Waspada Kecenderungan Workaholic, pahami ciri-cirinya!

Berita

Workaholic seringkali disamaartikan dengan pekerja keras, padahal keduanya memiliki ciri yang berbeda. Pahami kecenderungan tipe kerja Anda dengan mengetahui perbedaan keduanya.

Motivasi kerja setiap orang memang berbeda-beda, karenanya tipe kerja setiap orang pun berbeda-beda pula. Anda pasti sering mendengar istilah pekerja keras dan pecandu kerja atau yang lebih dikenal dengan workaholic. Kedua sebutan tadi terlihat sama padahal memiliki arti yang berbeda. Satu lebih bermakna positif, sedangkan yang lainnya menjurus pada sesuatu yang negatif.

Baca juga: Hindari Kelelahan Kerja, Sukses di Tangan

Selain mencari penghasilan, bekerja memang menjadi salah satu cara untuk mengembangkan dan memaksimalkan potensi diri. Apalagi untuk orang yang baru masuk usia produktif. Akan tetapi, dalam situasi tertentu, banyak orang jadi terobsesi dengan pekerjaannya sehingga rela kerja lembur setiap malam, bahkan di hari libur sekalipun. Untuk mengetahui diri Anda termasuk pada kecenderungan yang mana, berikut penjelasan mengenai pecandu kerja yang bisa Anda pahami.

Workaholic Bukan Termasuk Gangguan Jiwa

Penelitian menemukan bahwa 7,8% orang di dunia ini tergolong dalam kategori pecandu kerja. Orang-orang yang memiliki sebutan ini lebih banyak menghabiskan waktunya di tempat kerja atau bisa dikatakan melebihi jam normal.

Para pecandu kerja mungkin ‘memanfaatkan’ pekerjaan mereka untuk mengurangi rasa bersalah dan cemas karena masalah tertentu. Gila bekerja juga bisa membuat seseorang meninggalkan hobi, olahraga, atau hubungannya dengan orang-orang terdekat.

kecenderungan workaholic

Kecanduan kerja pertama kali digunakan untuk menggambarkan kebutuhan yang tidak terkendali untuk terus bekerja. Orang yang disebut dengan workaholic adalah seseorang yang memiliki kondisi ini.

Meskipun istilah pecandu kerja telah dikenal secara luas dalam masyarakat, namun gila kerja bukanlah kondisi medis atau gangguan jiwa karena tidak termasuk dalam Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ), yaitu standar gangguan kejiwaan yang digunakan oleh tenaga kesehatan jiwa di berbagai belahan dunia.

Karena kecanduan kerja masih bisa dilihat sisi positifnya, tidak selalu dianggap jadi masalah. Kerja yang berlebihan terkadang bisa dihargai secara finansial maupun budaya. Kecanduan kerja bisa menjadi masalah jika sudah menimbulkan masalah dengan cara yang sama dengan kecanduan lainnya.

Sebenarnya istilah ini muncul dari kalangan awam, bukan medis. Workaholic dianggap sama seperti alcoholic, yaitu orang yang kecanduan alkohol. Selain itu, kecanduan kerja juga tidak bisa dianggap sebagai sesuatu yang normal karena bisa menimbulkan beberapa masalah pada diri sang pecandu kerja.

Dampak menjadi seorang workaholic

Meski kerja secara berlebihan sering dianggap baik dan bahkan dihargai, namun kecanduan kerja di luar batas normal akan menimbulkan masalah. Seperti kecanduan lainnya, kecanduan kerja didorong oleh paksaan, dan bukan karena rasa dedikasi pada pekerjaan secara wajar.

Pada kenyataannya, orang-orang yang menjadi korban kecanduan kerja mungkin sangat tidak senang dan menderita karena bekerja, mereka mungkin terlalu memikirkan pekerjaan dan merasa tidak dapat mengendalikan keinginan mereka untuk bekerja. Para pecandu kerja ini mungkin menghabiskan begitu banyak waktu dan energi pada pekerjaan dan hal ini kemungkinan besar akan menganggu aktivitas di luar pekerjaan.

Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa tekanan berlebihan di lingkungan kerja bisa meningkatkan risiko gangguan jiwa serius seperti depresi. Orang yang kecanduan kerja juga mungkin kurang memerhatikan kesehatannya karena kurang tidur, kurang makan, dan mengonsumsi kafein secara berlebihan.

Perbedaan Ciri Pecandu Kerja dengan Pekerja Keras

Karena kedua istilah ini hampir mirip banyak orang yang menganggap keduanya memiliki arti yang sama, padahal keduanya memiliki kecenderungan yang berbeda. Berikut perbedaan antara pecandu kerja dan pekerja keras didasarkan pada lima aspek, yaitu:

Perilaku Kerja

Hal utama pembeda pecandu kerja dan pekerja keras adalah pemaknaan akan bekerja yang mendorong perilaku dalam bekerja itu sendiri. Seorang pecandu kerja atau workaholism lebih mengarah kepada perilaku negatif akan bekerja. Sebagai mana arti harfiahnya, pecandu kerja sudah menjadikan bekerja sebagai candu baginya. Seorang yang kecanduan artinya ia sudah tidak bisa lagi mengontrol dirinya sendiri.

Baca juga: Sering Mengalami Stres Kerja? Atasi dengan Cepat!

Dalam artikel di Harvard Business Review mengungkapkan bahwa pecandu kerja memiliki dorongan kompulsif batin untuk bekerja, berpikir tentang bekerja terus menerus, serta merasa bersalah dan gelisah ketika tidak bekerja. Efeknya, penelitian menunjukkan bahwa workaholism lebih cenderung mengalami keluhan kesehatan, meningkatkan risiko sindrom metabolik, masalah tidur, masalah sinisme, emosional, hingga depresi.

Sedangkan pekerja keras lebih kepada perilaku positif akan etos kerja yang tinggi. Pekerja keras bekerja secara serius untuk menghasilkan kualitas sebaik mungkin dengan tetap mengontrol diri, kapan bekerja dan kapan beristirahat. Pada akhirnya, perilaku pekerja keras tidak begitu berdampak pada kesehatan dirinya. Sebagaimana dalam artikel yang sama, penelitian menunjukkan bahwa seorang pekerja keras yang bekerja berjam-jam tetapi tdak mengalami masalah akan kesehatan, mereka bisa tidur pulas dan di pagi hari tetap merasa segar.

Efektifitas dan Efisiensi

kecenderungan workaholic

Secara kualitas kerja, pecandu kerja ataupun pekerja kerasa mungkin sama baiknya, tetapi akan sangat berbeda dalam kemampuannya dalam melakukan efektifitas kerja dan efisiensi waktu. Jika ada tugas yang harus diselesaikan satu minggu, seorang pecandu kerja mungkin akan menghabiskan 15 jam perhari untuk menyelesaikannya. Tetapi bagi pekerja keras, mereka bisa saja menyelesaikannya hanya dengan bekerja normal 8 jam seharinya. Dengan kualitas hasil kerja yang sama, dapat jelas terlihat bahwa pekerja keras bisa mengoptimalkan apa yang dia miliki. Efektifitas kerja dan efisiensi waktu jelas lebih unggul seorang pekerja keras.

Motivasi

Setiap apa yang dilakukan tentu memiliki motivasinya sendiri begitupun dalam bekerja. Bagi seorang pecandu kerja, bekerja cenderung hanya untuk kepuasan pribadi yang bahkan tak sadar dilakukannya. Mereka bekerja terlalu ambisius dan tidak peduli apakah pekerjaannya itu bisa memperbaiki karirnya atau tidak.

Berbeda dengan pekerja keras, mereka bekerja karena alasan tertentu. Oleh karena memiliki alasan jelas, mereka bisa membatasi diri. Ketika motivasi sudah tercapai, mereka bisa berhenti akan satu pekerjaan tersebut dan memulai untuk pekerjaan baru dengan motivasinya sendiri. Bisa juga dikatakan, seorang pekerja keras lebih realistis dalam menentukan motivasinya.

Sosialisasi

Tak berkaitan dengan sifat intovert atau ekstrovert, kemampuan bersosialisasi yang dimaksudkan adalah kearifan dalam membagi waktu kapan bekerja dan kapan berinteraksi dengan teman atau keluarga. Bagi pecandu kerja, hidupnya adalah bekerja dan tidak ada hal lain yang lebih penting dari itu. Jadilah seorang pecandu kerja hampir tidak pernah bersosialisasi dengan orang-orang di sekitarnya.

Tentu berbeda dengan seorang pekerja keras. Mereka bisa begitu fokus mengerjakan tugas, tetapi tetap bisa meluangkan waktu untuk bersosialisasi dengan teman dan keluarga. Hal ini kembali berkaitan dengan kemampuannya mengelola waktu sehingga pekerjaan bisa dikerjakan sesuai porsinya.

Perfeksionis

kecenderungan workaholic

Pecandu kerja memang bisa jauh lebih perfeksionis daripada pekerja keras karena hidupnya didedikasikan untuk bekerja. Karakternya yang terlalu ambisius dan tak mau salah dalam mengerjakan tugas, menjadikan pekerjaannya begitu detail.

Baca juga: Siasat Sehat di Tempat Kerja

Tetapi hal ini tidak berarti seorang pekerja keras tidak bisa perfeksionis. Mereka tetap bisa berkarakter perfeksionis namun dalam kondisi yang lebih realistis. Pekerja keras menyadari betul akan tanggung jawabnya tetapi juga memahami kondisi dirinya sendiri.

Dari pemaparan di atas, sudah jelas dikatakan bahwa pecandu kerja dan pekerja keras tentu sangat berbeda. Jadi, sudah bisa tentukan gaya bekerja Anda termasuk pecandu kerja atau pekerja keras?

Comments are closed.