Operasi Kelamin: Tindakan Rumit yang Berisiko Tinggi

Health

Walau jarang ditemukan dan memiliki risiko tinggi, prosedur operasi kelamin pernah dilakukan oleh sebagian orang, penasaran dengan tahapan prosedurnya?

Sebuah hal yang tabu dan sulit dipahami bagi sebagian orang, terkadang menjadi hal tetap bisa dilakukan. Salah satu hal kontoversial yang sudah marak dilakukan yaitu salah satunya adalah operasi kelamin atau genital surgery. Operasi kelamin ini memungkinkan pria menjadi wanita atau sebaliknya memang masih sulit diterima di Indonesia. Tidak hanya rumit, operasi ini juga berisiko tinggi.

Genital surgery merupakan tindakan bedah terhadap seseorang yang mengalami perbedaan antara jenis kelamin dan tingkah lakunya, atau sering disebut transeksualisme. Namun, sebenarnya operasi kelamin juga dapat dilakukan pada orang yang mengalami kelamin ganda sejak lahir.

Baca juga: Operasi Plastik: Efek Sampingnya yang Perlu Anda Ketahui

Tahapan Operasi Kelamin

melakukan operasi kelamin

Pada saat seseorang ingin melakukan operasi kelamin, ada beberapa tahap prosedur yang harus dijalani, yaitu:

  • Evaluasi
    Pertama-tama, harus dilakukan evaluasi kesehatan mental yang dilakukan oleh ahli kejiwaan, yaitu psikolog atau psikiater.Pada pemeriksaan ini mungkin akan ditemukan adanya gangguan identitas gender (gender identity disorder), yang membuat penderita merasa tertekan akibat jenis kelamin yang dirasanya tidak tepat. Pada tahap ini, dokter bisa memberikan pemahaman lebih lanjut mengenai risiko dan efek samping dari operasi kelamin.
  • Terapi hormon
    Sebelum seseorang diperbolehkan menjalani operasi ganti kelamin, mereka harus menjalani terapi hormon sesuai jenis kelamin yang diinginkan. Terapi ini akan membantu tubuh memulai perubahan menuju jenis kelamin yang diinginkan. Hormon turut memunculkan karakter seks sekunder seperti suara, massa otot, dan ukuran payudara.
    Untuk pria yang ingin menjadi wanita, maka ia perlu menerima hormon estrogen. Sementara, untuk wanita yang ingin menjadi pria, maka harus mendapatkan hormon testosteron. Umumnya, terapi hormon disarankan selama satu tahun atau lebih sebelum dilakukan genital surgery. Ketika terapi hormon dirasa belum mencukupi, barulah dipertimbangkan kemungkinan genital surgery. Terapi hormon bisa dilanjutkan setelah operasi ganti kelamin dilakukan.
  • Pembedahan
    Untuk genital surgery wanita menjadi pria, prosedurnya termasuk menghilangkan kedua payudara, pengangkatan rahim, ovarium, dan tuba fallopi. Selain itu akan dilakukan pembentukan penis, skrotum, serta implan testis dan penis. Untuk memastikan penis bisa berfungsi dengan baik, kemungkinan diperlukan operasi tambahan.
    Sementara untuk operasi penggantian kelamin pada pria menjadi wanita yang dilakukan adalah menghilangkan testis dan penis serta pembentukan vulva, vagina, dan juga klitoris. Operasi tambahan yang diperlukan antara lain penanaman implan payudara dan bedah plastik untuk bentuk wajah lebih feminin.

Risiko Operasi Penggantian Kelamin

Upaya perubahan kelamin bukanlah tanpa risiko. Terapi hormon yang dilakukan secara jangka panjang memiliki risiko efek samping menyebabkan munculnya jerawat, rambut rontok, penambahan berat badan, batu empedu, gangguan sleep apnea, hingga penggumpalan darah (blood clot).

Selain itu, ada pula risiko tekanan darah tinggi, sakit jantung, tumor otak, dan kondisi berbahaya lain. Terapi hormon juga dapat mengurangi kesuburan, hingga mungkin menyebabkan kemandulan, bahkan jika terapi sudah dihentikan. Selain itu, dalam menjalani prosedur operasi ini, risiko anastesi dan komplikasi pascaoperasi menjadi lebih tinggi.

legalitas operasi kelamin

Layaknya prosedur medis lainnya, operasi ganti kelamin membawa risiko infeksi, perdarahan, dan mungkin pemeriksaan medis lainnya untuk memperbaiki kerusakan. Operasi ganti kelamin adalah hal yang permanen dan tidak bisa diubah kembali. Maka Anda harus benar-benar yakin sebelum menjalani operasi ini. Meski begitu, banyak orang yang merasa puas terhadap hasil yang telah mereka dapatkan.

Komplikasi yang paling umum dari operasi ganti kelamin pria ke wanita adalah penyempitan jalur vagina baru. Namun, hal ini dapat ditangani dengan dilasi (pelebaran) atau menggunakan sebagian jaringan usus besar untuk membuat vagina. Sementara itu, komplikasi dari prosedur wanita ke pria adalah disfungsi penis. Cangkok penis buatan adalah prosedur yang sulit dan tidak akan menghasilkan rupa yang seragam.

Risiko Masalah Psikologis dan Sosial

Yang perlu dicatat, terlepas komplikasi fisik, operasi ganti kelamin juga dapat memengaruhi kualitas hidup baru orang tersebut. Orang-orang transgender yang telah memiliki identitas baru sering kehilangan pasangan, keluarga, teman, bahkan pekerjaan. Mereka bahkan mungkin bisa merasa kesulitan jika diharuskan untuk pindah dan memulai hidup baru.

Sebuah jurnal terbitan PLOS ONE tahun 2011 tentang studi tindak lanjut terhadap 324 orang Swedia yang telah menjalankan operasi ganti kelamin menunjukkan bahwa mereka memiliki risiko yang lebih tinggi terhadap angka kematian, perilaku bunuh diri, dan gangguan psikiatri dibanding populasi umum.

Baca juga: Ciri-Ciri Asuransi Kesehatan Keluarga yang Bagus

Kesimpulan dari studi tersebut menguraikan bahwa meski operasi ganti kelamin bisa mengatasi gejala disforia gender, tapi ini mungkin tidak akan cukup efektif sebagai terapi keseluruhan. Itu sebabnya sesi terapi dengan psikolog wajib dilakukan sebelum dan sesudah menjalani prosedur ini untuk menanggulangi kemungkinan gejala disforia gender kambuh kembali, bahkan setelah berganti identitas.

Aspek Legalitas Operasi Penggantian Kelamin di Indonesia

Di Indonesia, aturan hukum yang secara jelas melarang atau memperbolehkan operasi ganti kelamin belum tersusun di dalam undang-undang. Tetapi, Undang-Undang Kesehatan No. 36 tahun 2009 pasal 69 ayat 1 menyebutkan bahwa bedah plastik dan rekonstruksi hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu. Sedangkan pasal 2 menyebutkan bedah plastik dan rekonstruksi tidak boleh bertentangan dengan norma yang berlaku dalam masyarakat dan tidak ditujukan untuk mengubah identitas.

Sementara itu, orang yang sudah melakukan operasi ganti kelamin harus mengajukan pergantian identitas ke pengadilan. Hal ini sesuai dengan Undang-Undang No. 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan pasal 56 ayat 1, yaitu pencatatan peristiwa penting lainnya dilakukan oleh pejabat pencatatan sipil atas permintaan penduduk yang bersangkutan setelah adanya putusan pengadilan negeri yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.

Yang dimaksud dengan ‘peristiwa penting lainnya’ adalah peristiwa yang ditetapkan oleh pengadilan negeri untuk dicatatkan pada instansi pelaksana, antara lain perubahan jenis kelamin.

Genital surgery bukanlah prosedur sederhana yang dapat dilakukan sewaktu-waktu ketika diinginkan. Ada tahap-tahap yang harus dilalui sebelum menjalani prosedur tersebut, termasuk risiko kesehatan yang harus dipahami. Perlu pertimbangan yang matang dan saksama sebelum memutuskan genital surgery. Salah satunya adalah bahwa genital surgery bersifat permanen. Seseorang tidak bisa kembali ke kelamin semula setelah melalui prosedur ini.

Alasan Seseorang Melakukan Operasi Penggantian Kelamin

Ada dua alasan utama mengapa kebanyakan dokter memberikan lampu hijau untuk pasiennya menjalani operasi ganti kelamin. Pertama, untuk bayi baru lahir yang didiagnosis memiliki penis dan vagina alias interseksual. Kelamin ganda adalah sebuah kondisi cacat lahir yang dapat memengaruhi tumbuh kembang ke depannya, maka bayi yang berkelamin ganda harus sesegera mungkin ‘diberikan’ salah satu jenis kelamin.

resiko operasi kelamin

Walaupun begitu, pernyataan yang dikeluarkan oleh PBB tahun 2013 di Special Rapporteur on Torture menyatakan bahwa pelaksanaan operasi ganti kelamin tanpa persetujuan pemilik tubuh adalah ilegal. Jadi pada bayi yang terlahir dengan dua kelamin berbeda, operasi ganti kelamin harus dan baru bisa dilakukan setelah ia berusia 18 tahun. Di usia tersebut, anak sudah memiliki kebebasan dan tanggung jawab untuk bisa memilih sendiri jenis kelamin apa yang sesuai dengan keyakinan dirinya.

Operasi ganti kelamin juga bisa dilakukan sebagai bagian dari terapi untuk gender dysphoria yang umum dialami oleh orang-orang transgender. Operasi ini bertujuan untuk mengubah penampilan fisik dan fungsi karakteristik seksual pada tubuh seseorang guna menyesuaikan karakteristik anatomi tubuh menyerupai gender yang mereka yakini.

Meskipun dianggap tabu, beberapa orang memang yakin dalam melakukan operasi ini. Salah satu public figure yang melakukan operasi ini adalah Dorce Gamalama. Walau operasi ini pernah ada yang melakukannya, namun faktor risikonya sendiri tak bisa dianggap sepele.

Demi melindungi kesehatan keluarga Anda, tidak ada salahnya mempertimbangkan untuk memberikan perlindungan terbaik bagi keluarga. Futuready ragam menyediakan produk asuransi kesehatan terbaik yang dapat Anda pilih. Yuk lindungi keluarga dengan proteksi terbaik!

Baca juga: Ketahui Hal Ini Sebelum Menentukan Asuransi Kesehatan Keluarga

Comments are closed.