Mengenal Cara Menghitung BEP dalam Berbisnis

Entrepreneurship

Dalam berbisnis hal yang ingin dicapai adalah bisa meraup keuntungan agar bisnis dapat dikatakan berhasil, maka dari itu penting untuk memahami cara menghitung BEP (Breakevent Point).

Menjalankan sebuah bisnis memang tidak lah mudah, Anda harus menguasai berbagai hal untuk menunjang agar bisnis Anda dapat berjalan dengan lancar. Sebagai seorang pebisnis, tentu Anda sering membuat keputusan terkait investasi untuk pengembangan pemasaran. Untuk menghitung berapa tahun perusahaan dapat menghasilkan keuntungan atau untuk memastikan kapan usaha Anda mengalami balik modal, Anda perlu tahu cara menghitung BEP.

Baca juga: Analisa Rencana dan Bahan Evaluasi Perusahaan Melalui Analisis SWOT

Break even point atau nama lainnya analisis titik impas diartikan sebagai suatu keadaan atau titik di mana perusahaan dalam kegiatan operasinya tidak memperoleh keuntungan dan tidak mengalami kerugian juga. Singkatnya adalah merupakan titik impas antara besar jumlah laba dan biaya suatu perusahaan dalam posisi yang sama atau seimbang, sehingga dalam prosesnya tidak mendapatkan keuntungan dan kerugian. Cara menghitung BEP merupakan pengetahuan yang dibutuhkan semua pengusaha agar terhindar dari kerugian.

Pengertian Break Even Point (BEP)

Break even point atau sering disingkat dengan BEP adalah suatu titik atau keadaan dimana penjualan dan pengeluaran sama atau suatu kondisi dimana penjualan perusahaan cukup untuk menutupi pengeluaran bisnisnya. Break-even point yang biasanya dalam bahasa Indonesia disebut dengan “Titik Impas” ini biasanya membandingkan jumlah pendapatan atau jumlah unit yang harus dijual untuk dapat menutupi biaya tetap dan biaya variabel terkait dalam menghasilkan suatu penjualan. Dengan kata lain, Titik Impas ini adalah titik dimana suatu bisnis tidak mengalami kerugian dan juga tidak memperoleh keuntungan.

perhitungan BEP

Analisis cara perhitungan umumnya digunakan untuk menghitung kapan sebuah usaha atau bisnis atau proyek akan menguntungkan dengan cara menyamakan total pendapatannya dengan total biaya. Dengan analisis tertentu, manajemen perusahaan dapat mengetahui jumlah penjualan minimum yang harus dipertahankan agar tidak mengalami kerugian dan juga mengetahui jumlah penjualan yang diharuskan untuk memperoleh tingkat keuntungan tertentu serta membantu manajemen dalam pengambilan keputusan apakah akan melanjutkan atau memberhentikan bisnisnya.

Definisi BEP menurut Para Ahli

Sebagai informasi penunjang bagi Anda memahami pengertian titik impas perusahaan, berikut ini adalah beberapa pengertiannya menurut para ahli:

Yamit (1998:62)

Break even point atau BEP dapat diartikan sebagai suatu keadaan dimana total pendapatan besarnya sama dengan total biaya (TR=TC).

Mulyadi (1997:72)

Titik impas adalah suatu keadaan dimana suatu usaha tidak memperoleh laba dan tidak menderita rugi, dengan kata lain suatu usaha dikatakan impas jika jumlah pendapatan (revenue) sama dengan jumlah biaya, atau apabila laba kontribusi hanya dapat digunakan untuk menutup biaya tetap saja.

Simamora (2012:170)

Volume penjualan dimana jumlah pendapatan dan jumlah bebannya sama, tidak ada laba maupun rugi bersih.

Garrison (2006:335)

Tingkat penjualan dimana laba sama dengan nol, atau total penjualan sama dengan total beban atau titik dimana total margin kontribusi sama dengan total beban tetap.

Baca juga: Melihat Pentingnya Manajemen Keuangan untuk Perusahaan

Hansen dan Mowen (1994:16)

Break even point is where total revenues equal total costs, the point is zero profits” atau dalam bahasa Indonesia dapat diterjemahkan menjadi, di mana total pendapatan biaya total yang sama, intinya adalah nol keuntungan.

Harahap (2004)

Suatu kondisi perusahaan tidak memperoleh laba dan tidak menderita kerugian artinya semua biaya biaya yang telah dikeluarkan untuk operasi produksi bisa ditutupi oleh pendapatan dari penjualan produk.

Komponen

Dalam menghitung besarannya tentu saja memerlukan komponen-komponen. Berikut ini merupakan komponennya:

  • Biaya Tetap (Fixed Cost), baik ketika perusahaan sedang berproduksi maupun tidak berproduksi.
  • Biaya Variable (Variabel Cost), Komponen ini bersifat dinamis dan bergantung pada tingkat volume produksinya. Jika produksi meningkat, maka biaya variabel juga akan meningkat.
  • Harga Jual (Selling Price),harga jual per unit barang atau jasa yang telah diproduksi.

Contoh Kasus

Sebagai sarana Anda memahami lebih dalam mengenai break even point ini, berikut merupakan contoh kasus perhitungannya pada sebuah perusahaan:

Sebuah perusahaan yang diberi nama “Usaha Gemilang”  memiliki data-data biaya dan rencana produksi seperti berikut ini:

Biaya Tetap sebulan adalah sebesar Rp140 juta yaitu terdiri dari:

Biaya Gaji Pegawai + Pemilik       : Rp75.000.000

Biaya Penyusutan Mobil                : Rp1.500.000

Biaya Asuransi Kesehatan            : Rp15.000.000

Biaya Sewa Gedung Kantor          : Rp18.500.000

Biaya Sewa Pabrik                            : Rp30.000.000

Biaya Variable per Unit Rp75.000.00 yaitu terdiri dari:

Biaya Bahan Baku                             : Rp35.000

Biaya Tenaga Kerja Langsung      : Rp25.000

Biaya Lain                                            : Rp.15.000

Harga Jual per Unit Rp95.000

menghitung Break even point

Sekarang mari kita hitung berapa tingkat titik impas dari usaha tersebut baik dalam unit maupun dalam rupiah:

BEP Unit = Biaya Tetap (harga/unit – biaya variable/unit)

BEP Unit =Rp.140.000.000 Rp95.000 – Rp75.000)

BEP Unit = Rp140.000.000 Rp20.000

BEP Unit= Rp7000

Jadi, BEP per unit dari contoh di atas adalah Rp7.000/ unit

BEP Rupiah = Biaya Tetap (kontribusi margin/unit harga/unit)

BEP Rupiah = Rp.140.000.000 (Rp20.000 Rp95.000)

BEP Rupiah = Rp140.000.000 0.2105

BEP Rupiah = Rp665.083.135

Jadi, break-even point Rupiah dari contoh di atas adalah Rp665.083.135

Dengan adanya perhitungan di atas kita bisa memiliki kesimpulan bahwa untuk memperoleh titik impas dengan harga penjualan sebesar Rp95.000, maka perusahaan harus dapat menjual sebanyak 7000 unit. Jika jumlah penjualan tidak sampai 7.000 unit, maka tidak akan menutup biaya produksi yang sudah sudah dikeluarkan.

Dengan mengetahui kapan perusahaan melewati tingkat break-even point, maka sebagai manager atau pemilik usaha, Anda juga akan dapat menghitung berapa minimal penjualan untuk mendapatkan laba yang Anda targetkan, yaitu dengan cara menambahkan laba yang ditargetkan tersebut dengan biaya tetap yang Anda miliki.

Misalnya target laba sebulan adalah Rp60 juta, maka minimal penjualan yang  harus dicapai adalah sebagai berikut:

BEP- Laba = (biaya tetap + target laba) (harga/unit- biaya variable/unit)BEP – Laba = (140.000.000 + 60.000.000) (95.000 – 75.000)

BEP – Laba = 200.000.000 20.000

BEP – Laba = 10.000 unit

menghitung BEP untuk bisnis

Penghitungannya dalam sebuah usaha sangat lah penting  untuk menentukan target penjualan yang harus dipenuhi dalam rangka memperoleh keuntungan usaha. Break-even poin dapat digunakan sebagai bahan untuk mengevaluasi investasi apapun dari marketing campaign yang sudah dilakukan.

Baca juga: Manfaat Sistem Informasi Manajemen Bagi Perusahaan

Hal ini karena berhubungan dengan biaya program marketing, menganalisa kemampuan perusahaan terhadap permintaan konsumen untuk sebuah produk. Analisis ini menanamkan disiplin ke dalam pembuatan keputusan pemasaran, kemudian melihat peluang seberapa besar kemungkinan untuk berhasil.

Dengan pengetahuan mengenai perhitungan titik impas dalam suatu usaha, diharapkan Anda semakin paham mengenai salah satu perhitungan yang wajib dikuasai bagi seorang pebisnis demi mengetahui apakah usaha yang dijalankan dalam keadaan baik atau buruk. Semangat terus dalam menjalankan bisnis yang menguntungkan ya!

Comments are closed.