Perjanjian Pranikah, Apa dan Bagaimana Caranya?

Family

Perjanjian pranikah merupakan opsi agar tidak terjadi hal yang merugikan setelah pernikahan berlangsung dan membuat pernikahan terasa sempurna.

Menikah merupakan salah satu keputusan besar dalam hidup setiap orang. Saat seseorang telah mencapai usia cukup matang dan dewasa untuk melangsungkan pernikahan, telah didukung oleh berbagai faktor seperti memiliki pekerjaan tetap dan penghasilan yang cukup untuk menghidupi sebuah keluarga setiap bulannya, maka menikah adalah keputusan yang pas untuk diambil.

Namun, harus diakui, memutuskan untuk menikah tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Kedengarannya sangatlah indah untuk mengganti status dari lajang menjadi menikah dan menjadi suami atau istri dari seseorang, tapi faktanya tidaklah sesederhana itu.

Banyak hal yang harus dipikirkan sebelum akhirnya memutuskan untuk menikah, baik secara jasmani dan rohani serta kondisi finansial kedua belah pihak. Sebab, tanggung jawab besar akan menanti orang-orang yang sudah secara resmi menikah dan memiliki tugas sebagai suami dan istri dari pasangan.

Jika tidak dipersiapkan dengan sangat matang, risiko terjadinya kegagalan dalam mengarungi bahtera rumah tangga sangatlah besar. Tentu semua orang berharap untuk menikah satu kali dalam seumur hidup tanpa ada halangan yang berarti hingga menyebabkan perpisahan. Tapi, kembali lagi, setiap hal pasti memiliki risiko, terlebih dalam hal pernikahan.

Baca juga: Dekorasi Pernikahan yang Unik, dari Mewah Hingga Sederhana!

Seiring berjalannya waktu, banyak hal yang berkembang terkait dengan pernikahan. Tujuannya jelas, untuk menghindari perceraian atau perpisahan setelah menikah. Salah satu cara yang diupayakan dan dinilai cukup efektif tak lain adalah perjanjian pranikah.

Perjanjian pranikah merupakan perjanjian yang dibuat sebelum pernikahan dilangsungkan dan mengikat kedua belah pihak calon pengantin yang akan menikah. Jadi, segala hal terkait pernikahan tertulis dalam perjanjian tersebut, mulai dari kewajiban hingga perihal harta atau keuangan. Perjanjian pranikah tercetus karena tingginya tingkat perceraian akibat harta dan berbagai faktor lainnya yang ada dalam rumah tangga sebuah pasangan. Jadi, hadirnya perjanjian pranikah diharapkan dapat menekan angka perceraian.

Perjanjian ini memiliki dasar hukum yang kuat jika sudah ditandatangani oleh kedua belah pihak di atas materai. Sebab, perjanjian pranikah tercatat dalam Pasal 29 Ayat 1 UU No. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan atau pernikahan. Ada dua hal penting yang tercantum pada perjanjian pranikah. Inilah kedua hal tersebut!

Baca juga: 3 Trik Mempersiapkan Biaya Pernikahan 2019

Dua Hal Penting yang Tercantum Pada Perjanjian Pranikah

Pemisahan Harta Benda

Sejatinya, harta yang dimiliki suami dan istri merupakan satu kesatuan atau milik bersama. Namun, ada beberapa alasan yang membuat pemisahan harta benda menjadi penting dan perlu dicantumkan dalam perjanjian pranikah, yaitu:

  1. Suami atau istri dinyatakan berkelakuan tidak baik yaitu dengan memboroskan harta kekayaan bersama untuk kepentingan pribadi.
  2. Suami dinyatakan mengurus hartanya sendiri, tidak memberikan bagian yang laik kepada istri sehingga hak istri menjadi hilang.
  3. Diketahui adanya kelalaian yang sangat besar dalam mengurus harta perkawinan sehingga memiliki kemungkinan hilangnya harta bersama.

Perjanjian Kawin

Perjanjian ini dibuat oleh kedua calon mempelai untuk mengatur akibat yang mungkin muncul mengenai harta kekayaan bersama. Dalam perjanjian ini pihak ketiga boleh diikut sertakan. Hal yang jelas harus menjadi perhatian ketika membuat perjanjian kawin ini dalam perjanjian pranikah antara lain:

  1. Perjanjian itu tidak diperbolehkan bertentangan dengan kesusilaan dan ketertiban umum.
  2. Perjanjian itu tidak dibuat menyimpang dari: (1) hak-hak yang timbul dari kekuasaan suami, (2) hak-hak yang timbul dari kekuasaan orangtua.
  3. Perjanjian itu tidak mengandung pelepasan hak atas peninggalan orang-orang yang mewariskannya.
  4. Perjanjian itu tidak boleh menjanjikan bahwa satu pihak harus membayar sebagian utang yang lebih besar daripada bagiannya.
  5. Perjanjian itu tidak boleh dibuat janji bahwa perkawinan mereka akan diatur oleh hukum asing.

Sebagai catatan, perjanjian kawin harus dibuat di hadapan akta notaris sebelum dilangsungkannya pernikahan. Jika pernikahan telah berlangsung, tak ada satu pun poin pada perjanjian yang dapat diubah atas alasan apa pun.

Baca juga: Liburan Bulan Madu yang Tepat untuk Merayakan Anniversary Pernikahan

Perjanjian pranikah memang tidak diwajibkan untuk dibuat. Namun, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan setelah kehidupan rumah tangga berjalan, rasanya perjanjian pranikah ini sangatlah diperlukan oleh kedua mempelai. Tapi, di atas semua hal, perjanjian pranikah harus dibuat atas kesadaran dan kerelaan kedua calon mempelai. Dalam pembuatannya pun, sebaiknya kedua calon mempelai memperhatikan beberapa aspek krusial berikut ini:

Keterbukaan

Sebelum Anda benar-benar siap mental dalam menghadapi rumah tangga dan segala persoalannya, pembuatan perjanjian pranikah membantu kedua calon mempelai melatih diri untuk bersikap terbuka dengan mental yang siap dalam menghadapi perkara yang mungkin Anda hadapi nantinya ketika sudah sah sebagai suami dan istri.

Pembuatan perjanjian pranikah mengharuskan calon suami dan istri untuk terbuka dalam segala hal, baik jumlah harta pribadi masing-masing yang akan dibawa hingga permasalahan yang terjadi di dalam sebuah rumah tangga. Segala hal harus secara terbuka dibicarakan dan dicantumkan dalam perjanjian pranikah agar kedua belah pihak tidak ada yang merasa dirugikan.

Kerelaan

Selain keterbukaan, kerelaan kedua calon mempelai pun harus disertakan dalam pembuatan perjanjian pranikah. Artinya, semua poin yang tercantum dalam perjanjian pranikah adalah murni keputusan bersama tanpa ada paksaan dari pihak mana pun.

Kerelaan ini pada akhirnya membuat proses pernikahan berjalan lancar dan bila terjadi sesuatu yang tak diinginkan, maka hal yang tercantum pada perjanian pranikah harus dilakukan dengan ikhlas.

Objektif

Perjanjian pranikah haruslah objektif. Hal ini untuk dilakukan agar perjanjian tersebut terasa adil untuk kedua belah pihak. Agar perjanjian menjadi objektif, perlu seorang saksi yang bukan dari pihak calon mempelai mana pun, melainkan dari Kantor Urusan Agama.

Setelah perjanjian dibuat, saksi akan melihat secara rinci poin-poin yang tercantum. Jika ada yang dirasa tidak objektif, maka perjanjian tersebut perlu diperbaiki. Namun jika tidak, perjanjian dapat diresmikan.

Memang, memutuskan untuk menikah berarti bersedia melalui segala hal, baik dan buruk, sebagai seorang suami istri dengan penuh cinta dan kasih saying. Tapi, sekali lagi, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dan merugikan kedua belah pihak, perjanjian pranikah adalah opsi yang baik untuk diterapkan.

Comments are closed.