Kenali Gangguan Kecemasan pada Anak

Anak-anak rentan terkena gangguan psikologis yang berujung pada kecemasan. Yuk, kenali gangguan psikologis yang sering dialami anak.

Family

Oleh Ratih IbrahimÊ
PsikologÊ
Ê
Anak-anak rentan terkena gangguan psikologis yang berujung pada kecemasan. Yuk, kenali gangguan psikologis yang sering dialami anak.Ê
Ê
Gangguan psikologis berpotensi memicu munculnya perasaan cemas pada sebagian besar orang, termasuk anak-anak. Bahkan rasa cemas bisa menjadi sangat intens. Padahal cemas merupakan bagian dari emosi yang wajar terjadi pada setiap orang dan biasanya muncul sebagai respon terhadap situasi tertentu.Ê
Ê

Rasa Cemas Dialami Setiap OrangÊ

Setiap orang pasti pernah mengalami rasa cemas di setiap tahap perkembangannya. Misalnya, bayi dapat cemas apabila ia kedinginan akibat popoknya basah. Selain itu, anak-anak dihinggapi rasa cemas saat menghadapi ujian kenaikan kelas, saat melihat ayah dan ibunya bertengkar, ketika masuk ke lingkungan baru, sekolah baru, dan bertemu orang baru. Intinya, setiap saat orang bisa mengalami rasa cemas dan perasaan itu merupakan hal yang manusiawi.Ê
Ê

Cemas Wajar Vs Cemas BerlebihanÊ

Bayangkan jika anak-anak tidak meiliki rasa cemas sama sekali. Sangat mungkin, mereka akan bersikap santai atau bahkan tidak peduli dengan nilai ulangan. Mereka juga bisa bersikap tidak acuh terhadap kemungkinan tidak naik kelas.Ê
Ê
Namun, sampai sejauh mana rasa cemas tersebut dapat dikatakan normal? Bagaimana caranya orangtua dapat membedakan anaknya mengalami rasa cemas yang wajar atau cemas berlebihan? Seperti apa pula bentuk kecemasan yang berlebihan tersebut?Ê
Ê
Rasa cemas dikatakan wajar apabila berlangsung dalam waktu singkat, seiring berlalunya peristiwa yang memicu terjadinya kecemasan. Misalnya, usai ulangan di sekolah anak-anak pun tidak lagi merasa cemas. Kecemasan juga normal terjadi jika individu yang mengalaminya mampu mengatasi perasaannya dengan cara-cara positif. Misalnya jika cemas mendapatkan nilai buruk, maka ia dapat mengatasinya dengan giat belajar.Ê
Ê
Apabila objek yang menjadi sumber kecemasan telah berlalu atau bahkan sebenarnya tidak ada, tapi kecemasan tetap dirasakan. Maka dapat dikatakan hal tersebut bisa dikategorikan tidak wajar atau berlebihan.Ê
Ê
Kecemasan juga menjadi berlebihan apabila individu menunjukkan reaksi negatif terhadap perasaannya itu. Seperti perubahan perilaku, di antaranya sulit tidur, menggigiti kuku, menarik-narik rambut, tidak napsu makan, diare, gelisah, uring-uringan, menjadi panik, stres dan lain-lain.Ê
Ê
Coba amati perilaku anak-anak Anda. Jika salah satu perilaku tersebut ada padanya dan terjadi secara terus-menerus dalam waktu lebih dari dua minggu dan masih terus berlanjut, bahkan kondisinya memburuk, berarti kecemasannya semakin akut.Ê
Ê
Pada anak-anak, indikator lainnya ialah ia mengalami kecemasan berlebihan adalah ketika rasa cemasnya sudah tidak sesuai dengan tahap usia perkembangannya. Anak-anak usia 1-4 tahun wajar merasa cemas jika hendak ditinggalkan orangtuanya. Namun, jika kecemasan yang sama masih timbul pada anak usia 8 tahun, maka dapat dikatakan hal tersebut sudah tidak wajar dan perlu mendapat perhatian dari orangtua.Ê
Ê

Penyebab Timbulnya KecemasanÊ

Berbagai teori mengungkapkan penyebab timbulnya kecemasan pada anak-anak, seperti faktor neurobiologis, faktor genetik, dan lain sebagainya. Tak jarang orangtua yang pencemas juga berpotensi mengakibatkan anak yang pencemas.Ê
Ê
Ibu yang diliputi kecemasan saat mengandung, akan melahirkan anak-anak yang cenderung pencemas. Tapi pada prakteknya, faktor dari keluargalah yang paling sering menjadi penyebab rentannya anak-anak mengalami kecemasan. Dimulai dari proses pembentukan attachment yang tidak baik pada anak di bawah usia 2 tahun, misalnya anak ditelantarkan atau diperlakukan secara kasar, maka ia akan mengembangkan sikap insecure terhadap lingkungan dan dunia di sekitarnya.Ê
Ê
Pada tahap usia selanjutnya, jika pengabaian atau sikap kasar terus dialami anak, maka kecemasan yang dirasakan anak akan semakin meningkat. Begitu pula dengan orangtua yang bersikap terlalu melindungi atau terlalu mengendalikan anak. Semakin besar peluang munculnya gangguan kecemasan pada anak-anak tersebut.Ê
Ê

Akibat Gangguan KecemasanÊ

Anak-anak yang mengalami gangguan kecemasan dapat menunjukkan berbagai macam bentuk manifestasi kecemasan yang dirasakannya secara berbeda-beda.Ê
¥ Gagap: ada anak yang mengalami kecemasan menjadi gagap (stuttering disorder).Ê
¥ Menjadi pendiam: Sebagian anak memilih diam dan tidak berbicara apapun pada situasi tertentu yang menyebabkan dirinya tidak nyaman (selective mutism).Ê
¥ Fobia juga kerap dialami anak-anak yang mengalami kecemasan berlebih atau irasional terhadap suatu objek atau peristiwa tertentu. Baik fobia spesifik ataupun fobia sosial.Ê
¥ Obsesi-kompulsi: Obsesi adalah pikiran yang timbul secara terus menerus, sulit dikendalikan, dan tidak diharapkan. Sementara kompulsif adalah perilaku berulang dan sengaja dilakukan sebagai bentuk respon dari obsesi yang muncul. Contohnya, seorang anak yang cemas dirinya terkena penyakit akan mencuci tangan secara berulang-ulang dalam frekuensi makin meningkat secara berkala setiap harinya.Ê
Ê

Cara mengatasi Gangguan Kecemasan pada AnakÊ

Gangguan kecemasan bukan hal sepele. Orangtua perlu mengupayakan penanganan serius untuk membantu mengatasi gangguan tersebut. Karena apapun bentuknya, gangguan kecemasan sangat menghambat perkembangan seorang anak, begitu pula dengan perilakunya di lingkungan. Gangguan itu perlu diatasi sesegera mungkin agar dampaknya tidak parah. Bahkan bila perlu dapat diantisipasi sedini mungkin agar tidak sampai terjadi.Ê
Ê

Mengantisipasi Gangguan KecemasanÊ

Agar gangguan kecemasan pada anak tidak berkembang menjadi buruk, berikut beberapa hal yang dapat Anda lakukan:Ê

¥ Kenali gejala dan konsultasikan

Orangtua perlu mengenali gejala-gejala yang tampak pada perilaku negatif anak. Setelahnya akan lebih baik jika mengkonsultasikan gangguan yang terjadi pada psikolog anak untuk mengenali bentuk gangguannya, sehingga diagnosa bisa dilakukan.Ê

¥ Treatment yang tepat

Berdasarkan diagnosa tersebut akan dilakukan bentuk penanganan (treatment) yang tepat, disesuaikan dengan kebutuhan anak. Selain sesi-sesi konseling, akan dilakukan terapi untuk membantu anak mengatasi gangguan kecemasannya. Diantaranya terapi kognitif-perilaku, terapi seni, atau terapi bermain. Tentu saja, jenis terapi yang dipilih harus disesuaikan dengan kebutuhan si anak. Semakin kecil usia anak, peran orangtua sangat penting dalam menentukan keberhasilan terapi.Ê

¥ Mencegah lebih baik

Mencegah terjadinya gangguan akan lebih baik. Peran keluarga sangat penting karena basis tumbuh kembang anak yang paling utama. Orangtua memberikan rasa aman dan paham pada kebutuhan anak sesuai dengan usia perkembangannya.Ê

Ê
Untuk meredam rasa cemas pada anak, orangtua juga perlu meningkatkan kualitas baik interaksi fisik, sosial, dan memperbaiki bentuk komunikasi agar menjadi efektif dan berkualitas.

Leave a Reply