Gejala dan Fase Demam Berdarah yang Perlu Anda Ketahui

Health

Demam berdarah merupakan salah satu penyakit paling mematikan. Jika tak segera ditangani, bukan tak mungkin penderitanya mengalami hal yang sangat buruk.

Penyakit umumnya disebabkan oleh bakteri dan debu. Tapi, ada satu lagi penyebab terjadinya penyakit pada manusia, yaitu virus. Nyatanya, banyak penyakit berbahaya yang disebabkan oleh virus. Namun, salah satu penyakit yang cukup sering diderita orang yang disebabkan oleh virus yaitu demam berdarah.

Demam berdarah merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue yang dibawa oleh nyamuk. Demam berdarah dulu disebut penyakit “break-bone” karena kadang menyebabkan nyeri sendi dan otot di mana tulang terasa retak. DBD ringan menyebabkan demam tinggi, ruam, dan nyeri otot dan sendi. Namun, dari penyakit ini yang parah dapat menyebabkan perdarahan serius, penurunan tekanan darah yang tiba-tiba (shock), dan kematian.

Ada empat serotipe virus dengue (DENV) yaitu DENV-1, -2, -3, dan -4, dan infeksi dari virus tersebut menyebabkan berbagai gejala seperti demam, pusing, nyeri pada bola mata, otot, sendi, dan ruam. Orang yang terinfeksi virus dengue seringkali juga mengalami kelelahan jangka panjang. Virus dengue dapat berkembang menjadi hal yang dapat mengancam jiwa, mengakibatkan nyeri perut dan muntah, sulit bernapas, dan penurunan trombosit darah yang bisa mengakibatkan pendarahan internal.

Penyakit demam berdarah biasa ditemukan pada daerah tropis dan sub-tropis, terutama di area urban dan semi-urban. Hingga saat ini, belum ada penanganan yang spesifik untuk DBD. Namun, vaksin DBD telah dikembangkan oleh WHO pada bulan April 2016. Vaksin tersebut berfungsi untuk mencegah terjadinya fase ke-2 demam berdarah.

Baca juga: Jaga Diri dan Keluarga dari Hal Buruk dengan Cara Ini!

Gejala Demam Berbarah

Setiap penyakit tentu memiliki gejala yang mungkin dapat terlihat di awal. Hal ini pun berlaku pada DBD. Gejala DBD terlihat sepele. Namun, jika dibiarkan, virus dengue akan menyebar dan membuat kondisi penderita semakin buruk. Maka dari itu, mari kita lihat gejala demam berdarah di bawah ini!

Demam Tinggi

Demam mungkin sering terjadi pada banyak penyakit. Namun pada gejala demam berdarah, demam terjadi secara mendadak dan banyak orang yang tidak tahu perbedaan demam biasa dengan demam yang disebabkan oleh virus dengue.

Perbedaan yang kontras antara gejala tersebut dengan gejala demam lainnya adalah bisa mencapai 40 derajat celcius. Demam yang terjadi akibat flu dan infeksi dari virus atau bakteri biasanya disertai dengan gejala bersin atau batuk sedangkan gejala demam pada DBD tidak demikian. Demam pada demam berdarah bisa terjadi selama dua sampai tujuh hari.

Baca juga: 4 Jenis Batuk yang Perlu Anda Ketahui!

Nyeri Otot dan Sendi

Setelah gejala seperti demam terjadi, penderita akan merasakan nyeri pada bagian otot dan sendi. Gejala demam berdarah ini disertai dengan tubuh menggigil dan berkeringat.

Sakit Kepala dan Nyeri di Belakang Mata

Beberapa jam setelah mengalami demam, gejala selanjutnya yang akan muncul pada penderita adalah sakit kepala parah. Biasanya, rasa sakit terjadi di sekitar dahi. Sakit kepala parah juga disertai dengan sakit pada bagian belakang mata. Ini merupakan gejala umum yang sering terjadi.

Mual dan Muntah

Pada beberapa penderita demam berdarah, masalah pencernaan juga bisa terjadi, seperti mual dan muntah. Selain itu, bagian perut atau punggung terasa tidak nyaman. Gejala ini bisa terjadi selama dua sampai empat hari.

Kelelahan Kronis

Demam disertai nyeri otot dan masalah pencernaan yang terjadi pada penderita demam berdarah dapat menurunkan nafsu makan. Tentu hal ini menyebabkan tubuh menjadi kelelahan karena kurangnya asupan makanan dan sistem imun tubuh yang melemah.

Baca juga: Jangan Abaikan, Ini Gejala dan Penyebab Radang Tenggorokan

Fase Demam Berdarah

Demam berdarah dibagi menjadi tiga fase, di mana setiap fasenya memiliki tingkat keseriusan yang berbeda. Mari kita lihat fasenya di bawah ini!

Fase Demam

Gejala yang paling khas saat terkena DBD adalah demam tinggi. Tak heran jika fase awal demam berdarah disebut dengan fase demam. Pada fase ini, penderita mengalami demam secara tiba-tiba hingga mencapai 40 derajat celcius selama dua sampai tujuh hari.

Munculnya demam tinggi pada kasus DBD sering kali disertai dengan muka kemerahan, kulit memerah, nyeri seluruh tubuh, nyeri otot, dan sakit kepala. Namun, bila demam berlangsung selama lebih dari 10 hari, maka kemungkinan demam tersebut bukanlah gejala demam berdarah.

Pada beberapa kasus lainnya ditemukan gejala berupa nyeri dan infeksi tenggorokan, sakit di sekitar bola mata, anoreksia, mual dan muntah. Gejala-gejala inilah yang menyebabkan penurunan jumlah sel darah putih dan trombosit yang mengarahkan dokter pada diagnosis demam berdarah.

Fase Kritis

Setelah melewati fase demam, penderita akan mengalami fase kritis. Fase ini biasanya menjadi ‘pengecoh’ karena penderita merasa sembuh dan dapat melakukan aktivitas kembali. Pasalnya, fase kritis ini ditandai dengan penurunan suhu tubuh hingga 37 derajat celcius ke suhu normal.

Padahal, bila fase ini terabaikan dan tidak segera mendapatkan pengobatan, trombosit pasien akan terus menurun secara drastis dan dapat mengakibatkan perdarahan yang sering tidak disadari. Oleh sebab itu, pasien harus cepat ditangani oleh tim medis karena fase kritis ini berlangsung tidak lebih dari 24-38 jam.

Fase Penyembuhan

Bila penderita demam berdarah berhasil melewati fase kritisnya, maka ia akan kembali merasakan demam. Namun, hal ini tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Pasalnya, kondisi ini merupakan fase penyembuhan di mana trombosit akan perlahan naik dan normal kembali. Penderita akan mengalami pengembalian cairan tubuh secara perlahan pada 48-72 jam setelahnya.

Mulai memasuki fase penyembuhan, kesehatan penderita DBD akan berangsur-angsur membaik yang ditandai dengan peningkatan nafsu makan, penurunan gejala nyeri perut, dan fungsi diuretik yang membaik. Jumlah sel darah putih pasien akan kembali normal yang kemudian diikuti dengan pemulihan jumlah trombosit.

Demam berdarah memang sedikit sulit dideteksi di awal. Maka, jika Anda merasakan gejala yang disebutkan di atas, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter agar tidak masuk ke fase kritis.

Comments are closed.