Perjalanan Bisnis Perusahaan Salim Group

Berita

Menjadi perusahaan ternama di Indonesia dengan pencapaian yang cemerlang hingga merambahi bisnis dalam berbagai sektor, Salim Group tak diragukan lagi kredibilitasnya.

Anda pasti tidak asing dengan salah satu bank terbesar di Indonesia yaitu BCA atau salah satu perusahaan pembuat indomie yaitu Indofood. Namun, tahukah Anda bahwa kedua perusahaan besar dibidangnya tersebut bukanlah perusahaan induk yang berjalan sendiri, melainkan anak perusahaan.

BCA dan Indofood adalah anak subsidiary dari sebuah kerajaan bisnis di Indonesia, Salim Group. Salim Group Indonesia adalah perusahaan induk dari beragam bidang usaha besar seperti Bogasari, Indomobil, Super Indo, hingga Indomaret yang kini sudah banyak tersebar di seluruh penjuru Indonesia.

Baca juga: Kenalkan Rudy Salim, Miliarder Muda Lulusan SMA

Dengan sektor bisnis yang amat luas dan disegani, perusahaan konglomerasi ini dapat dikatakan sebagai perusahaan garda terdepan di pasar Indonesia. Bagaimana tidak, perusahaan ini memiliki bisnis di sektor perbankan, industri makanan, bahan bangunan, ritel, hingga otomotif. Dan juga turut mengembangkan sayapnya dengan membangun beragam yayasan.

Banyaknya perusahaan besar yang dikelola oleh perusahaan besar ini memang membuat siapa saja yang mendengarnya akan berdecak kagum. Namun, seluruh pencapaiannya tentu tidak akan bisa diraih tanpa membumbuinya dengan sedikit rasa pahit.

Untuk itu, simak inspirasi perjuangan hidup yang dilakukan oleh pendiri dari Salim Group hingga bisa menjadi salah satu konglomerasi terbesar di Indonesia seperti saat ini.

Sejarah Perjalanan Bisnis Salim Group di Era Sudono Salim

profil salim group

source: wikipedia.org

 

Membicarakan soal awal mula perjalanan bisnis Salim Group Indonesia tentu perlu membahas sedikit kisah hidup dari Sudono Salim, sang pendiri. Sebagian dari Anda mungkin telah mengenal Sudono Salim serta cerita hidupnya dalam merintis usahanya hingga menjadi sebuah konglomerasi di Indonesia.

Siapa yang sangka bahwa pria asal Tiongkok ini mampu mewujudkan mimpinya sebagai seorang pebisnis besar di negeri orang. Sudono Salim adalah seorang warga Tiongkok yang merantau ke Indonesia untuk mengadu nasib.  Namun, berkat perjuangan tersebut Sudono Salim mampu mendirikan kerajaan bisnis dan membuka lapangan kerja di Indonesia yang sudah tak terhitung.

Di awal kedatangannya di Indonesia, Sudono Salim hanyalah seorang buruh di sebuah pabrik tahu dan kerupuk di Kudus, Jawa Tengah. Bahkan, sebelum sampai di Kudus, Ia sempat menjadi gelandangan selama empat hari di Surabaya sembari menunggu sang kakak menjemputnya untuk berangkat bersama menuju Jawa Tengah.

Memiliki semangat untuk bisa menjadi pribadi yang sukses, pria yang memiliki nama lahir Liem Sioe Liong, tidak puas hanya dengan menjadi seorang buruh. Sembari bekerja, beliau berusaha mencari inspirasi bisnis yang mungkin untuk dijalankan pada saat itu. Hingga pada akhirnya, Sudono Salim melihat perdagangan cengkeh serta tembakau sebagai peluang bisnis yang menjanjikan.

Menikahi Lilani atau Lie Kim Nio membuat Sudono Salim mendapatkan modal bisnis dari mertuanya yang dikenal sebagai salah seorang saudagar ternama di Kudus. Dari modal itulah Sudono Salim mampu mengikuti jejak sang mertua menjadi bandar cengkeh yang disegani di Kota Kudus hanya dalam kurun waktu satu tahun saja.

Rahasianya adalah Sudono Salim mampu bekerjasama dengan supplier cengkeh asal Sumatera sampai Sulawesi. Terlihat dari tekad tersebut, Sudono memiliki sifat yang gesit dan mampu melihat peluang bisnis hingga membuatnya bisa menjadi seorang pengusaha ternama.

Jatuh Bangun di Indonesia

Meski modal yang dimiliki hanyalah pemberian dari sang mertua, Ia dapat mengembangkannya dengan sebaik mungkin hingga bisnis yang dikelola bisa segera meroket.

Namun, Sudono Salim harus mengalami pengalaman pahit kembali karena bisnis cengkeh yang dikelolanya tersebut bangkrut. Bukan dari kesalahannya sendiri, bisnis cengkeh tersebut bangkrut karena adanya invasi dari pihak Jepang yang membuat hampir semua kegiatan masyarakat Indonesia menjadi terhenti.

profil salim group

source: news.detik.com

Alhasil, Ia pun harus kembali mencari solusi usaha lain dalam selang waktu 3 tahun dari penjajahan Jepang tersebut. Pada 1945, pasca Jepang telah memberikan kemerdekaan kepada Indonesia, intuisi bisnis Sudono Salim kembali diuji. Ia berusaha mencari peluang bisnis lain yang mampu mengembalikan masa kejayaannya.

Baca juga: Mobil Mewah Valentino Rossi Mengiringi Kesuksesannya

Melihat Bangsa Indonesia yang masih berjuang melawan Belanda yang ingin berkuasa kembali, Ia memutuskan untuk berbisnis kebutuhan logistik, kebutuhan medis, hingga persenjataan bagi tentara pejuang.

Tak berhenti sampai disitu, setelah bisnis logistik yang dikelola mulai berkembang. Sudono Salim merambah ke usaha lain di bidang produksi sabun dan produk yang dibutuhkan oleh tentara, khususnya anggota TNI Angkatan Darat. Insting bisnis Sudono Salim tersebut tentu berada diluar nalar masyarakat awam karena di keadaan kacau pun ia mampu melihat peluang bisnis yang menjanjikan.

Hingga pada tahun 1950-an, Sudono Salim membuka bisnis baru di bidang perbankan dan memfokuskan layanan pada pemberian pinjaman kredit. Ide bisnis ini juga muncul karena Sudono Salim membaca keluhan masyarakat yang tidak mampu membeli barang yang dijual dengan cara tunai. Inilah yang menjadi cikal bakal terbentuknya Central Bank Asia di tahun 1960 yang kini dikenal dengan nama Bank Central Asia (BCA).

Setelah kinerja Bank Central Asia dapat dikatakan mapan, Ia kembali mencari ide usaha lain yang cemerlang. Mengetahui bahwa masyarakat Indonesia terlalu bergantung pada kebutuhan nasi, Sudono Salim mulai mengembangkan bisnis tepung terigu. Tepung terigu Bogasari ada sebagai upaya mengurangi konsumsi publik akan produk nasi. Kepemilikian beberapa perusahaan oleh Sudono Salim, menggerakannya untuk membentuk sebuah perusahaan utama yang diberi nama Salim Group Indonesia.

Perjalanan di Tangan Sang Anak, Anthony Salim

profil salim group

source: liputan6.com

Berusia senja ditambah dengan kondisi Indonesia yang mengalami krisis moneter di tahun 1998. Sudono Salim memutuskan untuk mewariskan bisnisnya kepada sang anak, Anthony Salim. Anthony memiliki tantangan yang sangat besar pada awal mula Ia menjadi pemegang utama perusahaan ini.

Pasalnya, pasca krisis moneter Indonesia tersebut, perusahaan konglomerasi ini berada di ambang kebangkrutan karena memiliki utang mencapai 55 triliun Rupiah. Dampak krisis moneter memang cukup dahsyat karena dapat membuat sebuah perusahaan raksasa gulung tikar.

Namun, Anthony Salim selaku pemilik dari perusahaan raksasa ini juga mewarisi insting bisnis seperti sang ayah. Sebagai upaya untuk melunasi utang tersebut, Anthony Salim rela untuk melego atau melepaskan sejumlah saham pada beberapa subsidiary, seperti BCA, Indocement, dan juga Indomobil.

Keputusan ini terbukti dapat menyelamatkan induk perusahaan beserta sejumlah anak perusahaannya dari ambang kebangkrutan. Di bawah kepiawaian Anthony Salim dalam mengelola perusahaannya, Indofood dan Bogasari berhasil digadang-gadang sebagai produsen mie instan dan tepung terbesar tak hanya di Indonesia, tetapi juga di dunia.

Hal ini tentu menjadi bukti nyata bahwa masa kejayaan perusahaan satu ini telah kembali hingga saat ini. Bahkan, sama halnya keputusan yang dilakukan ayahanda, Anthony Salim juga mulai mengembangkan bisnis di sektor yang berbeda. Kini, bisnis keluarga Salim telah menjadi salah satu perusahaan raksasa dan paling berpengaruh di Indonesia.

Perjuangan sang anak, Anthony Salim, untuk bangkit dari utang triliunan pun turut menjadi pelajaran yang perlu untuk ditiru oleh siapa saja. Untuk itu, bagi Anda yang sedang berusaha menggali jalan kesuksesan, jangan mudah menyerah terhadap kesulitan yang dihadapi. Anggap hal tersebut sebagai tantangan yang bisa memacu Anda untuk menjadi pribadi yang lebih berkualitas.

Kisah perjalanan perusahaan yang luar biasa, patut dijadikan motivasi bagi Anda yang sedang meniti karir bisnis sebagai pengusaha. Jangan ragu mencontoh semangat meraih kesuksesan sebagai bekal Anda menapaki tantangan perjalanan bisnis yang berliku.

Baca juga: Di Balik Anggunnya Najwa Shihab, Ada Keberanian dan Kerja Keras

Comments are closed.