Mitos Seputar Mie Instan yang Dipercaya Banyak Orang

Health

Mie instan sering dianggap sebagai makanan “jahat”. Padahal, hal tersebut mayoritas adalah mitos yang dipercaya banyak orang.

Siapa yang tidak suka dengan mie instan? Rasanya yang enak dan teksturnya yang kenyal membuat makanan ini digemari banyak orang. Terlebih, proses memasak mie pun terbilang mudah, tak heran jika makanan ini seringkali disantap oleh orang-orang di jam-jam genting. Tapi, di balik kenikmatannya, sepertinya banyak sekali orang yang percaya bahwa mie instan tidaklah baik untuk dikonsumsi. Padahal, hal tersebut tidak sepenuhnya benar, bahkan banyak sekali mitos yang akhirnya menjadi kepercayaan banyak orang untuk tidak menyantap mie. Apa saja mitos tersebut? Ini dia!

Mitos Seputar Mie Instan

Mengandung Lilin

Rasanya, hal ini sudah dianggap sebagai fakta bagi sebagian besar orang. Padahal, tidak ada sama sekali kandungan lilin dalam mie instan. Jadi, jika sampai sekarang Anda masih mempercayai hal ini, mungkin Anda membutuhkan penjelasan mengapa mie bisa melekat dan kenyal. Hal tersebut terjadi karena adanya kandungan minyak di dalam mie. Waktu proses pembuatannya, mie akan melalui proses deep frying. Hal itu bertujuan untuk mengurangi kadar air dan membuat mie jadi lebih awet. Ketika direbus, mie instan akan melepaskan minyak yang menjadi perekatnya dan menghasilkan mie kenyal yang bisa kita makan.

Baca juga: Makanan Ekstrem Asli Indonesia, Mengerikan Tapi Lezat!

Merebus Bumbu Mie Instan Dapat Sebabkan Kanker

Mungkin Anda pernah mendengar jika merebus mie instan tidak boleh bersamaan dengan bumbunya, karena pada suhu 120 derajat celcius, kandungan kimia dalam bumbu akan berubah menjadi zat karsinogen yang akan memicu tumbuhnya sel kanker di dalam tubuh. Tenang saja, hal tersebut sama sekali tidak benar. Sejauh ini, belum ada kabar munculnya senyawa karsinogen dalam bumbu mie. Lagipula, proses perebusan mie instan tak sampai pada suhu 120 derajat celcius. Sebelum sampai di tangan kita, mie instan sudah terlebih dahulu melewati proses penggorengan. Jadi, untuk menyantap mie, kita hanya perlu merebusnya dalam air dengan suhu 100 derajat celcius dalam waktu kurang dari lima menit.

Air Rebusan Mie Instan Berbahaya

Banyak yang beranggapan bahwa mie instan itu mengandung zat kimia yang banyak dan berbahaya, sehingga air rebusannya tidak boleh dipakai untuk kuah di mie rebus. Tak sedikit pula yang beranggapan bahwa dalam memasak masak mie, baik goreng maupun rebus, harus dilakukan sebanyak dua kali agar zat kimianya hilang. Padahal, hal tersebut hanya membuang waktu Anda saja. Menurut Prof. Dr. F.G. Winarno, kabar mengenai bahayanya air rebusan mie instan itu adalah salah besar. Justru, di dalam air rebusan pertama itulah terdapat kandungan zat besi, vitamin, dan betakaroten tinggi yang dibutuhkan oleh tubuhmu.

Mie Instan Adalah Makanan yang Tidak Sehat

Semua makanan sejatinya punya kandungan gizi yang baik untuk tubuh, termasuk mie instan. Namun, banyak orang yang beranggapan kalau mie adalah makanan yang tidak sehat. Sebenarnya, kita dapat melihat bahwa seporsi mie disajikan bersama potongan daging atau ayam dan juga telur. Hal tersebut pun perlu Anda lakukan agar kandungan gizi dalam menyantap satu piring atau mangkuk mie menjadi lebih lengkap.

Baca juga: Fakta Menarik dan Makanan Sehat untuk Ibu Menyusui

Pengganti Karbohidrat

Memang, kandungan karbohidrat di dalam mie instan tak perlu diragukan lagi. Hal ini membuat orang mengira bahwa tidak masalah jika mengganti nasi atau karbohidrat lain dengan seporsi mie karena sudah mengandung karbohidrat juga. Tapi, anggapan ini tidaklah benar. Selain mengandung karbohidrat, mie juga mengandung lemak yang tinggi. Bayangkan saja, jika Anda konsumsi makanan ini setiap hari, penyakit seperti diabetes, stroke, dan jantung akan mengintai Anda.

Tinggi Bahan Pengawet

Sudah jadi rahasia umum kalau makanan yang dijual di pasaran pasti mengandung pengawet. Ya, tujuan dari makanan tersebut diberikan pengawet tak lain untuk membuat makanan jadi lebih awet meski disimpan dalam waktu yang cukup lama. Sayangnya, banyak sekali orang yang berpikir bahwa mie mengandung pengawet yang sangat tinggi dan banyak. Padahal, penggunaan pengawet pada makanan sudah diatur. Bahan pengawet akan sangat aman ketika digunakan dengan takaran 250 miligram saja per kilogram bahan makanannya. Lagipula, dalam proses deep frying dengan suhu 140 sampai 160 derajat celcius, mikroba apa pun akan mati dan kadar air turun menjadi tiga persen. Oleh karena itu, mie jadi steril dan awet tanpa perlu bahan pengawet yang berlebih.

Disantap dengan Nasi Lebih Baik

Kebiasaan ini sering sekali dilakukan sama orang Indonesia yang notabene belum puas kalau belum makan nasi. Akhirnya, menu hidangan apa pun akan dimakan bersama nasi, termasuk mie instan. Padahal, kedua jenis makanan ini tak boleh digabungkan. Sebab, keduanya punya kandungan karbohidrat yang tinggi. Bayangkan, satu porsi mie punya kandungan 400 kalori. Kalau ditambah dengan nasi putih, total kalorinya bertambah jadi 700 sampai 800 kalori. Padahal, manusia membutuhkan total 1.700 sampai 2.000 kalori setiap harinya. Itu pun dibagi menjadi tiga kali waktu makan, pagi, siang dan malam.

Pewarna Buatan pada Warna Mie

Memang, warna kuning yang ada di mie instan bukanlah warna alami. Warna kuning itu didapatkan dari pewarna makanan yaitu Tatrazine (CH940). Anda dapat lihat bahan tersebut di bagian komposisi. Meskipun pakai pewarna makanan, izin penggunaannya sudah diakui secara standar internasional Codex Alimentarius dan World Health Organization (WHO). Bahkan, Badan Pengawas Obat dan Makanan atau BPOM juga memperbolehkan penggunaan zat pewarna makanan tersebut, asalkan dengan kadar atau takaran yang sudah dianjurkan dan diperbolehkan. Lagipula, Tatrazine juga digunakan untuk jenis makanan lainnya seperti keripik, sereal, pudding, minuman ringan, sup instan, dan lain sebagainya. Setelah membaca poin-poin di atas, tentu Anda tahu bahwa mie instan tidaklah seburuk yang dibayangkan. Asalkan dikonsumsi dalam jumlah yang pas, hal tersebut bukanlah masalah.

Comments are closed.