Jadi Pencegahan Utama Kanker Serviks, Ini Besar Biaya Tes Pap Smear

Asuransi KesehatanHealth

Pap smear menjadi metode pemeriksaan paling efektif untuk mengetahui ada tidaknya sel penyebab kanker serviks. Biaya pap smear ini bervariatif mulai dari puluhan hingga ratusan ribu rupiah

Pap smear, juga disebut tes Pap, adalah sebuah prosedur yang bertujuan menguji kanker serviks pada wanita. Tes pap smear dilakukan dengan mengumpulkan sel-sel dati leher rahim hingga ujung bawah rahim di bagian atas vagina Anda.  Pap smear juga dapat mendeteksi perubahan pada sel-sel serviks Anda yang mengarah pada pekembangan kanker.

Mendeteksi sel-sel abnormal ini sejak dini dengan tes Pap smear adalah langkah penting untuk menghentikan perkembangan kanker serviks. Pap smear biasanya dilakukan bersamaan dengan pemeriksaan panggul. Pada wanita direntang usia 30an, tes Pap dapat dikombinasikan dengan tes  human papillomavirus (HPV) – infeksi menular seksual yang juga seringkali jadi penyebab kanker serviks. Dalam beberapa kasus, tes HPV dapat dilakukan sebagai ganti Pap smear.

Tes Pap Smear dan Pertanggungan Asuransi

Baca juga: Cashless dan Reimbursement dalam Asuransi Kesehatan

Kabar gembira bagi para wanita karena tes pap smear ini ditanggung oleh asuransi kesehatan, lho. Perusahaan asuransi telah memasukkan tes pap smear sebagai bagian dari pertanggungan mereka kepada pemegang polis.

Untuk mendapatkan produk asuransi Kesehatan yang aman dan bisa disesuaikan dengan kebutuhan, langsung saja cek di Futuready karena ada banyak produk asuransi yang bisa Anda cari, bandingkan, dan pilih dengan mudah.

Metode dan Biaya Pemeriksaan Pap smear

Mendengar kata pap semar seringkali membuat tubuh begidik ngeri, sebab para wanita sudah paham bahwa tes ini mewajibkan masuknya benda asing kedalam tubuh. Namun tenang saja, karena metode pap smear ini tidak menyakitkan. Umumnya pemeriksaan pap semar berlangsung antara 20 hingga 30 menit dan hanya bisa dilakukan oleh dokter kandungan.

Biaya pap smear di Indonesia sangat terjangkau yakni mulai dari Rp 100 ribu untuk sekali tes. Namun tiap rumah sakit atau fasilitas kesehatan memiliki kebijakan berbeda terkait penentuan harga ini, sebab ada berbagai faktor yang dipertimbangkan. Mulai dari kelengkapan peralatan, jasa dokter hingga kondisi kesehatan pasien.

Biaya Pemeriksaan Pap smear

Meski harga tes pap smear berbeda-beda, namun sebenarnya metode yang digunakan tetaplah sama. Metode pap smear dilakukan dengan menggunakan  pemeriksaan panggul ginekologis. Dokter akan memasukkan alat yang disebut spekulum ke dalam vagina hingga mencapai sel-sel serviks. Kemudian, dokter akan mengambil sampel sel serviks menggunakan kuas atau spatula dan mengirimkannya ke laboratorium untuk diuji.

Biasanya hasil uji baru dapat diambil tiga pekan setelah pemeriksaan. Para dokter menyarankan untuk menghindari Pap smear selama periode menstruasi, terutama dihari pertama karena ini dapat memengaruhi hasil tes. Selain itu sebelum masa pemeriksaan pasien tidak diperkenankan melakukan pembersihan vagina atau melakukan aktifitas yang melibatkan vagina.

Hasil tes pap smear ini memiliki tingkat keakuratan hingga 80% sehingga menjadi tindakan terbaik untuk mencegah terjadinya kanker serviks.

Hasil Tes Pap Smear

Hasil Tes Pap Smear

Biasanya hasil tes pap smear akan terlihat dua hingga tiga pekan setelah pemeriksaan. Ada dua kesimpulan yang biasanya disampaikan dokter yakni normal dan abnormal.

Hasil Pap Smear Normal

Jika hasil pemeriksaan Anda normal, itu berarti tidak ada sel abnormal yang diidentifikasi. Hasil normal kadang-kadang juga disebut sebagai negatif. Jika hasil tes pap smear normal, kemungkinan besar Anda tidak akan diminta untuk melakukan Pap smear selama tiga tahun kemudian.

Baca juga: 7 Kiat Menghemat Biaya Berobat yang Patut Anda Coba

Hasil Pap Smear Tidak Normal

Jika hasil tes menunjukkan tidak normal, ini bukan berarti Anda positif menderita kanker. Ini hanya berarti bahwa ada sel-sel abnormal pada serviks yang harus segera ditangani, beberapa di antaranya bisa bersifat prekanker. Sebagai informasi ada beberapa level sel abnormal yakni :

  • Atypia
  • ringan
  • moderat
  • displasia berat
  • karsinoma in situ
  • Sel-sel abnormal yang lebih ringan lebih umum daripada abnormalitas yang parah.

Saat hasil pemeriksaan menunjukkan tidak normal biasanya dokter akan menyarankan untuk meningkatkan frekuensi tes pap smear, serta melakukan pemeriksaan lanjutan untuk melihat lebih dekat jaringan serviks Anda dengan prosedur yang disebut colposcopy. Selama pemeriksaan kolposkopi, dokter akan menggunakan cahaya dan pembesaran untuk melihat jaringan vagina dan serviks lebih jelas. Dalam beberapa kasus, mereka juga dapat mengambil sampel jaringan serviks Anda dalam prosedur yang disebut biopsi.

Waktu yang Tepat Melakukan Pap Smear

Waktu yang Tepat Melakukan Pap Smear

Pentingnya pap smear ini akhirnya menimbulkan pertanyaan mengenai kapan waktu yang tepat bagi seorang wanita melakukan tes ini. Tidak ada jawaban yang pasti sebab rekomendasi mengenai frekuensi pap smear ini bergantung pada beberapa faktor diantaranya:

  • Usia
  • riwayat kesehatan
  • paparan diethylstilbestrol (DES) saat dalam hamil
  • Status HIV
  • sistem kekebalan tubuh

Umumnya para pakar kesehatan memberikan rekomendasi soal frekuensi pemeriksaan pap smear ini berdasarkan rentang usia pasien, yakni:

  • Wanita berusia 21-29 tahun harus melakukan tes Pap setiap 3 tahun.
  • Wanita berusia 30-65 tahun harus melakukan tes Pap setiap 3 tahun, atau tes HPV setiap 5 tahun, atau tes co-Pap dan HPV setiap 5 tahun.
  • Setelah usia 65 tahun atau yang telah menjalani operasi pengangkatan rahim tidak akan membutuhkan Pap smear.

Baca juga: Manfaat dan Biaya Medical Check Up di Rumah Sakit

Namun, faktor risiko setiap orang berbeda-beda. Mereka yang memiliki hasil tes abnormal di masa lalu dan mereka yang aktif secara seksual dengan lebih dari satu pasangan mungkin perlu lebih sering melakukan tes. Selain itu pasien yang memiliki riwayat  histerektomi karena memiliki sel kanker atau prekanker harus terus menjalani tes rutin. Tidak hanya itu pasien yang masuk status penderita HIV juga memiliki resiko kanker serviks yang lebih besar karena imunitas yang lemah terhadap virus dan infeksi.

Comments are closed.