Ketahui Aturan Pembagian Harta Warisan untuk Keluarga

Family

Pembagian harta warisan untuk keluarga tidak sembarang. Ada aturan-aturan yang harus diikuti baik itu secara Islam maupun secara KUH Perdata.

Harta warisan tentu bukan hal baru dalam hidup Anda. Awalnya kata “warisan” diambil dari Bahasa Arab Al miirats yang artinya perpindahan sesuatu hal kepada orang atau kaum lain. Bentuk warisan tersebut bisa bermacam-macam, antara lain pusaka, surat wasiat, dan harta. Harta warisan biasanya dibuat ketika pemilik masih hidup, yang akan dibagikan ketika si pemilik warisan tersebut meninggal dunia. Dalam hukum harta waris Islam maupun KUH Perdata dijelaskan secara detail pembagian harta waris yang jelas dan rinci, yang mengedepankan keadilan. Oleh karena itu, dibuatlah aturan dalam pembagian harta warisan untuk keluarga yang ditinggalkan. Ada dua aturan hukum pembagian warisan untuk keluarga yang harus Anda ketahui, yaitu berdasarkan KUH Perdata dan juga menurut Islam. Berikut ini masing-masing penjelasannya. Baca juga: Ikuti 3 Perencanaan Membagi Warisan Agar Tak Timbul Konflik

Pembagian Harta Warisan Bedasarkan KUH Perdata

Pembagian harta warisan yang diatur dalam KUH Perdata pada Pasal 830 dan Pasal 832 KUHPerdata, memiliki beberapa ayat, berikut ini bunyinya:

  1. Merupakan mereka yang mempunyai hubungan darah dengan pewaris (anak dan keturunannya, orangtua kandung, saudara kandung, kakek dan nenek, dll.).
  2. Memiliki hubungan perkawinan dengan pewaris (suami atau istri pewaris)
  3. Mereka yang tidak kehilangan hak atas warisan yang disebabkan karena beberapa hal berikut ini.
  4. Dinyatakan bersalah oleh hakim dan dihukum karena telah membunuh atau mencoba membunuh atau melakukan penganiayaan berat terhadap pewaris. (Pasal 838 ayat 1 KUH Perdata)
  5. Orang yang telah mencegah pewaris untuk membuat atau mencabut surat wasiatnya dengan cara kekerasan. (Pasal 838 ayat 3 KUH Perdata) (Baca juga: Mengenal Hukum Waris di Indonesia)
  6. Orang yang menggelapkan, merusak atau memalsukan surat wasiat pewaris. (Pasal 838 ayat 4 KUH Perdata)
  7. Orang yang dinyatakan bersalah oleh hakim karena telah memfitnah dan menuduh pewaris melakukan kejahatan. (Pasal 838 ayat 2 KUH Perdata)

Pembagian Harta Warisan Bedasarkan Islam

Sebenarnya, tidak ada perbedaan yang mencolok antara aturan pembagian harta warisan untuk keluarga berdasarkan KUH Perdata dan Islam. Hukum waris yang diatur dalam Islam terdapat pada Kompilasi Hukum Islam, Bab II dengan judul Hukum Kewarisan. Hukum waris Islam diatur di dalam Pasal 171-214 Kompilasi Hukum Islam (KHI). Menurut KHI, Hukum kewarisan adalah hukum yang mengatur tentang pemindahan hak pemilikan harta peninggalan (tirkah) pewaris, menentukan siapa-siapa yang berhak menjadi ahli waris dan berapa bagiannya masing-masing. Adapun golongan atau kelompok yang berhak menjadi ahli waris dalam hukum Islam adalah sebagai berikut.

  1. Menurut hubungan darah: 1) Golongan laki-laki terdiri dari ayah, anak laki-laki, saudara laki-laki, paman dan kakek; 2) Golongan perempuan terdiri dari ibu, anak perempuan, saudara perempuan dan nenek.
  2. Menurut hubungan perkawinan terdiri dari duda atau janda.

Jika semua syarat di atas terpenuhi, maka Anda berhak menjadi ahli waris dan mendapatkan warisan tersebut. Namun, ada yang harus digaris bawahi, bahwa dalam hukum waris Islam, laki-laki mendapat dua bagian, sedangkan perempuan mendapat satu bagian dari harta warisan. Untuk besarnya berbeda-beda, bagian masing-masing ahli waris dapat dilihat di dalam Pasal 176-185 Kompilasi Hukum Islam.

Comments are closed.