Baby Blues Syndrome: Definisi, Penyebab, dan Cara Mengatasinya!

Family

Baby blues syndrome sangatlah umum dirasakan oleh para ibu. Tak perlu khawatir, sindrom tersebut dapat diatasi dengan cukup mudah, kok.

Memiliki bayi adalah perasaan yang indah bagi setiap orang, khususnya bagi ibu. Sebab, ibu yang berjuang lebih banyak dalam menjaga sang buah hati selama di kandungan hingga akhirnya lahir ke bumi dengan selamat dan sehat. Namun, alih-alih merasa bahagia saat awal kelahiran, justru cukup banyak ibu yang secara emosional terganggu, seperti mudah sedih dan marah.

Hal ini sangatlah lumrah terjadi, fenomena tersebut sering disebut baby blues syndrome. Baby blues syndrome merupakan kondisi gangguan emosional yang dialami ibu setelah melahirkan bayi. Kondisi ini dianggap normal dan cukup sering terjadi, yaitu 70-80 persen ibu setelah melahirkan.

Gejala yang sering dirasakan oleh para ibu yang terkena baby blues syndrome antara lain mudah menangis, mudah tersinggung, dan sering merasa tertekan serta panik. Hal tersebut terjadi karena banyak hal yang ibu rasakan saat kehamilan hingga melahirkan bayi. Terlebih, umumnya bayi yang baru lahir sangatlah rewel. Ibu akan merasa khawatir berlebih, takut sang buah hati sakit atau mengalami sesuatu yang buruk hingga akhirnya memengaruhi perasaannya secara langsung. (Baca juga: Penyakit Bipolar: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengobatinya!)

Secara garis besar, ada lima penyebab baby blues syndrome yang dialami para ibu yang baru melahirkan. Apa sajakah itu? Mari kita simak di bawah ini!

Penyebab Baby Blues Syndrome

Kelelahan

Kita semua tahu proses melahirkan bayi bukanlah hal yang mudah. Butuh tenaga dan usaha yang besar dari para ibu untuk dapat melahirkan sang buah hati, terlebih secara normal. Setelah proses persalinan yang super melelahkan, ibu dihadapkan dengan kenyataan harus melatih bayi untuk bisa meminum ASI secara langsung. Sementara tidak semua bayi yang baru lahir bisa menyusui secara langsung.

Ibu menyusui biasanya kelelahan karena kesusahan mengajarkan bayinya menyusu ASI secara langsung. Sebagian bayi susah membuka mulut, sementara puting ibu masih kaku dan berukuran besar setelah melahirkan. Ini adalah hal yang wajar, percobaan menyusui harus tetap dilakukan. Meski prosesnya memakan waktu dan menguras tenaga serta kesabaran.

Sering kali ibu jadi kurang tidur dan merasa kelelahan. Selain itu, banyak hal yang harus disiapkan untuk si kecil sementara ibu masih transisi dari fase kehamilan menjadi fase ibu baru atau ibu menyusui. Hal inilah yang menyebabkan banyak ibu terkena baby blues syndrome.

Payudara Membengkak

ASI mulai terproduksi sehingga payudara ibu cepat membesar dan membengkak. Bayi yang baru lahir biasanya menyusu setiap dua jam sekali. Tapi ada juga yang pintar, sedikit-sedikit minta ASI karena cepat merasa haus dan lapar, serta sering buang air kecil.

Nyatanya, tidak semua bayi memiliki kemampuan yang sama setelah dilahirkan. Bagi ibu dengan bayi yang sulit menyusu mungkin memiliki masalah payudara bengkak karena ASI keluar tidak lancar. Hal ini juga dapat memicu ibu terkena baby blues syndrome.

Jika mengalami ini, segeralah pompa ASI dan simpan di tempat yang steril. Hal paling penting, ibu jangan buang kolostrum dalam ASI pertama karena ini sangat bagus untuk kesehatan bayi.

Proses Adaptasi

Ibu harus menyesuaikan diri dengan tanggung jawab baru dan dengan peran sebagai seorang ibu yang memiliki bayi. Ini sering membuat ibu yang baru melahirkan kewalahan dan terkena baby blues syndrome.

Sebab, biasanya ia mengurus dirinya sendiri, namun setelah memiliki buah hati, kebiasaan tersebut akan berubah secara drastis sebab bayi akan sangat bergantung pada ibunya. Mulai dari buang air kecil, saat lapar, haus, mandi dan tidur semua harus dibantu.

Baca juga: Awas Keringat Dingin Gejala Awal Suatu Penyakit

Kadar Hormon Menurun

Saat hamil, ibu akan mengalami kenaikan jumlah hormon. Hal tersebut berbanding terbalik saat setelah ibu melahirkan. Jumlah hormon yang tadinya berlimpah akan berkurang secara drastis. Padahal, hormon tersebut sangat berperan penting terhadap sisi emosional ibu. Inilah yang membuat ibu terkena baby blues syndrome.

Saat kehilangan hormon, ibu akan menjadi pribadi yang sangat perasa atau sensitif. Bahkan untuk hal-hal sepele, ibu yang terkena baby blues syndrome dapat menangis seperti seorang anak-anak yang tidak dibelikan mainan oleh orangtuanya.

Perubahan Bentuk Tubuh

Banyak ibu hamil sangat menjaga pola makan saat kehamilannya. Sementara setelah melahirkan ia lupa dengan menjaga porsi makan. Faktanya, banyak ibu yang sangat sensitif tentang perubahan ini. Hal tersebut menandakan bahwa ibu tersebut terkena baby blues syndrome.

Mereka pikir makan apa saja yang penting ASI lancar. Nah, pola makan seperti ini yang membuat ibu malah lebih gemuk dibandingkan saat hamil. Terlebih, sering ada pertanyaan dari kerabat yang besuk yang seringkali mengungkit postur tubuh sang ibu yang semakin membesar setelah melahirkan.

Sejatinya, hal tersebut bukanlah sesuatu yang besar. Namun, bagi ibu yang terkena baby blues syndrome, pertanyaan atau kalimat tersebut akan membuatnya merasa sangat tertekan.

Cara Mengatasi Baby Blues Syndrome

Baby blues syndrome bukanlah sebuah penyakit. Faktanya, baby blues syndrome dapat hilang dengan sendirinya seiring berjalannya waktu. Namun, sindrom ini bisa menjadi semakin buruk ketika ibu kurang tidur. Maka dari itu, sebisa mungkin ibu dapat waktu tidur yang cukup. Bila tidur malam dirasa kurang, sekadar tidur siang sudah lebih dari cukup.

Selain itu, peran suami juga penting untuk membebaskan ibu dari baby blues syndrome. Ayah harus peka terhadap kondisi ibu yang mungkin cepat lelah dan merasa tidak yakin bahwa dia mampu merawat bayi. Yakinkan ibu untuk menjadi ibu yang tegar dan tabah. Tanamkan pada benak ibu bahwa seorang wanita memang tidak bisa menjadi ibu yang sempurna, namun masih bisa menjadi ibu yang baik bagi si Kecil.

Memang, wanita memang memiliki kehidupan yang penuh warna, terlebih mereka yang sudah merasakan hamil dan melahirkan. Berbeda dengan pria yang tak sama sekali merasakan baby blues syndrome. Pernahkah Anda atau pasangan merasakan baby blues syndrome sebelumnya?

Comments are closed.