Letusan Gunung Berapi Terbesar Dunia, Dua di Indonesia

Berita

Letusan gunung berapi pernah mencatatkan sejarah sebagai salah satu bencana alam terparah di dunia. Bahkan, dua di antaranya terjadi di Indonesia.

Gunung merupakan salah satu mahakarya Tuhan yang ada di bumi. Tinggi dan megahnya gunung di berbagai negara di dunia terkadang menjadi sebuah kebanggaan masyarakatnya. Tapi, sayangnya tak semua gunung seindah bentuknya. Tak sedikit dari gunung yang ada di dunia saat ini yang masuk dalam daftar gunung berapi.

Artinya, gunung tersebut berpotensi meletus dan menjadi bencana alam di daerah atau wilayah sekitarnya. Letusan gunung berapi merupakan hal yang tak terhindarkan bagi orang-orang yang tinggal di kawasan gunung berapi. Mungkin, kita pernah mendengar bahwa saat gunung api meletus, masyarakat dievakuasi sejauh beberapa kilometer dengan alasan keselamatan, tergantung seberapa besar letusannya.

Tapi, letusan gunung berapi beberapa kali masuk dalam daftar bencana alam terbesar di dunia, bahkan hingga saat ini. Letusan tersebut dianggap terlalu dahsyat, berdampak sangat luas serta menelan banyak korban jiwa. Tahukah Anda letusan gunung berapi apa saja yang dimaksud? Ini dia!

Baca juga: Fakta Menarik Seputar Gunung Fuji, Sudah Tahu?

Letusan Gunung Berapi Terbesar di Dunia

Letusan Gunung Tambora

Dalam sejarah dunia, letusan gunung berapi terbesar yang tercatat adalah Gunung Tambora, sebuah stratovolcano aktif (gunung berapi yang terbentuk dari lapisan alternatif lava dan abu) di pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Ketika meletus dengan dahsyat pada April 1815, besar letusan ini masuk ke dalam skala tujuh Volcanic Explosivity Index (VEI), dengan jumlah semburan tefrit sebesar 1,6 × 1011 meter kubik.

Karakteristik letusannya menyebabkan terjadinya aliran piroklastik (hasil letusan gunung berapi yang bergerak dengan kecepatan 700 kilometer/jam dan terdiri dari gas panas, abu vulkanik, dan bebatuan), korban jiwa, kerusakan tanah dan lahan, tsunami dan runtuhnya kaldera. Letusan ini juga memengaruhi iklim global dalam waktu yang lama. Aktivitas dari Gunung Tambora baru berhenti pada tanggal 15 Juli 1815.

Peristiwa ini menyebabkan kematian hingga tidak kurang dari 71.000 orang, dengan 11.000 hingga 12.000 di antaranya terbunuh secara langsung akibat dari letusan tersebut. Suara guruh letusan terdengar di Makassar, Sulawesi (380 kilometer dari Gunung Tambora), Jakarta di Jawa (1.260 kilometer dari Gunung Tambora), dan Ternate di Maluku (1400 kilometer dari Gunung Tambora).

Pancaran cahaya langit senja berwarna oranye kemerahan muncul di dekat ufuk langit London, Inggris, antara tanggal 28 Juni dan 2 Juli 1815. Lalu pada 3 September dan 7 Oktober 1815, cahaya itu berubah jadi merah muda keunguan.

Tsunami besar menerjang beberapa pantai di Indonesia pada 10 April 1815. Tsunami setinggi lebih dari 4 meter terjadi di Sanggar, tsunami setinggi 1 hingga 2 meter di Besuki (Jawa Timur) dan tsunami setinggi 2 meter di Maluku.

Pada musim semi dan musim panas 1816, sebuah kabut kering terlihat di Timur Laut Amerika Serikat. Kabut tersebut memerahkan dan mengurangi intensitas cahaya matahari. Baik angin atau hujan tidak dapat menghilangkan selubung yang diidentifikasikan sebagai kabut aerosol sulfat stratosfer.

Pada musim panas tahun 1816, negara di Belahan Bumi Utara menderita karena kondisi cuaca yang berubah, disebut sebagai “Tahun Tanpa Musim Panas”. Temperatur normal dunia berkurang sekitar 0,4 hingga 0,7 derajat Celcius dan menyebabkan permasalahan di sektor pertanian dunia.

Pada tanggal 4 Juni 1816, cuaca dingin dilaporkan melanda Connecticut, Amerika Serikat, dan dan pada hari berikutnya, hampir seluruh New England diselimuti oleh suhu dingin ekstrem. Pada 6 Juni 1816, salju turun di Albany, New York, dan Dennysville, Maine.

Kondisi itu menyebabkan gagal panen di Amerika Utara dan Kanada. Salju setebal 30 centimeter terjadi di dekat kota Quebec dari tanggal 6 sampai 10 Juni 1816. Inilah krisis pangan terparah abad ke-19. Sementara itu, letusan kecil Gunung Tambora terjadi pada 1880 dan 1967. Aktivitas seismik terdeteksi pada 2011, 2012, dan 2013.

Baca juga: Ini Daftar Gunung Tertinggi di Indonesia

Letusan Gunung Krakatau

Setelah 200 tahun “tidur”, Gunung Krakatau yang berada di antara Pulau Sumatra dan Jawa ini bergeliat. Pada Senin, 27 Agustus 1883, tepat jam 10.20, gunung ini meletus.

Menurut Simon Winchester, ahli geologi lulusan Oxford University di Inggris mengatakan bahwa letusan Gunung Krakatau mencatatkan nilai Volcanic Explosivity Index (VEI) terbesar dalam sejarah modern. Suara ledakan terdengar sampai 4.600 kilometer dari gunung dan bahkan dapat didengar oleh 1/8 penduduk bumi saat itu.

Ledakan Krakatau telah melemparkan batu-batu apung dan abu vulkanik dengan volume 18 kilometer kubik hingga ke Singapura. Benda-benda yang berhamburan ke udara itu jatuh di dataran Pulau Jawa dan Sumatera bahkan sampai ke Sri Lanka, India, Pakistan, Australia, dan Selandia Baru menurut situs Volcano World milik Oregon State University.

Tercatat jumlah korban tewas mencapai 36.417 orang, berasal dari 295 kampung kawasan pantai mulai dari Merak di kota Cilegon hingga Cilamaya di Karawang, Pantai Barat Banten hingga Tanjung Layar di Pulau Panaitan (Ujung Kulon serta Sumatera bagian Selatan.

Tsunami setinggi 40 meter pun muncul, menghancurkan desa-desa dan segala sesuatunya yang berada di pesisir pantai. Gelombang laut ini timbul bukan hanya karena letusan Gunung Krakatau, tetapi juga longsoran bawah laut.

Di Ujung Kulon, tsunami menyapu daratan hingga 15 kilometer ke arah barat. Keesokan harinya sampai beberapa hari kemudian, penduduk Jakarta dan Lampung pedalaman tidak bisa melihat matahari. Gelombang tsunami yang ditimbulkan bahkan merambat hingga ke Pantai Hawaii, Pantai Barat Amerika Tengah dan Semenanjung Arab yang jauhnya 7.000 kilometer dari Selat Sunda. Sementara itu, debu yang tersisa di atmosfer menghalangi sinar matahari dan sedikit menurunkan suhu global, termasuk di New York, Amerika Serikat.

Baca juga: Palung Laut Terdalam di Bumi, Ada di Asia Juga!

Satu Asuransi untuk
Semua Destinasi Liburan

Pilih Asuransi Perjalanan di Sini!

Letusan Gunung Pelee

Gunung Pelee merupakan gunung berapi semi aktif yang berada di pesisir utara Pulau Martinique, Prancis. Gunung dengan ketinggian 1.379 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini menjadi tenar karena meletus dengan dahsyat pada Mei 1902.

Sebelum meletus, sejumlah “peringatan alam” muncul, di antaranya serangga-serangga dan gerombolan ular keluar dari sarangnya di kaki gunung. Hewan-hewan ini mulai menyerbu kota, menurut Earth Magazine. Selain itu, para pendaki mencatat adanya kemunculan gas sulfur yang mengepul dari kawah gunung. Namun hal ini dianggap sebagai fenomena alam yang biasa, karena memang kerap terjadi.

Para 23 April, Gunung Pelee mulai menampakkan aktivitas yang lebih intens. Warga sekitar mulai merasakan getaran dari bawah tanah. Dua hari setelahnya, Gunung Pelee memuntahkan material vulkaniknya, seperti bebatuan dan asap pekat.

Keesokan harinya, wilayah gunung mulai diselubungi asap vulkanis, namun penduduk masih saja tak menganggap hal ini sebagai sebuah pertanda. Pemerintah juga menegaskan bahwa tidak akan terjadi apa-apa dengan gunung tersebut, sehingga warga bisa melanjutkan aktivitas mereka.

Memasuki bulan Mei, aktivitas Gunung Pelee mulai meningkat. Muncul beberapa kali dentuman keras yang terdengar hingga puluhan kilometer, disusul gempa bumi berskala kecil dan asap pekat yang membumbung tinggi ke udara hingga menutupi hampir sebagian besar wilayah.

Binatang-binatang liar mulai mati kelaparan dan kehausan, karena sumber air dan makanan mereka terkontaminasi abu vulkanik. Sehari sebelum kejadian, tepatnya sekitar pukul 04.00 waktu setempat, Gunung Pelee semakin parah. Puncaknya, pada 8 Mei 1902, gunung ini akhirnya meletus dengan hebat.

Ledakan raksasa tersebut menghasilkan awan hitam, lahar panas, dan bebatuan besar yang mengubur kota Saint Pierre, hanya dalam beberapa menit. Sebanyak 30.000 orang dilaporkan meninggal, sebagian besar karena mati lemas dan terbakar akibat terkena letusan.

Delapan belas kapal yang sedang berlabuh di dermaga juga ikut hancur, beserta dengan kru yang berada di dalamnya. Minimnya pengetahuan warga dan pemerintah yang terbatas kala itu, tidak ada satu pun orang yang menganjurkan agar orang-orang dievakuasi. Hanya sebagian kecil masyarakat yang mengungsi ke perkotaan.

Comments are closed.