Airbus A380 Berhenti Mengudara Setelah 12 Tahun

Berita

Setelah 12 tahun mengudara Airbus A380 menyatakan pensiun pada 2021 mendatang. Merosotnya pembelian dan mahalnya ongkos produksi jadi alasan Airbus menghentikan pesawar berjulu super jumbo tersebut.

Kabar mengejutkan datang dari dunia penerbangan internasional ketika Airbus mengumumkan akan berhenti memproduksi Airbus A380 pada 2021 mendatang. Pesawat yang masuk kategori double decker ini terbelit kasus keuangan yang memaksa produksinya dihentikan. Padahal sudah satu dekade terakhir pesawat berjuluk superjumbo tersebut menemani penerbangan domestik dunia.

Carut marut keungan Airbus ini sebenarnya sudah terendus sejak lama. Biaya produksi yang mahal namun tak diimbangi dengan ketersediaan konsumen yang cukup jadi alasan mengapa Airbus selalu merugi. Selain itu ada sejumlah faktor lain yang memaksa A380 harus berhenti mengudara, namun hal tersebut harus kita singkap dari sejarah kelahirannya:

airbus a380

Sejarah Kelahiran Airbus A380

Jauh sebelum Airbus A380 lahir sebenarnya ada A 300Byang lebih dulu diluncurkan dipasar penerbangan komsersial. Selama tahun 1970-an, Airbus A300B adalah anak baru di dunia pesawat komersial. Perusahaan pengadaan pesawat terbang Prancis ini berusaha masuk ke pasar yang didominasi oleh jumbo jet Boeing 747 dengan membangun A300B yang dinilai bisa menjadi leader baru.

Baca juga: Kelas Pesawat, Fasilitas, dan Bedanya di Garuda Indonesia

Saat itu Boeing 747 jadi primadona karena selain biaya operasinya yang relatif rendah, ukuran body dan kinerjanya juga sangat mendukung untuk perjalanan udara yang dapat dijangkau massa. Namun proyek ini dianggap belum memenuhi ekspektasi para petinggi Airbus. Hingga akhirnya pada awal 1990-an, Airbus kembali melahirkan pesawat baru yaki A320 yang berbadan sempit, yang membantu merintis teknologi fly-by-wire. Pesawat inipun jadi jetliner terlaris kedua dalam sejarah.

Tak puas hanya dengan itu, lahirlah  A340. Kedua jet menawarkan alternatif yang layak untuk Boeing 767 dan 777 berbadan lebar. Namun Airbus menetapkan target yang lebih besar. Mereka ingin menghasilkan pesawat terbang yang bahkan lebih besar daripada jumbo jet terbaru Boeing , namun dengan biaya pengoperasian yang lebih rendah. Tercetuslah konsep double-decker yang disebut A3XX, yang dimasa depan menjadi Airbus A380.

Pesawat Termahal Didunia

A380 dibangun di pabrik perakitan 1,6 juta kaki persegi di markas Airbus di Toulouse. Dengan panjang 239 kaki, tinggi 79 kaki, dan 262 kaki dari ujung sayap ke ujung sayap memasukannya dalam kategori pesawat besar. Hanya satu pesawat yang dapat menyainginya dalam segi ukuran yakni Boeing 747-8 yang lebih panjang, dengan ketinggian 250 kaki dan dua inci. Tapi A380 tetap lebih unggul karena punya daya angkut penumpang lebih banyak.

Menurut Airbus, dalam pengaturan tempat duduk empat kelas yang khas, superjumbo dapat mengangkut sebanyak 544 penumpang, dengan jangkauan lebih dari 9.400 mil. Dalam konfigurasi kepadatan tinggi, A380 disertifikasi untuk mengangkut sebanyak 868 penumpang – 538 di dek utama, 330 di lantai atas.

Tenaga untuk A380 berasal dari kuartet mesin dari pemasok Rolls-Royce dan Engine Alliance. Awak pesawat A380 beroperasi dari kokpit kaca yang canggih. Seperti semua jet Airbus modern, pesawat diterbangkan dengan sistem kontrol fly-by-wire. Dengan banderol harga $ 445,6 juta atau sekitar Rp 6 Triliun (kurs 2019), A380 adalah salah satu pesawat paling mahal dan mewah yang pernah dibuat. Dengan kapasitas 800 penumpang,

Mulai dibuka Umum pada 2007

interior airbus a380

Setelah penerbangan perdananya, Airbus A380 menyelesaikan program uji terbang sebelum memasuki layanan komersial pada tahun 2007. Pesawat ini menyajikan kemewahan dan kenyamanan yang belum pernah diberikan oleh penerbangan manapun didunia, seperti keberadaan fitur bar mewah didalam pesawat, private lounge dan juga kamar mandi superbesar dengan kolam dan pancuran.

Maskapai-maskapai besar seperti Emirates dan Singapore Airlines menggunakan pesawar ini untuk pelanggan kelas suite. Pada 15 Oktober 2007, Singapore Airlines menerima pengiriman A380 produksi pertama. Kemudian diikuti oleh sejumlah maskapai besar lain seperti Korean Airlines, Lufthansa, Qantas, British Airways, Malaysia Airlines, Thai Airways, Air France dan Qatar Airways.

Namun dari sekian banyak maskapai adalah Emirates yang memesan hampir setengah dari produksi pesawat Airbus A380 yakni 123 dari 274 pesanan.

Sebab Airbus Hentikan Produksi A380

Airbus A380 berada dititik nadirnya ketika pelanggan terbesarnya Emirates mengubah strategi pemasaran. Mereka tak lagi mau membeli pesawat besar dengan opersional mahal, sebaliknya pesawat-pesawat kecillah yang jadi pilihan. Emirates secara berkala terus menurunkan jumlah pesanan untuk A380, sebaliknya mereka justru menaikkan pesanan untuk pembelian Airbus A330 dan A350 yang punya body lebih kecil.

Opti ini kemudian diikuti juga oleh maskapai besar lain yang turun menghentikan pesanan. Boeing 777 lebih mereka sukai karena dianggap lebih efisien dari biaya operasional, sehingga harga yang dijual bisa dijangkau lebih banyak massa. Ada dua alasan besar mengapa para maskapai kian pindah haluan.

Baca juga: Jangan Salah! Ini Panduan Cara Naik Pesawat yang Benar

Pertama, biaya operasional Airbus A380 ini hampir dua kali lipat dari pesawat besar lainnya. menghabiskan hampir $ 30.000 bahan bakar setiap jam saat dalam penerbangan. Bandingkan ini dengan efisiensi Boeing 787-9, dengan biaya sekitar $ 15.000 per jam.

Akibatnya untuk memaksimalkan pendapatan, pesawat perlu mengisi penuh kursi mereka. Namun tak mungkin juga 800 kursi penuh mengingat fasilitas mewah yang ditawarkannya membutuhkan biaya tinggi. Alhasil para maskapai akhirnya memberi  insentif dengan diskon dan promosi. Tapi pada akhirnya justru sulit mencapai target pendapatan, terutama pada saat ekonomi sedang buruk – bahkan lebih banyak kursi kosong atau penerbangan dibatalkan. Ini berbeda dengan pesawat kecil yang lebih mudah diisi dan kurang peka terhadap penurunan ekonomi.

Kedua, karena tidak ada keuntungan selama 12 tahun diproduksi. Bagi Airbus, tidak ada untung satu dolar pun yang dihasilkan setelah 12 tahun produksi yang panjang untuk pabrikan Eropa. Terlepas dari daftar harga sekitar $ 400 juta dolar, Airbus harus terpaksa menjual pesawat super jumbonya itu dengan penurunan harga hampir setengahnya.

CEO Airbus Tom Enders memastikan pihaknya akan menghentikan produksi A380 pada 2021 mendatang. Sebab merosotnya jumlah penjualan mengindikasikan pesawat ini sudah tak punya harapan. Dibanding mempertahankan pihaknya menilai penghentian produksi lebih masuk akal untuk menyelamatkan perusahaan.

Diakuinya Airbus telah menggelontorkan 563 juta dollar AS dana untuk menutupi berhentinya proses produksi A380, sebagian dana tersebut dipinjam dari pemerintah. Beruntung di tahun 2018, Airbus masih membukukan keuntungan yang besar, setidaknya 30% lebih besar dibanding tahun sebelumnya. Diharapkan ini bisa menutupi sejumlah hutang yang belum Airbus bayar selama memproduksi A380.

Comments are closed.