3 Daftar Produsen Mobil Stop Produksi Karena Corona

Berita

Untuk Anda penggemar otomotif, pastinya menantikan kendaraan terbaru dari masing-masing pabrikan. Namun, untuk 3 produsen mobil ini akan sementara menghentikan produksinya di tengah pandemi saat ini.

Hampir semua sektor perekonomian terpukul akibat adanya pandemi COVID-19 ini. Salah satunya yang terkena pukulan paling berat adalah produsen mobil. Pasalnya, mereka harus menghentikan pembuatan mobil yang seharusnya mendatangkan cash flow ratusan juta rupiah tiap harinya.

Akan tetapi, mau tidak mau para produsen harus mengikuti arahan dari pemerintah. Dengan diberlakukannya kebijakan PSBB atau Pembatasan Sosial Berskala Besar, maka proses produksi harus dihentikan. Karyawan tidak diperbolehkan untuk berangkat ke pabrik untuk melakukan proses perakitan mobil seperti biasa.

Hal yang terjadi tentu saja tidak adanya penambahan unit mobil yang dipasarkan. Itu artinya pemasukan produsen mobil berkurang drastis. Padahal, di satu sisi mereka tetap harus mengeluarkan dana untuk gaji pegawai. Belum lagi biaya pinjaman kepada sektor perbankan.

Baca juga: Cara Tepat Bersihkan Kabin Mobil dari Bakteri dan Virus

Namun, ini keputusan yang paling baik. Kesehatan pekerja harus diutamakan di tengah pandemi vCOVID-19 seperti saat ini. Opsi yang terbaik adalah menstop produksi mobil.

3 Produsen Mobil Stop Produksi Sementara

produsen merek mobil

Setidaknya ada 3 produsen kendaraan bermotor besar di Indonesia yang terpaksa harus menghentikan produksi mobil.

1. Honda

Produsen kendaraan bermotor yang menghentikan produksi mobil adalah Honda. Jelas ini bukan hal menyenangkan mengingat Honda selalu menjadi mobil favorit di Indonesia.

produsen mobil honda

Di bulan April tahun 2019, penjualan mobil Honda merangkak naik mencapai 43%. Kenaikan ini disebabkan diterimanya beberapa merek Honda, terutama Brio Satya, Mobilio, dan juga HR-V. Namun, di awal tahun 2020 ini, sepertinya Honda tidak lagi bisa menikmati gurihnya penjualan. Pasalnya, sejak PSBB diterapkan, Honda tidak lagi memproduksi mobil.

2. Suzuki

Selain Honda, Suzuki juga termasuk produsen mobil yang memberhentikan pembuatan mobil. Apalagi pabrik mereka berada di daerah yang menerapkan kebijakan PSBB seperti di Bekasi, Cikarang, dan Cakung. Jadi, mau tidak mau mereka harus menghentikan kegiatan produksi.

produsen mobil suzuki

Kabarnya, penghentian produksi ini akan dilakukan hingga tanggal 24 April 2020. Namun, bukan tidak mungkin penghentian akan diperpanjang jika  wabah virus corona ini belum mampu dikendalikan dan masa PSBB diperpanjang lagi.

3. Wuling

Wuling merupakan produsen mobil pendatang baru. Namun, popularitasnya naik begitu signifikan ketika mereka menawarkan mobil harga terjangkau dengan fitur mewah.

produsen mobil wuling

Sejak tahun lalu, Wuling seolah menggeser kompetitor yang sudah lama menjadi pemain di pasar otomatif Indonesia. Contohnya saja Honda. Di tengah naiknya penjualan tersebut, muncul wabah corona yang membuat mereka harus menghentikan produksi. Penghentian produksi ini dilakukan mulai tanggal 6 April 2020. Kemungkinan mereka akan mulai memproduksi lagi pada tanggal 20 April 2020.

Sebenarnya, bukan hanya produsen mobil saja yang terkena imbas dari virus corona ini. Industri tekstil, industri makanan, dan industri lainnya juga merasakan dampaknya. Hanya saja, yang paling terasa jelas industri otomatif. Hal ini disebabkan perputaran uang yang begitu besar di industri otomotif, harga sparepart sangat mahal, dan proses pembuatan yang membutuhkan tenaga ahli dalam jumlah banyak.

Baca juga: Daftar Terbaru Mobil Mitsubishi Indonesia yang Terjual Laris Manis

Kebijakan Pemerintah Dibutuhkan untuk Selamatkan Produsen Mobil

Bukan tidak mungkin para produsen otomatif akan melakukan PHK jika pandemi virus corona ini tidak segera berakhir. Pasalnya, mereka menanggung biaya yang begitu tinggi. Sementara itu, produksi harus dihentikan.

Ketika wabah ini selesai, bukan berarti produsen mobil bisa langsung bangkit. Diprediksi mereka akan terseok-seok karena adanya beban hutang yang tinggi di beberapa bulan sebelumnya ketika pandemi menyerang Indonesia.

Untuk itu, ada beberapa kebijakan yang dibutuhkan pelaku bisnis otomotif agar mereka bisa bertahan di tengah pandemi.

Meminta Pemeritah Menyelesaikan Pandemi

Pihak produsen kendaraan bermotor tahu persis pemerintah memiliki PR yang besar di tengan pandemi ini. Maka dari itu, beberapa manufaktur tidak begitu menginginkan banyak hal, salah satunya agar pemerintah segera menyelesaikan pandemi ini.

Karena dengan cara itulah mereka bisa mulai beroperasi lagi. Mereka pasti akan sedikit kesulitan karena kemampuan membeli mobil masyarakat akan menurun. Namun, bagi para produsen mobil, itu bukan masalah besar. Terpenting, masa pandemi virus corona berakhir sehingga mereka bisa mulai menerapkan strategi untuk menggairahkan dunia jual beli otomatif.

Relaksasi Pajak

Pendapatan negara yang sangat besar berasal dari pajak. Salah satunya pajak dari industri otomotif. Apalagi harga kendaraan semakin tinggi. Itu artinya ada pajak yang bisa masuk ke negara dalam jumlah yang sangat tinggi.

Selama masa pandemi, tentu saja produsen akan sangat keberatan untuk membayar pajak. Di satu sisi, mereka tidak bisa mendapatkan pendapatan karena produksi terhenti dan penjualan turun, sedangkan di sisi yang lain, mereka harus tetap membayar pajak.

Untuk itu, banyak perusahaan otomatif meminta pemerintah untuk melakukan relaksasi pajak. Ini kebijakan yang juga diterapkan di beberapa negara seperti Korea Selatan. Diharapkan pemerintah Indonesia mau menerapkan kebijakan yang sama yang diterapkan Korea Selatan, yaitu memberikan relaksasi pajak sampai akhir tahun 2020. Jadi, pembayaran pajak bisa ditunda selama tahun 2020.

Ada kemungkinan wabah ini bakal berakhir satu atau dua bulan mendatang. Namun, relaksasi pajak selama tahun 2020 diperlukan mengingat produsen mobil bakal kuawalahan untuk bangkit setelah pandemi. Makanya, relaksasi tetap diperlukan setelah pandemi selesai.

Stimulus Non Fiskal

Ada juga yang menyarankan agar pemerintah memberikan stimulus non fiskal. Misalnya saja menyederhanakan proses ekspor impor melalui NLE atau National Logistic Ecosystem. Proses ekspor impor juga dipercepat dan pengurangan lartas ekspor impor.

Stimulus non fiskal ini diperlukan setelah pandemi berakhir. Ini yang akan menggairahkan lagi semangat para perusahaan mobil untuk memproduksi mobil kembali. Terpenting, beban finansial mereka sedikit diringankan.

Itulah beberapa kebijakan yang dibutuhkan para produsen merek mobil ternama di Inonesia. Apakah kebijakan tersebut akan dilakukan oleh pemerintah?

Baca juga: Ini Asuransi Mobil yang Bagus dan Murah

Temukan Asuransi Mobil Terbaik Anda

Rp

Mengatasi PHK Karyawan Produsen Mobil

Pemutusan hubungan kerja atau PHK terhadap karyawan parbik otomotif menjadi hal yang tidak bisa dihindari. Marcedes-Benz telah mengkonfirmasi bahwa mereka sudah merumahkan setidaknya 10.000 karyawan akibat pandemi ini. Hal serupa pun kemungkinan juga akan terjadi pada produsen kendaraan lainnya.

Langkah antisipasi sudah dilakukan. Contohnya saja pemerintah memberikan bantuan langsung tunai atau BLT bagi mereka yang di PHK. Ada banyak jalur di mana orang yang terkena PHK di saat pandemi corona ini mendapatkan bantuan keuangan. Setidaknya bantuan tersebut bisa digunakan untuk bertahan sampai pandemi masih berlangsung.

Setelah itu, ketika pandemi berakhir, diharapkan dunia otomotif kembali menggeliat. Dengan harapan karyawan yang sudah di PHK bisa dipekerjakan kembali.

Itulah beberapa hal yang menjadi harapan semua orang, terutama mereka yang bekerja di sektor otomotif. Pemeritah melakukan apa saja yang dibutuhkan agar pendemi segera selesai dan juga menjaga agar tidak ada kekacauan ekonomi di masyarakat. Sementara itu, para pengusaha bersama-sama mengikuti himbauan pemerintah dengan harapan corona segera diatasi dan mereka bisa memproduksi mobil kembali.

Comments are closed.