Sosok Wanita Gagah Berani, Pahlawan Nasional Indonesia

BeritaFeatured

Keberanian para pejuang tanah air dalam memerangi ketidakadilan masa penjajahan, melahirkan para Pahlawan Nasional Indonesia yang beberapa  diantaranya merupakan wanita.

Tak hanya perjuangan sebagai Ibu dan Istri, pada zaman dahulu wanita-wanita Indonesia dihadapkan pada berbagai kondisi sulit, di mana mengharuskan mereka untuk melakukan perjuangan lain membela tanah air. Perjuang itulah yang menjadikan beberapa wanita-wanita terdahulu layak disematkan gelar sebagai Pahlawan.

Secara etimologi kata “pahlawan” berasal dari bahasa Sanskerta “phala”, yang artinya hasil atau buah. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pahlawan berarti seseorang yang mempunyai keberanian dan pengorbanan dalam membela kebenaran bagi bangsa, negara dan agama atau pejuang yang gagah berani.

Baca juga: Hari Dokter Indonesia, Peringatan bagi Jasa Luar Biasa

6 Pahlawan Nasional Wanita Indonesia

Pahlawan Nasional adalah gelar penghargaan tertinggi di Indonesia. Gelar anumerta atau gelar yang diberikan kepada orang yang sudah meninggal ini diberikan oleh Pemerintah Indonesia sebagai perbuatan nyata yang sangat berjasa dan diteladani bagi masyarakat. Dari surat keputusan presiden, ada 159 tokoh pahlawan Indonesia dan beberapa diantaranya adalah para pahlawannasional wanita sebagai berikut.

Cut Nyak Meutia – Aceh

Cut Nyak Meutia adalah pahlawan dari Aceh yang lahir di Keureutoe, Pirak, Aceh Utara 1870. Ia terkenal sebagai wanita yang mempunyai semangat juang tinggi dan tekad yang kuat untuk mengusir penjajah.

Cut Nyak Meutia melawan Belanda bersama suaminya, yaitu Teuku Muhammad atau lebih dikenal dengan Teuku Tjik Tunong. Mereka merupakan suami-istri sekaligus rekan perjuangan yang solid untuk melawan Belanda. Sampai akhirnya pada Maret 1905, Teuku Tjik Tunong ditangkap oleh pihak Belanda dan dijatuhkan hukuman mati di tepi pantai Lhokseumawe. Sebelum meninggal, ia menitipkan pesan kepada sahabatnya Pang Nagroe untuk menikahi istrinya dan merawat anaknya.

Pada pertempuran di Alue Kurieng tanggal 24 Oktober 1910, Cut Nyak Meutia tertembak peluru dan dinyatakan telah gugur. Atas segala jasa-jasanya, pemerintah menganugerahi gelar Pahlawan Indonesia berdasarkan SK Presiden RI No 107 Tahun 1964 pada tanggal 2 Mei 1964. Kisah heroiknya juga lah yang membakar semangat masyarakat indonesia dalam melawan Peristiwa G30S/PKI 1965.

Raden Ajeng Kartini – Jepara

ragam pahlawan nasional

source: hartonomall.com

Raden Ajeng Kartini adalah pejuang wanita asal Jepara yang sangat terkenal di Indonesia. Beliau dikenal sebagai seorang wanita yang gigih memperjuangkan emansipasi wanita. Kartini lahir di Jepara, 21 April 1879. Hari kelahirannya diperingati sebagai Hari Kartini, untuk menghormati segala jasa-jasanya pada bangsa Indonesia.

Kartini merasakan banyak diskriminasi antara pria dan wanita, dimana ia dan perempuan lainnya tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, bahkan ada beberapa perempuan yang sama sekali tidak diperbolehkan mengenyam pendidikan. Di masa pingitannya, Kartini suka menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda, salah satunya adalah Rosa Abendanon. Kartini tertarik dengan kemajuan dan pola pikir perempuan Eropa setelah banyak membaca buku-buku, koran, dan majalah Eropa. Timbul keinginan Kartini untuk memajukan perempuan pribumi seperti perempuan Eropa, karena saat itu perempuan pribumi berada di status sosial yang rendah.

Kartini wafat 4 hari setelah melahirkan anak pertamanya. Wafatnya Kartini tidak mengakhiri perjuangannya sebagai pelopor emansipasi wanita, salah satu temannya di Belanda yaitu, Abendanon mengumpulkan semua surat-surat yang dulu pernah dikirimkan Kartini ke teman-temannya di Eropa. Abendanon membukukan seluruh surat itu dan diberi judul Door Duisternis tot Licht yang artinya “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”, terbit pada tahun 1911 dalam bahasa Belanda.

Raden Dewi Sartika – Jawa Barat

ragam pahlawan nasional

source: jabar.tribunnews.com

Raden Dewi Sartika, adalah salah satu tokoh perintis pendidikan bagi kaum wanita. Beliau lahir di Bandung, 4 Desember 1884 dari pasangan Raden Somanegara dan Raden Ayu Permas.

Ia memulai perjuangannya sejak usia 18 tahun dengan mengajarkan membaca, menulis, memasak dan menjahit bagi perempuan-perempuan di kotanya. Pada 16 Juli 1904, Raden Dewi Sartika mendirikan Sakola Istri atau Sakola Perempuan. Di tahun 1904, Sakola Istri dirubah namanya menjadi Sakola Keutamaan Istri dan pada tahun 1929, Sakola tersebut berganti nama lagi menjadi Sakola Raden Dewi.

Dewi Sartika menghembuskan napas terakhirnya di Tasikmalaya, 11 September 1947. Atas perjuangannya dalam mencerdaskan bangsa, Ia diberikan gelar kehormatan sebagai Pahlawan Indonesia, pada tanggal 1 Desember 1966.

Baca juga: 8 Kartini Masa Kini yang Sangat Menginspirasi

Martha Christina Tiahahu – Maluku

ragam pahlawan nasional

source: surabaya.tribunnews.com

Martha Christina Tiahalu merupakan salah satu pejuang wanita yang lahir di Maluku, 4 Januari 1800. Christina adalah seorang putri dari Kapitan Paulus Tiahahu, yang juga turut serta dalam perang Patimura melawan Belanda pada tahun 1817.

Martha Christina juga berperan sebagai pemimpin pejuang wanita untuk mendampingi para pejuang pria dalam misi perebutan wilayah Belanda di desa Ouw, Ulath Pulau Saparua. Richemont, seorang pimpinan peran Belanda dibunuh oleh pasukan Martha Cristina. Dengan kematian pimpinan Belanda tersebut, penjajah semakin marah dan terus menyerang rakyat Maluku sehingga pasukan Maluku dikalahkan. Sebagai konsekuensinya, Ayah Martha Christina tertangkap dan dijatuhi hukuman mati.

Martha Christina dihukum dan diusingkan ke pulau Jawa. Sampai akhirnya pada 2 Januari 1818, Martha Christina meninggal dalam perjalanan menuju pulau Jawa dan jasadnya hanya dibuang ke lautan. Atas perjuangan dan keberaniannya dalam melawan penjajah, Martha Christina diberikan gelar kehormatan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia, menurut SK Presiden RI No.012/TK/Tahun 1969, tanggal 20 Mei 1969.

Nyai Hj. Siti Walidah Ahmad Dahlan – Yogyakarta

Nyai Ahmad Dahlan lahir di Yogyakarta tahun 1872 merupakan keturunan dari keluarga pemuka Agama Islam dan penghulu resmi Keraton, Kyai Haji Fadhil. Sejak kecil, Siti Walidah tidak mendapatkan pendidikan umum, kecuali pendidikan agama yang ia dapatkan dari orangtuanya.

Pada tahun 1914, Nyai Ahmad Dalam merintis kelompok pengajian wanita Sopo Tresno. Sopo Tresno menjadi sebuah organisasi kewanitaan berbasis agama Islam. Akhirnya dipilihlah nama Aisyah, sebagai organisasi islam bagi kaum wanita tepat pada malam  Isra Mi’raj, 22 April 1917. Lima tahun kemudian, Aisyah resmi menjadi bagian dari Muhammadiyah.

Pada 31 Mei 1946, Nyai Ahmad Dahlan meninggal dunia. Untuk menghormati segala jasa-jasanya dalam menyebarluaskan agama islam dan mendidik perempuan, pemerintah memberikan gelar kehormatan kepada Nyai Ahmad Dahlan sebagai Pahlawan Indonesia berdasarkan SK Presiden RI No 042/TK/1971.

Hj. Rangkayo Rasuna Said – Jakarta

Hajjah Rangkayo Rasuna Said merupakan seorang pejuang wanita yang gigih memperjuangkan persamaan hak antara laki-laki dan perempuan. Sejak kecil, Rasuna Said sudah mengenyam pendidikan Islam di pesantren dan tertarik mengikuti perjuangan politik. Kemudian Rasuna Said membela kaumnya dengan bergabung di Sarekat Rakyat sebagai sekretaris cabang. Setelah itu, ia menjadi anggota Persatuan Muslim Indonesia.

Rasuna Said menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung sampai akhir hayatnya. Rasuna Said meninggal pada 2 November 1965 di Jakarta dengan meninggalkan seorang putri dan 6 cucu. Atas segala jasa-jasanya, Rasuna Said diberikan gelar kehormatan sebagai Pahlawan Indonesia berdasarkan SK Presiden RI No. 084/TK/Tahun 1974 tanggal 13 Desember 1974.

Melihat sejarah perjuangan Pahlawan Wanita di Indonesia, sudah selayaknya kita berbangga memiliki sosok wanita gagah berani yang cinta tanah air. Anda bisa turut mengenang para pahlwan dengan mengajarkan nilai keberanian dan peduli tanah air dengan menceritakan sejarah-sejarah perjuangan pahlawan di masa lampau kepada anak cucu nantinya.

Baca juga: Hari Guru, Penghargaan Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Comments are closed.