Mengenal Mansa Musa Orang Terkaya di Dunia Sepanjang Sejarah

Berita

Mansa Musa menjadi orang yang sangat disorot dunia karena kekayaan yang berlimpah dan fakta menarik lainnya di dalam kehidupannya. Apa saja itu?

Orang terkaya di dunia merupakan suatu julukan yang sangat bergengsi dan hampir seluruh orang di dunia ingin menyandangnya. Sudah banyak nama-nama yang masuk ke dalam daftar orang terkaya di dunia. Forbes 2019 baru-baru ini merilis daftar nama orang terkaya di dunia dan pendiri Amazon Jeff Bezos menjadi orang terkaya di dunia saat ini dengan kekayaan yang dimiliki senilai kurang lebih USD131 miliar Rp1,87 kuadriliun.

Di balik itu, rupanya kekayaan yang dimiliki Jeff Bezos masih jauh dibandingkan dengan Raja Musa I dari Mali, yang disebut sebagai orang terkaya sepanjang sejarah. Dilansir dari Merdeka.com yang melansir juga dari Business Insider, Time menyebutkan kekayaan Musa I tak bisa dikalahkan oleh orang terkaya manapun, baik yang tercatat maupun tidak. “Tidak ada hitungan angka pasti mengenai jumlah kekayaan Musa,” ujar penulis Time Jacob Davidson.

Mansa Musa (Mansa yang berarti raja atau sultan) memerintah Mali pada abad ke-14. Di mana, wilayah kekuasaannya saat itu dipenuhi sumber kekayaan alam yang melimpah, yang didominasi oleh emas. Mansa Musa juga dikenal sebagai pemimpin militer yang sukses. Selama memerintah, dia berhasil menundukkan 24 kota. Jika disetarakan dengan peta dunia saat ini, wilayah kekuasaanya meliputi Mauritania, Senegal, Gambia, Guinea, Burkina Faso, Mali, Niger, Nigeria, dan Chad.

Selain yang di atas, masih ada banyak fakta menarik di balik perjalanan hidup Mansa Musa yang menjadi orang terkenal di dunia sepanjang sejarah. Apa saja itu?

Fakta Menarik Seputar Mansa Musa

Jumlah Kekayaan Berlimpah

Semasa kehidupannya hingga akhir hayat pada 1337, Mansa Musa sudah mengumpulkan kekayaan sebanyak mungkin dan sulit sekali dibayangkan. Sesuai dengan tingkat inflasi saat ini, total kekayaannya sudah di luar nalar. Money.com baru-baru ini merilis 10 orang terkaya sepanjang masa dan Mansa Musa masih tetap di urutan pertama dengan total kekayaan di luar nalar. Selanjutnya, disusul oleh Augustus Caesar (63 SM-14 M, kaisar Roma) Rp65,9 kuadriliun, Zhao Xu (1048-1085, kaisar Shenzong of Song di Cina) kekayaan tak terhitung, Akbar I (1542-1605, kaisar dinasti Mughal, India) kekayaan tak terhitung, Andrew Carnegie (1835-1919, industrialis keturunan Skotlandia-Amerika) Rp5,32 kuadriliun, John D Rockefeller (1839-1937, jutawan bisnis AS) Rp4,88 kuadriliun, Nikolai Alexandrovich Romanov (1868-1918, kaisar Rusia) Rp4,29 kuadriliun, Mir Osman Ali Khan (1886-1967, bangsawan India) Rp3,29 kuadriliun, William Sang Penakluk (1028-1087) Rp3,28 kuadriliun, dan Muammar Gadafi (1942-2011, penguasa Libya) Rp2,86 kuadriliun.

Jaya Saat Eropa Terpuruk

Kekaisaran Mali didirikan di bekas Kerajaan Ghana. Pada puncaknya, di bawah kepemimpinan Musa I, wilayah kekuasaan imperium itu membentang lebih dari 2.000 mil atau 3.218 kilometer di Afrika Barat, dari Samudera Atlantik ke Timbuktu, termasuk wilayah yang sekarang menjadi negara Chad, Pantai Gading, Gambia, Guiena, Guinea-Bissau, Mali, Mauritania, Niger, Nigeria, dan Senegal.

Selain menggabungkan berbagai kota di bawah pemerintahannya, terutama Timbuktu dan Gao, Mansa Musa juga mengumpulkan upeti dari wilayah kekuasaannya. Tak hanya sekadar menghasilkan pundi-pundi harta dari tambang emas dan garam. Itu mengapa, ketika Eropa masih berjuang menghadapi kelaparan, wabah, dan pertempuran tak kunjung henti para bangsawannya, kerajaan di Afrika itu berkembang pesat.

Menggantikan Raja yang Hilang

Menurut tradisi Mali, raja akan menunjuk wakilnya setiap kali ia menunaikan ibadah haji atau melakukan petualangan lain. Jika penguasa tak kembali, maka secara otomatis wakilnya akan dinobatkan jadi raja sebagai pengantinya.

Itu yang terjadi setelah Abubakari Keita II, pendahulu Musa melakukan penjelajahan untuk menemukan ujung Samudra Atlantik. Setelah itu nasibnya tak diketahui. Sebelum menduduki singgasana pada 1312, Musa I mengirimkan 2.000 kapal untuk mencari Abubakari Keita II. Namun, pencarian itu tidak menghasilkan apa-apa dan tidak ada satupun yang kembali, sehingga semua setuju bahwa Musa harus dinobatkan jadi raja.

Tak Hanya Mewariskan Harta

Musa I tak hanya mewariskan harta kekayaan. Ia pun sempat mengendalikan rute perdagangan penting antara Laut Tengah (Mediterania) dai perairan Afrika Barat, Mansa Musa menjadikan Timbuktu sebagai pusat budaya dan pembelajaran Islam. Ia membayar seorang arsitek dari Andalusia, dengan 200 kilogram emas untuk membangun Masjid Djinguereber yang hingga kini masih berdiri.

Mansa Musa juga mendirikan Universitas Timbuktu untuk menarik para akademisi dan seniman dari Dunia Islam. Pada masa kepemimpinannya, ia mendorong urbanisasi dengan mendanai sekolah dan masjid.

Tak Sengaja Membunuh Ibu Sendiri

Mansa Musa I kali pertama menarik perhatian publik dunia pada 1324 ketika ia menunaikan ibadah haji ke Mekah. Dalam bukunya, Chronicle of the Seeker yang terbit pada 1987, cendekiawan muslim Afrika, Mahmud Kati mengungkap kejadian yang menginspirasi Mansa Musa berhaji. “Mali-koy Kankan Musa adalah sultan yang lurus, saleh, dan taat,” tulis Kati.

Saking berlimpahnya, hingga saat ini kekayaan Mansa Musa belum dapat ditaksir dengan pasti jumlahnya. Ia menambahkan, berdasarkan pengakuan cendekiawan, Muhammad Quma, Mansa Musa secara tak sengaja menyebabkan kematian ibunya, Nana Kankan.

Semenjak kejadian itu, ia sangat menyesal dan terus menurus menyalahkan dirinya sendiri karena takut mendapat azab. Oleh karena itu, ia membayar kafarat (denda) dalam jumlah besar dan berpuasa dalam waktu lama.

Temukan Asuransi Mobil Terbaik Anda

Rp

Rombongan Mewah Saat Naik Haji

Untuk menebus dosa karena kejadian membunuh ibunya, Mansa Musa pergi berhaji dengan menempuh perjalanan 4.000 mil menuju Mekah. Iring-iringan sang sultan ke Tanah Suci bak parade yang menunjukan kemewahan sampai-sampai dianggap sebagai gangguan oleh orang Eropa.

Meskipun menjadi sorotan dan disebut sebagai penganggu bangsa Eropa, tetapi ia sama sekali tidak mengirit. Mansa Musa tetap melakukan perjalanan ibadah haji dengan membawa istrinya, Inari Konte, dan 500 dayangnya. Bukan hanya itu, ia juga membawa sejumlah unta dan kuda membawa emas batangan dalam jumlah besar.

Selama perjalanan menuju tanah suci, Musa telah membangun masjid di sepanjang perjalanan, di Dukurey, Gundam, Direy, Wanko, dan Bako. Sebagian masjid masih berdiri hingga saat ini.

Bukan hanya itu, ketika ia tiba di Alexandria, ia menghabiskan banyak harta karena telah memberikan bubuk emas pada orang miskin, membeli makanan untuk rombongan, dan membeli banyak cinderamata untuk dibawa pulang yang konon katanya belanjaan tersebut telah menyebabkan inflasi melonjak di kota itu yang baru pulih hingga bertahun-tahun.

(Sumber Foto: https://id.wikipedia.org)

Comments are closed.