Amalgamasi dan Dampaknya Bagi Masyarakat

BeritaLifestyle & Leisure

Proses amalgamasi selain meredam konflik seringkali juga melahirkan konflik baru. Dominasi dan kepentingan ras adalah pemicu utamanya.

Kata amalgamasi mungkin masih asing ditelinga, terutama bagi masyarakat awam. Maklum, istilah ini memang terlalu ilmiah karena masih dalam rumpun ilmu pengetahuan sosiologi. Namun, amalgamasi justru tidak bisa dipisah jauh dari kita, karena sudah menjadi bagian dari hidup warga Indonesia yang terdiri dari banyak budaya.

Pernah mendengar Afro-Amerika? Kata ini merujuk pada anak hasil campuran ras Afrika dan Amerika. Nah inilah yang dimaksud dengan amalagamasi. Yakni percampuran dua budaya atau ras yang menghasilkan komunitas baru. Meski terbilang unik nyatanya pencampuran ini melahirkan dampak negatif yang tidak sedikit. Mari kita kupas persoalan amalgamasi ini mulai dari definisi hingga dampaknya.

Baca juga: 5 Wisata Budaya di Jogjakarta

Definisi Amalgamasi

Sebenarnya amalgamasi ini mirip dengan proses asimiliasi, dimana sebuah budaya melebur dengan budaya lain. Tapi beda dengan asimilasi, amalgamasi dalam prosesnya sering memicu konflik entah karena perbedaan budaya maupun kepentingan. Terutama karena setiap budaya dan ras selalu ingin lebih mendominasi,

contoh amalgamasi

Ilmu sosiologi sendiri menafsirkan amalgamasi sebagai fenomena sosial yang meleburkan dua kelompok budaya menjadi satu sehingga melahirkan budaya baru. Selain itu proses ini juga akan menghancurkan konflik kepentingan dalam sebuah kelompok (meski nyatanya tidak selalu begitu). Salah satu contoh yang paling dekat dengan kita adalah pernikahan antara suku Jawa dan Sunda.

Di dalam bukunya, Narwoko dan Suyanto hanya menafsirkan bahwa amalgamasi merupakan syarat interaksi sosial yang bisa menjadi sebagai solusi untuk meredam pertentangan serta perselisihan yang terjadi dalam suatu kelompok masyarakat.

Meski bertujuan menjadi sebuah solusi atas timbulnya konflik, pada kenyataannya proses peleburan ini justru sering melahirkan konflik baru. Banyak pakar menilai proses penggabungan dua kebudayaan berbeda bukanlah jalan keluar utama untuk menyelesaikan sebuah percekcokan, terutama jika menyangkut perebutan wilayah atau kekuasaan.

Asal-usul Lahirnya Istilah Amalgamasi

Istilah ini pertama kali lahir di Nigeria pada 1914. Kala itu Nigeria diisi oleh entitas politik dengan banyak keragaman yang membuat sistem pemerintahannya terpecah-pecah. Ada Protektorat Selatan, Protektorat Utara dan Koloni Lagos semuanya memiliki gaya pemerintahan mereka sendiri yang terpisah. Struktur regional ini berarti hukum yang berbeda berlaku di Protektorat dan di Koloni Lagos.

Protektorat dan Koloni Lagos cukup mandiri dan memerintah mereka dengan undang-undang yang berbeda terbukti cukup tugas. Namun berbeda dengan dua pemerintahan lain yang menyulitkan Inggris (pada saat itu menguasai Nigeria). Akhirnya pemerintah Inggris mengupayakan penggabungan tiga pemerintahan ini dan lahirlah istilah amalgamation (dalam ejaan Inggris). Pemerintahan pun dapat berjalan lebih teratur dan mudah dikuasai oleh kolonial.

Baca juga: Fakta Unik Mongolia, Country of Blue Sky

Pencetusnya adalah Sir Frederick Lugard, yang kala itu ditunjuk Inggris menjadi Gubernur Jenderal Nigeria. Diakui Lugard gagasan menggabungkan berbagai bagian negara Nigeria itu sebenarnya sudah terbesit dalam pikirannya sepuluh tahun sebelum ia menjabat. Sebagai Komisaris Tinggi Nigeria Utara, Lugard memperhatikan kesukuan yang terlalu terkotak-kotak yang mengakibatkan banyaknya penundaan pelaksanaan kebijakan nasional.

Dampak Positif

Proses peleburan berbagai budaya ini diakui mendatangkan dampak positif bagi masyarakat yang terlibat, berikut diantaranya:

Revolusi dan Inovasi Budaya

pengertian amalgamasi

Adanya pernikahan antara dua ras atau etnik yang berbeda, melahirkan budaya baru dengan sistem atau aturan yang lebih moderen dan fleksibel, sesuai perkembangan zaman dan kebutuhan untuk meleburkan konflik yang ada. Budaya baru adalah sesuatu yang positif karena bisa jadi membentuk pribadi atau generasi yang lebih baik, lebih bijak dan menerima perbedaan.

Karena generasi tersebut lahir dari banyak perbedaan, pada saat mendatang ketika bertugas sebagai pengambil keputusan mereka akan memikirkan banyak kepentingan ras, bukan hanya golongannya sendiri saja.

Konflik Menurun

Ketika dua budaya menjadi satu, maka keduanya akan dituntut untuk saling mengerti dan menghargai untuk menciptakan kondisi yang stabil. Misalnya dengan sama-sama mencari jalan tengah dalam menyelesaikan persoalan. Masyarakat yang terlibat dalam peleburan budaya akan mau duduk berdiskusi, sementara yang tidak mau berasimilasi akan lebih memilih jalan keras seperti perang.

Belajar Budaya Lain

Karena asimilasi ini setiap warga dapat saling mempelajari budaya baru. Ini akan sangat menyenangkan karena masyarakat dapat berpikir lebih luas seiring dengan pemikiran mereka yang penuh. Belajar budaya lain artinya ada kemauan untuk saling mengerti atau menghargai tindakan seseorang karena sesuatu. Misalnya mengapa sebuah adat mengadakn ritual pesta panen sementara yang lain tidak. Pertukaran ini jelas sesuatu yang tak terpisahkan dari penggabungan dua ras.

Dampak Negatif

Sayangnya, peleburan dua budaya meski awalnya bertujuan meredam konflik biasanya itu hanya bersifat sementara. Karena akan ada konflik lain yang muncul akibat dari peleburan yang terkesan dipaksakan tersebut. Berikut adalah beberapa dampak negatifnya:

Dominasi Satu Budaya

Faktanya pelerburan ras dan budaya seringkali melahirkan budaya baru yang kemudian tidak menyatu secara utuh. Dalam tiap prosesnya kerapkali ada budaya yang harus mengalah dan sebagian lagi mendominasi. Menguasai setiap sendi kehidupan terutama yang berkaitan dengan kekuasaan negara. Tentunya ini akan memunculkan keretakan baru yang bisa memicu adanya pemisahan kembali antar budaya.

Ketimpangan jumlah penduduk

Biasanya mereka yang melakukan pencampuran antar ras punya tujuan sendiri, yakni mendominasi budaya yang ada. Mereka pun akan berupaya untuk mengawinkan kerabatnya dengan ras-ras lain untuk memperluas kekuasaan. Akibatnya, seringkali jumlah penduduk mereka lebih besar dan mendominasi sebagian wilayah.

Hilangnya budaya asli

Mungkin yang paling ditakutkan dari proses asimilasi budaya adalah hilangnya rumpun asli, karena terlalu banyaknya pernikahan campuran. Sebuah negara yang kaya akan adat dan budaya seringkali kehilangan jati diri karena lahirnya budaya baru, biasanya lebih moderen. Adat mulai dilupakan dan anak cicit merekapun tidak akan tahu darimana mereka berasal. Namun karena hilangnya budaya asli ini pula sebuah negara akan lebih damai karena semua masyarakat punya satu kepentingan yang sama.

Baca juga: Kota Casablanca: Wujud Nyata Budaya Kolonial Prancis

Contoh dalam Masyarakat

mengenal amalgamasi

  • Pernikahan antara etnis Jawa dengan Betawi yang melahirkan kebudayaan Jawa dan Betawi.
  • Pernikahan campuran atau beda agama misalnya Islam dan kristen. Anak hasil pernikahan beda agama biasanya menjalani sembahyang yang beragam.
  • Produk budaya yang merupakan gabungan dari dua budaya, seperti musik tanjidor yang mengandung budaya Betawi, Tionghoa, dan Eropa di dalamnya.
  • Lahirnya bahasa Indonesia untuk meleburkan bahasa daerah
  • Pernikahan ras Afrika dan Amerika yang menghasilkan ras baru yakni Afro-Amerika

Comments are closed.