Apa Itu PSBB dan Hal Apa Saja yang Dibatasi?

Berita

PSBB resmi diberlakukan di wilayah Jakarta pada tanggal 10 April  dan diperpanjang hingga 22 Mei 2020. Hal ini dilakukan pemerintah dengan beberapa peraturan yang mengikat dan pembatasan sebagai antisipasi penyebaran virus corona.

Semenjak virus corona atau COVID-19 menyerang Indonesia, pemerintah terus melakukan berbagai cara untuk mencegah penularan. Mulai dari social distancing hingga menerapkan PSBB atau Pembatasan Sosial Berskala Besar yang sudah secara resmi akan diberlakukan di wilayah Jakarta pada tanggal 10 April 2020. Kebijakan ini menuai pro dan kontra. Tidak sedikt yang setuju dan banyak juga yang kecewa dengan kebijakan ini. Lalu, langkah apa saja yang dilakukan pemerintah dalam penerapan PSBB di Jakarta?

Baca juga: Sudah Terapkan Cara untuk Cegah Virus Corona?

Mengenal Sekilas Mengenai PSBB

Sebelum adanya kebijakan ini, pemerintah sudah melakukan himbauan untuk seluruh rakyat Indonesia. Himbauan tersebut di antaranya memakai masker dan menerapkan social distancing atau physical distancing. Adanya himbuan ini diharapkan penyebaran virus corona dari satu orang ke orang lain bisa dihindari.

Hanya saja, banyak orang yang tidak bisa menerapkan hal tersebut. Ini bisa dilihat dari banyaknya orang dari daerah pendemi, seperti Jakarta yang justru pulang kampung. Hal ini disebabkan mereka tidak lagi bisa mencari uang di Jakarta. Mau tidak mau, mereka harus pulang ke kampung. Namun, efek negatifnya dari hal ini adalah mereka yang ternyata positif terinfeksi virus corona tapi tidak memiliki gejala bisa menularkan orang lain di kampung halaman. Akibatnya, kota lain, selain Jakarta, juga terkena imbas dari virus ini.

Melihat perkembangan sosial yang terjadi seperti sekarang, dikeluarkanlah kebijakan berupa PSBB ini lebih dianggap sebagai strategi pemerintah pusat yang melakukan sinergi dengan pemerintah daerah dalam mencegah penularan virus COVID-19. Adanya kebijakan ini, pemerintah daerah tidak boleh menerapkan kebijakan yang berbeda dengan pemerintah pusat.

PSBB ini berbeda dengan lockdown karena tidak menutup semua kegiatan atau aktivitas sosial. Tentu langkah ini sudah dipikirkan dan dianggap sebagai kebijakan yang tepat dengan kondisi masyarakat Indonesia. Sebab, masih banyak masyarakat pencari nafkah harian, seperti ojek online, penjual siomay, dan lain sebagainya yang harus tetap berada di luar rumah.

Selain itu, PSBB juga diterapkan agar rakyat kecil yang sudah tidak punya penghasilan di kota masih bisa pulang kampung. Hanya saja, ketika di kampung, ada prosedur yang harus dipatuhi. Inilah yang diinginkan oleh pemerintah pusat, yaitu sinergi kebijakan dan visi yang sama antara pusat dan daerah untuk mencegah penyebaran virus corona.

Dalam menerapkan PSBB, ada beberapa kegiatan yang dibatasi. Artinya, aktivitas bisa dilakukan, tapi ada juga yang tidak boleh dilakukan. Kebijakan ini harus diterapkan di berbagai daerah di seluruh Indonesia yang terkena imbas dari virus corona, terutama daerah yang memiliki kasus positif corona.

Baca juga: Situs Informasi Penyebaran Corona di Indonesia dan Dunia, Cek Yuk!

Apa Saja yang Dibatasi Ketika PSBB Diberlakukan?

Pada intinya, kebijakan yang diterapkan pemerintah pusat bersama dengan pemerintah daerah ini ditujukan untuk menurunkan potensi penularan. Maka dari itu, beberapa aktivitas akan dibatasi di daerah yang menerapkan kebijakan ini.

pembatasan sosial psbb

Sumber: Covid19.go.id

Apa saja yang dibatasi?

1. Pembatasan Kegiatan di Fasilitas Umum

Apa yang dimaksud dengan fasilitas umum? Fasilitas umum ini terkait dengan tempat makan, mall, dan lain sebagainya. Selama masa Pembatasan Sosial Berskala Besar diterapkan, masyarakat dilarang berkumpul di tempat-tempat publik seperti itu. Jika melanggar, maka ada teguran tegas dan sanksi dari petugas.

2. Pembatasan Kegiatan Pendidikan

Sebelum adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar, sebenarnya sekolah sudah diliburkan. Kegiatan belajar mengajar sudah dilakukan secara online. Namun, ketika PSBB ini diterapkan, maka kegiatan belajar mengajar secara online diperpanjang.

3. Pembatasan Kegiatan Sosial dan Budaya

Kegiatan sosial seperti acara pernikahan tidak boleh dilakukan selama masa Pembatasan Sosial Berskala Besar. Pasangan yang ingin menikah bisa melakukan proses ijab kabul terlebih dahulu. Namun, acara resepsi tidak akan diijinkan. Resepsi bisa dilaksanakan nanti setelah wabah corona berakhir.

4. Pembatasan Moda Transportasi

Ada banyak orang yang bertanya apakah moda transportasi akan dilarang beroperasi? Masih beroperasi. Hanya saja, jumlah moda transportasi yang beroperasi dibatasi. Selain itu, jumlah penumpang di dalam satu kendaraan juga dibatasi agar penumpang satu dengan penumpang lainnya tidak terlalu berdekatan. Pada intinya, yang diinginkan adalah adanya physical distancing agar penularan COVID-19 tidak terjadi.

5. Pembatasan Kegiatan Keagamaan

Sudah ada edaran dari MUI (Majlis Ulama Indonesia) mengenai himbauan untuk tidak melakukan shalat jamaah di masjid. Hal ini juga sesuai dengan kebijakan pemerintah dengan menerapkan PSBB.

Jadi, ada perbedaan yang begitu signifikan antara lockdown dengan Pembatasan Sosial Berskala Besar. Jika lockdown, maka kegiatan benar-benar dibatasi. Sementara itu, kebijakan ini lebih menitik-beratkan pada kebijakan setiap orang bisa melakukan physical distancing. Instrumennya bermacam-macam, mulai dari pembatasan kegiatan sosial, budaya, pendidikan, dan lain sebagainya seperti yang sudah dijelaskan di atas.

Baca juga: Dua Jenis Tes Corona yang Dilakukan Indonesia, Cari Tahu Perbedaannya!

Tempat Kerja yang Masih Beroperasi Saat PSBB

Salah tahu daerah yang sudah positif menerapkan kebijakan ini adalah Jakarta. Itu artinya beberapa perkantoran harus tutup. Karyawan diharuskan work from home atau bekerja dari rumah.

perusahaan yang buka saat psbb

Namun, ada beberapa tempat kerja yang masih boleh beroperasi. Misalnya saja instansi milik pemerintah yang harus memberikan pelayanan yang terkait dengan keamanan dan ketahanan. Begitu juga dengan instansi kesehatan, seperti puskesmas dan rumah sakit.

Bagaimana dengan sektor bisnis swasta? Ada beberapa kantor yang tetap boleh buka. Contohnya saja sektor transportasi umum. Memang jumlah armada yang beroperasi dibatasi. Namun, itu bukan berarti semua transportasi umum dilarang beroperasi.

Bahkan, masih diperbolehkan juga bus antar kota atau provinsi beroperasi. Hanya saja, selain dibatasi, jumlah penumpang yang boleh berada di dalam bus harus sedikit. Harus dipastikan ada space kosong antar penumpang sehingga physical distancing bisa dilakukan.

Toko, minimarket, bank, pom bensin, dan juga ekspendisi masih boleh beroperasi di saat PSBB diberlakukan. Jadi, ini sesuai dengan keinginan pemerintah, yaitu sebisa mungkin melakukan pembatasan sosial tanpa harus mematikan ekonomi negara.

Lalu, apakah ini benar-benar kebijakan yang tepat? Setiap orang memiliki pendapat masing-masing. Namun yang perlu diingat, pemerintah ingin menyeimbangkan antara upaya menekan penyebaran virus corona dengan tetap menjaga stabilitas ekonomi dalam negeri.

Pembatasan sosial yang dilakukan oleh pemerintah dianggap sebagai kebijakan yang adil. Mereka para pekerja kantoran tetap bisa bekerjatdari rumah. Begitu juga dengan guru dan murid yang tetap melaksanakan kegiatan belajar mengaja secara online.

Sementara itu, mereka yang harus bekerja di luar rumah tetap bisa bekerja dengan lebih tenang. Karena di moda transportasi, mereka tidak akan berdesak-desakan. Diharapkan ini bisa menurunkan risiko penularan COVID-19 sembari memberikan waktu kepada tenaga medis untuk menyembuhkan mereka yang sudah positif corona.

Sumber foto: Tribunnews.com

Comments are closed.