Kiat Sukses jadi Orang Tua Tunggal Ideal

Menjadi single parent bukanlah akhir dari dunia. Meski mungkin terdengar sulit mengasuh anak seorang diri, buang semua pikiran negatif yang ada di kepala.

Family

Menjadi single parent bukanlah akhir dari dunia.
Meski mungkin terdengar sulit mengasuh anak seorang diri, buang semua pikiran negatif yang ada di kepala.

Masih hangat dalam ingatan kita mengenai perceraian aktor Tom Cruise dan Katie Holmes yang sangat mengejutkan, terutama karena pasangan ini terkenal sangat harmonis dan kompak dalam membesarkan Suri, putri semata wayang mereka. Boleh dibilang peristiwa tersebut membuka mata masyarakat luas bahwa membesarkan dan mengawasi anak merupakan suatu tantangan yang sangat besar bagi orang tua tunggal. Pertanyaannya, siapkah Anda mengemban tanggung jawab tersebut?

Sebagian orang menganggap perceraian adalah peristiwa yang tidak dapat dihindarkan dan diinginkan. Begitu pula saat kita harus kehilangan pasangan hidup untuk selama-lamanya. Namun, menjadi orang tua tunggal yang ideal bukan pula hal yang tak mungkin.

Saat menjadi orang tua tunggal banyak perubahan yang terjadi dalam diri Anda, termasuk pada anak. Selain perubahan psikologis, perubahan tanggung jawab pun terjadi. Segala sesuatu yang biasanya ditanggung berdua, seperti kebutuhan sehari-hari dan tugas membesarkan anak kini harus ditanggung seorang diri.

Menjadi orang tua tunggal mungkin sulit, namun Anda bisa bertahan dan bahkan bisa menjadi orang tua ideal jika menentukan sikap dan mengambil langkah yang tepat.

Berikut beberapa tip sukses menjadi orang tua tunggal:

1. Move On
Pascaperceraian, perasaan bersalah akibat perceraian atau sedih karena ditinggalkan menghinggapi Anda? Jika Anda terus berlarut-larut bagaimana mungkin Anda bisa kembali menata hidup? Oleh karena itu, tinggalkan masa lalu… move on!

Himpun kembali semangat untuk menjalani hidup agar anak juga terpengaruh dengan energi positif yang Anda pancarkan. Selain itu, berpikir positif juga dapat membuat Anda lebih tegar dalam menghadapi berbagai tantangan hidup saat menghadapi segala sesuatu seorang diri.

Fokus pada impian Anda yang belum terwujud atau hal-hal yang ingin Anda lakukan bersama sang buah hati. Daripada berlarut-larut dalam kesedihan, gunakan kesempatan ini untuk mewujudkan impian dan keinginan Anda.

2. Fokus pada Anak
Apapun yang terjadi, anak tetaplah prioritas utama Anda dan mantan pasangan. Dalam hal ini, jangan sampai anak menjadi korban keegoisan orang tua semata. Anda pun tak ingin mereka ikut menderita bukan?

Beri pengertian kepada anak agar mereka memahami situasi yang terjadi. Biasanya dampak psikologis yang muncul adalah penyangkalan dan kemarahan yang mengakibatkan berubahnya perilaku anak sebagai bentuk ketidaksukaan dan ketidaknyamanan yang dirasakan.

Pertanyaan-pertanyaan seperti, •kenapa sih ayah/ibu harus pisah?• mungkin sering terlontar dari mulut si kecil. Jika hal ini terjadi, bagaimana biasanya Anda menyikapinya? Sesungguhnya ini merupakan tantangan terbesar sebagai orang tua tunggal yang harus menjalani peran ganda sebagai ayah sekaligus ibu atau sebaliknya.

Ajak anak berkomunikasi, beri perhatian lebih saat mereka beraktivitas, belajar, dan tunjukkan antusiasme Anda terhadap kegiatannya sehari-hari. Hal ini dapat mencegah anak kehilangan identitas sosialnya.

3. Tunjukkan Cinta dan Kasih Sayang
Anda tak sendiri, jangan lupa, anak biasanya memiliki kedekatan emosional dengan orang tuanya. Sadarkah Anda kalau mereka ikut merasakan kesedihan, kesepian, dan trauma yang Anda rasakan? Oleh karena itu, peran Anda sangat penting untuk menentramkan hati dan meyakinkan anak Anda bahwa ia tidak bersalah.

Lain halnya dengan anak yang kehilangan salah satu orang tuanya karena meninggal. Selain lebih rentan terhadap stres, anak mengalami perasaan kehilangan dan terluka dalam diri mereka yang tidak akan sembuh sepenuhnya. Kehadiran serta peran Anda dan keluarga dalam hidup sang anak merupakan faktor yang sangat penting bagi kondisi psikologisnya di masa depan.

Untuk itu, coba mulai dari hal-hal sederhana, seperti menemani mereka saat melakukan aktivitas dan beri pelukan saat ngobrol santai. Memang terlihat sepele, namun hal tersebut dapat memberikan rasa nyaman dan dicintai, sekaligus mengembalikan rasa kepercayaan diri anak.

4. Menjaga Hubungan Baik dengan Mantan Pasangan
Hal yang kerap terjadi dari perpisahan adalah putusnya tali silaturahmi dengan sang mantan pasangan dan keluarganya. Padahal bagi mereka yang telah dikarunai anak, menjaga hubungan baik adalah hal yang sangat penting.

Oleh karena itu, singkirkan ego dan pikirkanlah masa depan anak Anda. Beri waktu dan ruang yang cukup bagi anak agar bisa terus bertemu serta berkomunikasi dengan ayah atau ibu mereka. Meskipun telah berpisah, sesekali ajak anak bertemu ayah atau ibunya untuk melakukan aktivitas bersama-sama atau mengunjungi kakek neneknya.

Hubungan baik yang terus terjaga juga dapat menyingkirkan perasaan bersalah anak atas perceraian dan perasaan terjepit berada di tengah-tengah orang tua yang telah berpisah.

5. Dekatkan Diri dengan Keluarga
Dalam masa-masa sulit, tak dapat dimungkiri bahwa kasih sayang dan dukungan keluarga memang sangat penting. Jangan sungkan atau gengsi untuk menerima uluran tangan keluarga Anda atau bahkan keluarga mantan pasangan.

Ingat, terkadang Anda tidak dapat melakukan banyak hal seorang diri. Khususnya bagi mereka yang kehilangan pasangan akibat kematian, sangat penting untuk mempererat hubungan Anda dengan keluarga pasangan. Dengan begitu, anak tidak benar-benar merasa kehilangan segalanya.

Kehadiran kakek dan nenek, sepupu, serta tante, dan orang terdekat lainnya bisa menjadi obat yang ampuh bagi anak melalui masa transisi. Ciptakan suasana nyaman agar anak bisa membicarakan orang tua mereka yang telah tiada, berbagi kenangan, dan menerima kasih sayang dari anggota keluarga lain.

Leave a Reply