Kencing Manis: Ketahui Penyebab dan Cara Mengobatinya!

Health

Jangan dianggap remeh. Kencing manis merupakan salah satu penyakit yang cukup berbahaya dan dapat mengundang berbagai macam penyakit lainnya jika tidak segera diobati. Apa saja penyebab dan cara mengobati penyakit ini?

Kencing manis atau yang bisa disebut dengan penyakit diabetes melitus tipe 2 ini merupakan kondisi tubuh di mana tingginya kadar gula (glukosa) dalam darah. Penyakit ini terjadi ketika pankreas mampu memproduksi insulin yang memadai. Tetapi sel-sel tubuh tidak dapat menggunakan insulin secara efisien untuk mengubah glukosa menjadi energi. Kondisi ini disebut juga sebagai resistensi insulin. Akibatnya, gula darah menumpuk terlalu banyak dalam tubuh.

Tentu jika gula darah ini terus dibiarkan dalam keadaan tinggi, ada risiko yang sangat berbahaya untuk tubuh. Anda bisa mengalami berbagai diabetes berbahaya yang memengaruhi sistem saraf, jantung, ginjal, mata, pembuluh darah, serta gusi dan gigi.

Jika Anda melakukan survei, penyakit jenis ini bisa dikatakan paling banyak dialami atau diderita oleh masyarakat Indonesia. Hal ini dikarenakan berbagai faktor dan salah satu penyebab yang paling banyak karena keturunan dan juga gaya hidup yang tidak sehat.

Perlu Anda ketahui, bahwa penyakit kencing manis ini dapat menyerang pada semua orang di segala umur, termasuk anak-anak. Namun, penyakit ini biasanya mulai terjadi pada umur dewasa dan lanjut usia. Faktor metabolisme tubuh yang semakin menurun dan gaya hidup semasa muda menjadi alasan terkuat mengapa orang dewasa dan lansia berisiko tinggi terkena penyakit ini.

Baca juga: Penyakit Diabetes: Jenis, Gejala, dan Pencegahannya!

Penyakit ini tidak bisa disembuhkan. Namun, mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat bisa jadi salah satu cara efektif supaya Anda terhindar dari penyakit ini di kemudian hari. Selain gaya hidup berikut ini beberapa penyebab timbulnya penyakit ini.

Penyebab Penyakit Kencing Manis

Secara ilmu kedokteran, penyebab penyakit ini biasanya adalah resistensi insulin, yaitu kondisi ketika sel-sel otot, hati, dan lemak tidak dapat menggunakan insulin dengan optimal. Akibatnya, tubuh Anda membutuhkan lebih banyak insulin supaya kadar glukosa dalam tubuh bisa tetap stabil.

Kebutuhan insulin yang terus meningkat membuat sel beta pankreas bekerja lebih keras. Akibatnya sel beta pankreas justru tidak mampu merespons perubahan glukosa darah dalam tubuh dengan baik. Hal ini menyebabkan insulin tidak dapat bekerja sebagaimana mestinya.

Pada akhirnya justru ada kebanyakan glukosa yang tidak dapat diserap oleh sel tubuh dan menngalir dalam darah. Saat gula tidak dapat memasuki sel-sel, kadar gula dalam darah meningkat tinggi. Jika kondisi ini dibiarkan terus-terusan dapat menyebabkan hiperglikemia.

Resistensi insulin sendiri bisa disebabkan oleh banyak hal, termasuk:

  1. Kelebihan berat badan atau obesitas. Peningkatan lemak membuat tubuh mengalami resistensi insulin sehingga kesulitan menggunakan insulin dengan benar.
  2. Faktor genetik. Bila kakek, nenek, orangtua, atau saudara kandung Anda memiliki penyakit ini, Anda juga berisiko tinggi untuk mengalaminya juga.

Faktor-faktor Risiko

Dilansir dari hellosehat.com, kencing manis adalah kondisi yang sepenuhnya belum dipahami para ahli. Pasalnya, sejumlah orang berisiko tinggi mengalami penyakit ini dan sebagian lagi tidak.

Terlepas dari hal tersebut, para ahli percaya bahwa ada beberapa hal yang jelas meningkatkan faktor risiko penyakit ini, seperti berikut:

Riwayat Keluarga

Risiko mengalami penyakit ini semakin besar jika orangtua atau saudara kandung Anda memiliki penyakit ini. Bahkan, menurut American Diabetes Association, dibandingkan dengan diabetes tipe 1, penyakit ini memiliki hubungan yang sangat kuat dengan riwayat dan keturunan keluarga.

Para ahli menduga bahwa terdapat gen khusus yang dibawa orangtua ke generasi selanjutnya. Namun, sampai saat ini para ahli masih mencari tahu gen mana yang membawa sifat penurunan penyakt ini.

Umur

Risiko dari penyakit ini meningkat seiring Anda bertambah umur, khususnya setelah umur 45 tahun. Hal ini mungkin karena orang-orang di usia ini cenderung kurang bergerak, kehilangan massa otot, dan menambah berat badan seiring bertambahnya umur.

Selain itu, proses penuaan juga mengakibatkan penurunan fungsi sel beta pankreas sebagai penghasil insulin. Namun, penyakit ini juga bisa meningkat secara dramatis pada remaja, dan masa awal dewasa karena faktor gaya hidup yang tidak sehat.

Baca juga: Cara Jaga Diri dan Keluarga Dari Hal-Hal Buruk

Berat Badan

Kelebihan berat badan adalah faktor risiko untuk mengembangkan diabetes. Tetapi, menurut American Diabetes Association faktor risiko lain seperti berapa banyak aktivitas fisik yang Anda lakukan, riwayat keluarga, etnis, dan usia juga berperan. Sayangnya, banyak orang berpikir bahwa berat badan adalah satu-satunya faktor risiko untuk diabetes tipe 2. Padahal faktanya, banyak orang dengan diabetes tipe 2 berada pada berat ideal atau hanya kelebihan berat badan sedang.

Gaya Hidup Sedentari

Sedentari adalah pola perilaku minim aktivitas fisik atau gerakan fisik. Padahal, aktivitas fisik membantu Anda mengontrol berat badan, menggunakan glukosa sebagai energi, dan membuat sel-sel Anda semakin sensitif terhadap insulin. Maka dari itu, semakin Anda pasif, semakin besar risiko Anda mengalami penyakit ini.

Prediabetes

Prediabetes adalah kondisi di mana kadar gula darah Anda lebih tinggi dari kadar normal, tapi tidak cukup tinggi untuk diklasifikasikan sebagai diabetes. Jika tidak diatasi, prediabetes dapat berlanjut menjadi penyakit ini.

Diabetes Kehamilan

Jika Anda mengalami diabetes saat hamil (diabetes gestasional), risiko Anda mengalami penyakit ini meningkat. Jika Anda melahirkan bayi yang beratnya lebih dari empat kilogram, bayi Anda juga berisiko mengalami penyakit ini di masa dewasanya.

Sindrom Ovarium Polikistik atau Polycystic Ovary Syndrome (PCOS)

PCOS erat kaitannya dengan resistensi insulin. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, jika Anda sudah mengalami resistensi insulin, maka risiko Anda terkena penyakit diabetes juga akan meningkat.

Sejumlah kondisi medis lain seperti pankreatitis, sindrom cushing, dan glucagonoma juga dilaporkan bisa meningkatkan risiko diabetes.

Obat-obatan Tertentu

Beberapa obat-obatan yang digunakan untuk mengatasi berbagai masalah kesehatan juga bisa memengaruhi kadar gula dalam darah, yang pada akhirnya menyebabkan penyakit diabetes. Apalagi jika Anda sudah terkena diabetes atau berisiko tinggi akan mengalaminya.

Obat steroid, statin, diuretik, dan beta-blocker merupakan beberapa jenis obat yang diketahui dapat memengaruhi kadar gula dalam darah. Silakan konsultasi ke dokter untuk informasi lebih lanjut.

Baca juga: 5 Tip Menerapkan Pola Hidup Sehat

Cara Mengobati Kencing Manis

Berikut beberapa hal yang umumnya akan dianjurkan oleh dokter untuk mengendalikan gula darah Anda, di antaranya:

Diet Sehat

Tidak ada aturan khusus untuk diet bagi orang yang memiliki diabetes. Namun, dokter biasanya akan meminta Anda untuk lebih memerhatikan asupan makanan yang Anda konsumsi sehari-hari. Pastikan kalau makanan Anda mengandung nutrisi dan gizi seimbang yang meliputi karbohidrat, protein, lemak baik, serat, dan berbagai vitamin serta mineral.

Dokter juga akan meminta Anda untuk menghindari makanan tinggi gula. Ingat, bukan menghilangkan sama sekali, tapi mengurangi asupan gula harian Anda. Anda bisa berkonsultasi ke ahli gizi untuk membantu menyusun menu diet sehat Anda.

Olahraga

Selain mengatur pola makan, Anda juga sebaiknya melakukan olahraga secara teratur (tiga hingga empat kali seminggu selama kurang lebih 30 menit) dan perbanyak aktivitas fisik. Hal ini karena keduanya efektif untuk membantu mengontrol kadar gula dalam darah Anda.

Tak usah membuat target olahraga yang muluk-muluk. Melakukan berbagai aktivitas fisik intensitas ringan sampai sedang sudah cukup membantu mengendalikan gula darah Anda. Beberapa pilihan aktivitas fisik yang baik untuk para diabetesi (sebutan untuk orang dengan penyakit diabetes) adalah jalan kaki, berenang, bersepeda, lari, yoga, senam aerobik, dan lain sebagainya.

Namun, sebelum dan sesudah berolahraga atau melakukan aktivitas fisik lainnya, pastikan Anda selalu cek gula darah, ya. Pastikan juga Anda rutin memeriksa kaki dan mata untuk mencegah komplikasi di masa mendatang.

Teratur Minum Obat

Jika kedua cara di atas tidak bekerja, dokter biasanya akan meresepkan obat diabetes untuk membantu mengendalikan kadar gula darah Anda. Dokter mungkin akan memberikan satu jenis obat saja atau memberikan kombinasi obat.

Konsultasikan dengan dokter apa saja efek samping obat dan apa yang harus dilakukan bila efek samping muncul. Salah satu efek samping obat yang tersering adalah lemas akibat hipoglikemia (gula darah rendah). Untuk pertolongan pertama, minumlah teh manis hangat kemudian segera temui dokter.

Terapi Insulin

Perlu dipahami bahwa tidak semua penderita diabetes memerlukan terapi insulin. Biasanya, dokter akan menganjurkan pasien melakukan terapi ini jika obat diabetes belum begitu efektif untuk menurunkan gula darah.

Terapi insulin bisa diberikan dalam jangka pendek, terutama ketika diabetesi sedang mengalami stres. Anda bisa menggunakan terapi insulin lewat suntikan, pena insulin, atau pompa insulin.

Silakan konsultasi ke dokter untuk mengetahui dosis dan seberapa lama Anda membutuhkan terapi ini untuk mengendalikan gula darah Anda.

Comments are closed.