Tip Mengajukan KPR Syariah dengan Mudah

Berita

KPR syariah memiliki keunggulan, antara lain jumlah cicilan tetap selama periode pinjaman dan uang muka yang lebih ringan. Namun, disisi lain KPR dengan skema syariah ini seringkali dibanderol dengan margin tinggi yang cukup memberatkan.

Memiliki rumah adalah impian setiap orang. Namun, harga rumah yang selalu naik menjadi kendala bagi beberapa pihak yang memiliki keterbatasan dana. Beruntungnya ada Kredit Pemilikan Rumah yang ditawarkan perbankan di Indonesia. Umumnya ada dua jenis KPR yang ditawarkan, yakni KPR Konvensional dan KPR Syariah.

KPR Konvensional menerapkan suku bunga yang fluktuatif, tapi tetap bersaing. Sementara KPR syariah menawarkan pinjaman dengan bunga dan cicilan tetap hingga pinjaman selesai. Inilah yang membuat KPR syariah menjadi primadona dalam beberapa tahun terakhir.

Baca juga: 7 Kiat Menciptakan Rumah Milenial

KPR syariah didasarkan pada syariat islam, yang memberi pinjaman tanpa bunga atau riba. Sehingga debitur dapat memperhitungkan pengeluaran bulanan yang lebih terukur karena tidak adanya kenaikan cicilan seperti KPR Konvensional. KPR syariah adalah pilihan utama bagi mereka yang menghindari ketidakpastian cicilan.

Namun, selain itu Anda juga harus memikirkan proteksi yang tepat untuk rumah Anda. Asuransi properti menjadi salah satu alternatif yang bisa memberikan proteksi untuk rumah atau properti Anda. Ada banyak manfaat yang bisa Anda dapatkan. Seperti santunan jika terjadi kebakaran, ledakan bom, dan risiko lainnya

KPR Syariah dan Ragam Akad yang Ditawarkan

KPR Syariah dan Ragam Akad

Meski sistem yang digunakan berbeda, tapi manfaat yang ditawarkan KPR dengan skema syariah ini sama dengan KPR konvensional. Sama-sama menuntut adanya margin (keuntungan) untuk bank dan membebankan biaya administasi.

Bedanya, dalam KPR dengan skema syariah semua pinjaman didasarkan pada akad yang dipilih. Umumnya ada 3 jenis akad yang ditawarkan oleh perbankan berikut pemaparannya.

Murabahah

Akad yang satu ini merujuk pada jenis pembayaran kredit yang mengusung konsep jual beli, yang ditentukan dari margin. Besar margin ini harus disepakati oleh kedua belah pihak diawal masa pinjaman dan tidak akan berubah hingga pembayaran kredit rumah lunas. Murabahah adalah jenis pembayaran KPR syariah yang paling banyak dipilih nasabah karena paling mudah di implementasikan.

Musyarakah Mutanaqishah

Kalau akad yang satu ini merujuk pada pinjaman dengan skema kerja sama antara bank dan debitur. Jadi bank dan nasabah sama-sama membiayami sebuah barang dengan kepemilikan untuk dua pihak. Namun dengan seiring berjalannya waktu kepemilan barang tersebut akan jatuh kepada pihak nasabah, dengan catatatn nasabah telah membayarkan kewajiban cicilan. Namun skema ini mengundang resiko, karha harga barang bisa berubah sewaktu-waktu.

Baca juga: Biaya Membangun Rumah Minimalis 2 Lantai

Ijarah Muntanhia Bittamlik

Jenis pinjaman yang sering disingkat IMBT ini sebenarnya jarang sekali ditemui di produk perbankan syariah tanah air. IMBT ini dijalankah dengan skema sewa=beli. Konsep pembayaran mirip dengan musyarakah mutanaqishah, yakni dengan sistem sewa-beli. Jadi bank memberikan pembiayaan KPR dengan catatan selama masa pembayaran nasabah dianggap sebagai penyewa. Diakhir masa sewa, debitur bisa menentukan untuk membli rumah atau membiarkan rumah tersebut tetap mejadi milik bank.

Tips Mengajukan KPR Syariah

Tips Mengajukan KPR Syariah

Banyak debitur merasa bahwa margin yang ditetapkan oleh perbankan untuk kredit perumahan syariah ini sangat tinggi. sehingga sangat memberatkan cicilan. Namun sebenarnya hal itu bergantung pada cara dan strategi kita dalam mengjukan KPR syariah. Jika tak ingin terjebak pada margin terlalu tinggi, simak tips mengajukan KPR syariah dibawah ini:

Pilih Akad Sesuai Kondisi Keuangan

Sebenarnya prinsip KPR syariah adalah membeli rumah dari developer dan menjualnya kembali ke nasabah. Bank mengambil keuntungan dari laba penjualan yang bisa dibayarkan oleh nasabah dengan mencicil. Namun pada praktiknya ada banyak skema pembiayaan yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan Anda. Setiap perbankan juga menggunakan prinsip yang berbeda. Jadi Anda harus mencari tahu lebih dulu bank mana saja yang menawarkan metode pembayaran paling mendekati harapan Anda.

Penuhi Persyarakat Uang Muka 20%

Jika bank konvensional menetapkan uang muka sebesar 30% dari harga rumah. Maka Anda bisa mendapatkan keringanan lebih besar karena umumnya KPR dari perbankan syariah ini boleh diajukan dengan uang muka 20% saja. Jika dapat memenuh kriteris ini maka proses akad jual beli dapat dilanjutkan.

Lakukan Perbandingan

Sama seperti KPR konvensional, perbankan syariah juga akan menyeleksi setiap calon debitur. Jika tidak memenuhi persyaratan mereka kemungkinan besar pengajuan Anda akan ditolak. Karena itu jangan mengandalkan pembiayaan dari satu bank saja. Namun cobalah ajukan pinjaman ke berbagai perbankan syariah. Kemudian bandingkan mana yang menurut Anda menawarkan pinjaman terbaik.

Tips Mengajukan KPR Syariah

Pilih Rumah yang Sudah Jadi

Banyak developer yang menawarkan pembangunan rumah dengan system indent, paling tidak selama 6 bulan. Namun KPR syariah ini dikenal cukup selektif memilih pembiayaan, dan lebih membuka tangan untuk pinjaman dengan rumah yang sudah jadi atau setidaknya sudah memasuki pembangunan setidaknya 50%. Akan sulit bagi Anda mendapatkan kredit jika posisi rumah belum dibangun.

Cari Rumah dengan Harga Reasonable

Perlu diketahui bunga untuk kpr dengan pembiayaan syariah biasanya lebih besar dibandingkan kpr konvensional, bahkan bisa mencapai dua kali lipatnya. Sebelum Anda mengajukan pinjaman sebaiknya sudah menyadari kesanggupan pembayaran cicilan. Jangan membeli rumah dengan harga yang cicilannya melebihi dari 40% pemasukan bulanan jika tak ingin pengajuan auto ditolak.

Syarat-Syarat Mengajukan KPR Syariah

Setiap perbankan memiliki kebijakan berbeda untuk para calon nasabahnya yang ingin mengajuka kredit pembiayaan rumah dengan skema syariah. Namun secara umum berikut adalah persyaratan umum dan dokumen yang wajib dipenuhi:

  • Warga Negara Indonesia (WNI) yang dibuktikan dengan KTP atau Paspor
  • Memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP)
  • Usia minimum 21 tahun dan maksimal 55 tahun saat masa akhir pelunasan
  • Foto 3×4 yang berwarna (suami dan istri jika sudah menikah)
  • Fotokopi Kartu Keluarga (KK)
  • Fotokopi Surat Nikah (jika yang sudah menikah)
  • Fotokopi Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)
  • Fotokopi rekening koran selama 3 bulan terakhir
  • Slip gaji yang asli
  • Surat keterangan bekerja
  • Fotokopi rekening listrik dan telepon
  • Fotokopi legalitas rumah yang akan dibeli
  • Fotokopi Izin Mendirikan Bangunan (IMB)
  • Sertifikat Hak Milik (SHM) asli

Baca juga: Tip Membeli Perabotan di Toko Furniture

Itulah beberapa persyaratan umum dan dokumen yang biasanya diminta ketika mengajukan KPR syariah di lembaga perbankan. Ingatlah selalu siapkan dana tambahan setidaknya hingga 20% dari plafon pinjaman sebagai dana darurat. Sebab proses pembelian, properti juga sering memakan buget yang tidak sedikit untuk urusan biaya administrasi.

Comments are closed.