs yang berusia 55 tahun di depan 50 juta penonton televisi di seluruh dunia. Pertandingan itu pula menasbihkan Jean sebagai petenis wanita yang meraih gelar Grand Slam Terbanyak. Dia kemudian membentuk Asosiasi Tenis Wanita (Women’s Tennis Association) dan telah banyak menyumbang hadiah uang untuk para petenis wanita di dunia.

Wangari Maathai, mendirikan Green Belt Movement

Wangari, tokoh yang merupakan aktivis politik Kenya ini mendirikan Green Belt Movement pada tahun 1977 dalam upaya untuk memberdayakan perempuan pedesaan yang mengeluhkan kekurangan air bersih, pasokan makanan yang berkurang dan sulitnya akses untuk mendapatkan makanan yang diakibatkan karena perubahan iklim.

Akhirnya gerakan ini menyebar ke seluruh dunia. Wangari akhirnya bekerja sama dengan PBB untuk berkampanye ke seluruh dunia tentang perubahan iklim.

“Ketika kita menanam pohon, kita menanam benih perdamaian dan harapan,” kata Wangari Maathai, pencinta lingkungan yang memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian 2004.

Itulah 7 perempuan revolusioner yang pernah mengguncang dunia dengan pemikirannya. Perempuan mungkin tak punya energi sebesar pria yang mampu berjuang di garda depan. Namun bukan berarti tak bisa berperang. Pemikiran dan gagasan yang tajam justru bisa menjadi senjata ampun yang mengguncang dunia untuk melakukan perubahan.

Menjadi pahlawan perempuan sejatinya tak harus kuat secara fisik. Mari kita lakukan hal-hal baik meskipun kecil. Karena bisa saja hal kecil yang baik itu berdampak besar bagi kehidupan orang lain.

Baca juga: Mengenal BJ Habibie: dari Prestasi Hingga Mobil Mewahnya

Comments are closed.