Kronologi Macetnya Polis Asuransi Jiwasraya

Berita

Berlabel asuransi pelat merah, Asuransi Jiwasraya mengalami kebangkrutan akibat tak mampu membayar polis nasabah, apa penyebabnya?

Anda yang melek dalam dunia asuransi, pasti sudah tahu betul mengenai peristiwa yang terjadi pada Asuransi Jiwasraya. Ternyata bukan hanya instrumen investasi saja yang mengenal kata risiko. Tapi yang produk asuransi pun demikian, ada potensi risiko uang lenyap karena klaim macet.

Hal inilah yang dialami para nasabah Asuransi Jiwasraya, baik WNI maupun WNA. Seperti yang banyak diberitakan media massa, diketahui setidaknya warga asing dari Korea Selatan saja ada 474 orang yang gagal mencairkan dana asuransinya.

Baca juga: Memahami Asuransi Jiwa Unit Link Secara Mendalam

Mereka tidak bisa mengambil uangnya yang ditaruh dalam produk bancassurance bernama JS Proteksi Plan milik Jiwasraya. Produk bancassurance JS Plan Jiwasraya ini dipasarkan oleh tujuh bank, yakni:

  • BTN
  • BRI
  • Bank ANZ
  • Bank Standard Chartered
  • Bank KEB Hana Indoneisa
  • Bank Victoria
  • Bank QNB Indonesia

macet asuransi jiwasraya

Tak tanggung-tanggung, nilai total polis macet yang tak mampu dibayarkan oleh pihak Jiwasraya ini mencapai sekira ratusan miliar rupiah. Bagi Anda yang belum mengetahui mengenai kronologis dan sepak terjang asuransi ini, berikut informasinya untuk Anda.

Sekilas Kronologi Macetnya Pembayaran Klaim Asuransi Jiwasraya

Sejatinya, seretnya pembayaran klaim asuransi dari Jiwasraya ini sudah terjadi di mana pihak perusahaan Jiwasraya mengumumkan menunda pembayaran kewajiban polis yang jatuh tempo. Kasus ini terungkap pertama kali dari laporan nasabah Jiwasraya pada Oktober 2018. Nilai keterlambatan pembayaran polis jatuh tempo di produk bancassurance waktu itu mencapai Rp802 miliar.

Kala itu, para nasabah masih menerima perpanjangan polis yang jatuh tempo hingga setahun ke depan. Akan tetapi, kenyataan memang tak selalu seindah harapan. Selang setahun, ternyata polis jatuh tempo yang diperpanjang itu pun tak kunjung bisa dicairkan. Alhasil, para nasabah perusahaan Jiwasraya ini pun menempuh berbagai cara agar uangnya bisa kembali ke tangan, mulai dari mengadukannya ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK), ke Kementerian Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), hingga ke Komisi VI DPR-RI.

Kondisi Keuangan Jiwasraya

Setidaknya jumlah pembayaran polis dan pokok serta bunga dari produk Jiwasraya yang sudah jatuh tempo dengan total kewajiban harus dibayarkan ke para nasabah saat ini mencapai sekira Rp16,3 triliun.

Sementara itu jumlah aset Jiwasraya terhitung per kuartal III-2019 hanya sebesar Rp25,6 triliun, sedangkan utang Jiwasraya mencapai Rp49,6 triliun. Artinya perusahaan asuransi milik BUMN ini minus Rp23,92 triliun antara total ekuitas atau selisih aset dan kewajibannya.

Per September 2019, Jiwasraya dinyatakan tak mampu lagi menopang kerugian yang menyentuh angka Rp13,74 triliun, karena premi (dana dari nasabah) yang masuk tergerus untuk pembayaran bunga jatuh tempo dan pokok polis nasabah.

Produk Asuransi Bancassuance Jiwasraya

Kasus macetnya pembayaran klaim para nasabah Jiwasraya, yang merupakan perusahaan asuransi di bawah Kementerian BUMN ini tentunya mengundang tanya dan penasaran tentang apa itu produk asuransi bancassurance.

masalah asuransi jiwasraya

Umumnya asuransi dikenal sebagai produk perlindungan bagi pemegang polis dan uang yang dibayarkan sebagai premi akan hangus bila tak ada klaim karena memang tidak membutuhkannya selama jadi anggota. Tentu, produk asuransi tidak hanya satu atau dua macam saja, tapi ada banyak jenis produk asuransi lainnya. Salah satunya adalah produk asuransi bancassurance.

Baca juga: Ketahui Hal Ini Sebelum Membeli Asuransi Mobil Syariah

Produk asuransi yang satu ini dikenal sebagai produk perlindungan sekaligus bisa digunakan sebagai tabungan karena sifatnya yang sebagai produk investasi. Saat jatuh tempo, premi yang dibayarkan tiap bulannya bisa diambil beserta keuntungan dari bunganya.

Tak heran bila produk bancassurance ini juga disertai dengan imbal hasil (return) dari premi yang dibayarkan. Besar bunga produk ini pun bervariatif untuk menarik calon nasabah mau menempatkan dananya atau membeli produk asuransi sekaligus berinvestasi.

4 Kesalahan Utama Jiwasraya

Hampir semua perusahaan jasa keuangan pasti mengelola dana nasabahnya di berbagai instrumen investasi. Jadi, perputaran dana inilah yang disebut pengelolaan dana nasabah untuk memberikan hasil atau keuntungan seperti yang dijanjikan pada nasabah. Jiwasraya dinilai memiliki empat kesalahan utama yang membuat kinerjanya negatif, yakni:

Kesalahan Pembentukan Harga Produk (mispricing)

Bunga dari produk Saving Plan Jiwasraya 9-13% dan guranteed return yang lebih tinggi dari pertumbuhan IHSG serta bunga obligasi.

Lemahnya Prinsip Kehati-hatian dalam Berinvestasi

Menempatkan investasi pada risiko tinggi, yakni 22% di saham tapi yang ditempatkan di LQ45 (saham liquid) hanya 5%. Lalu 59% ditempatkan pada reksa dana, tapi yang dikelola top tier manajer investasi Indonesia hanya 2%.

Ada Rekayasa Harga Saham (window dressing)

Terdapat dugaan jual-beli saham dengan dressing reksa dana, dengan modus Jiwasraya membeli saham overprice lalu dijual dengan harga negosiasi ke manajer investasi untuk kemudian dibeli lagi oleh Jiwasraya.

Ada Tekanan Likuiditas dari Produk Saving Plan Jiwasraya

Disebutkan, gagal bayar yang menerpa Jiwasraya membuat kepercayaan nasabah turun. Akibatnya, Jiwasraya kesulitan mendapatkan dana segar dari calon nasabahnya.

Jiwasraya Lakukan Pengajuan Modal pada Pemerintah

Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XI DPR RI dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Jiwasraya meminta suntikan dana dari pemerintah sebesar Rp32 triliun untuk memperbaiki likuiditas perusahaan. Pengajuan kucuran dana itu untuk membayar polis jatuh tempo.

polis asuransi jiwasraya

Biasanya, perusahaan berstatus milik negara mendapat kucuran modal dari pemerintah dalam bentuk PMN (Penyertaan Modal Negara). Namun, tidak semua BUMN mendapatkan dana segar sebagai modal tambahan dari negara.

Sebut saja PT PLN (Persero), PT Hutama Karya (Persero), PT Geo Dipa Energi (Persero), PT BPUI (Persero), PT PNM (Persero), PT PANN (Persero), dan PT SMF (Persero), yang rencananya bakal mendapatkan suntikan modal dari pemerintah pada 2020.

Ada kriteria dan syarat tertentu bagi BUMN untuk bisa mendapatkan kucuran modal dari pemerintah, di antaranya:

  • Terkait mendorong pembangunan infrastruktur
  • Mendorong kedaulatan energi
  • Bergerak pada kedaulatan pangan
  • Program kelangsungan kredit usaha rakyat (UMKM)

Oleh karena itu, Direktur Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan, Isa Rachmawati, mengaku tidak ada opsi penyertaan modal negara kepada Jiwasraya. Akan tetapi pemerintah menyiapkan opsi penyelamatan Jiwasraya bersifat Business to Business (B to B).

Baca juga: Jangan Asal Pilih Asuransi Mobil. Ketahui Jenisnya

Status perusahaan pelat merah pun tak menjamin segala sesuatunya bakal baik-baik saja. Contoh nyatanya, gagal bayar polis oleh Jiwasraya, kepada para nasabahnya ini pun jadi buktinya. Sebelum menjatuhkan pilihan produk asurani maupun investasi, sebaiknya pelajari dan pahami produknya juga kinerja perusahaannya. Tetap berhati-hati menentukan produk asuransi terbaik ya!

Comments are closed.