Penyakit Albino, fakta Penyebab dan Gejalanya

Health

Belum ada obatnya, yuk kenali fakta sebab dan gejala Penyakit Albino pada manusia berikut ini.

berkenalan dengan penyakit albino

Pernah melihat seseorang berkulit putih pucat, dengan mata pucat dan rambut putih terang? Mereka adalah pengidap Albino, kelainan bawaan karena adanya hipopigmentasi yang menyebabkan kulit, mata, dan rambut kekurangan melanin.

Sudah menjadi sorotan biasa bagi penderita Albino. Seringkali mereka harus berdamai dengan hati sendiri saat mata orang-orang memandang mereka dengan ngeri. Wajar, kondisi ini memang jarang ditemui di Indonesia.

Bersyukur hanya menjadi objek pembicaraan disekelilingnya. Beda halnya di Afrika sana orang-orang berkulit pucat ini diburu dan dibunuh karena tubuhnya dipercaya membawa keberuntungan.

Jangan pandang rendah mereka, justru harus kita rangkul agar bisa bersosialisasi di dalam masyarakat. Fakta-fakta dibawah ini mungkin akan menyadarkan Anda bahwa penyakit Albino tidaklah semengerikan yang Anda kira.

Baca juga: Penyakit Asam Lambung: Bagaimana Cara Mengatasinya

Fakta-Fakta Penyakit Albino

Bukan Penyakit Menular

Dikarenakan penyakit ini kelainan bawaan yang diturukan dari gen ke gen, maka penularan tidak akan mungkin terjadi hanya karena kulit Anda bersentuhan dengan mereka. Jadi jangan jauhi mereka. Kelainan yang mereka alami sudah terjadi sejak lahir atau saat masih dalam kandungan.

Kelainan Pada Bola Mata

Rata-rata penderita Albino memiliki pandangan buruk, penyebabnya karena ketidakmampuan mata menerima pancaran sinar matahari yang menyebabkan bola mata selalu bergerak tidak beraturan. Kondisi ini dinamakan dengan nystagmus, kondisi dimana bola mata selalu bergerak-gerak untuk menghindari cahaya.

Jadi, tangan takut atau merasa tengah diselidiki oleh mereka karena bola mata yang tak bisa diam. Sekali lagi kelainan itu juga tidak akan menular pada mata Anda hanya karena Anda memandanginya berlama-lama.

Penderita Penyakit Albino Berisiko Terkena Kanker Kulit Lebih Tinggi

Orang dengan Albino tidak bisa berlama-lama dibawah sinar matahari, lantaran tidak memiliki melanin dalam jaringan kulitnya. Kulit penderita Albino mensitesis vitamin D lebih cepat dari mereka yang berkulit gelap. Vitamin D ini terbentuk ketika sinar ultraviolet-B (UVB) memasuki kulit. Nah, karena kurangnya pigmentasi (ditandai dengan warna kulit gelap), cahaya UVB pun akhirnya merasuk ke dalam kulit dengan cepat, lima kali lebih cepat dari manusia normal. Hasilnya? Hasilnya adalah pembakaran kulit yang lebih cepat. Inilah yang menyebabkan penderita Albino sering terlihat menutupi sekujur tubuhnya bahkan hingga ke wajah.

Bisa Menyerang Siapa Saja

Jangan pernah mengira keturunan Anda akan aman dari Albinism, karena kelainan ini bisa menyerang orang dari mana saja dengan gender apa saja. Dikarenakan termasuk kelainan bawaan, Anda juga berpeluang besar membawa gen yang bisa memicu munculnya Albino pada keturunan-keturunan mendatang.

Banyak Terjadi di Afrika

Kasus Albino sering ditemui di benua Afrika, khususnya di negara-negara sub sahara. Di Tanzania misalnya, satu dari 3000 warganya berpotensi menjadi Albino. Ini mungkin berhubungan dengan maraknya pernikahan sedarah yang terjadi di sana akibatnya kehidupan sosial yang terkotak-kotak bersarkan suku-suku.

Meski di sana kasus Albinism ini sudah bukan hal tabu, tapi mereka masih menganggap bahwa darah dan kulit orang Albino ini membawa keberuntungan. Sering ditemukan kasus-kasus pembunuhan terhadap penderitan kelainan gen ini, bahkan dilakukan oleh orang tua mereka sendiri. Hingga saat ini warga Afrika masih percaya dengan mitos tersebut.

Perkawinan Sedarah Jadi Penyebab Lahirnya Albino

berkenalan dengan penyakit albino

Sejauh ini peneliti baru menemukan satu penyebab bagaimana  Albino bisa muncul pada gen seseorang. Perkawinan inses atau sedarah ditengarai jadi penyebab utama kelainan genetik ini. Perkawinan orang tua dengan anak, sepupu dekat dan sudara kandung sangat beresiko mewariskan albinisme.

Disinyalir pernikahan inses menyebabkan kerusakan pada gen. Mereka membawa gen yang rusak dari orang tua sedarah, dan kemungkinan besar mewariskan 50% gen rusak tersebut kepada keturuan selanjutnya. Namun, pernyataan ini juga belum bisa dibuktikan secara medis. Hal yang sudah jelas albinism muncul karena adanya mutasi atau kerusakan genetik pada DNA.

Para penelitipun belum mampu menemukan obat untuk kasus ini. Hal yang bisa dilakukan adalah mencegah pernikahan inses atau tidak menikah dengan penderita Albino. Jika sudah terjadi, satu-satunya cara adalah menghindari sinar matahari langsung.

Baca juga: Waspadai Penyakit Kista Ganglion!

Gejala  Albino pada Bayi

Banyak orang tua takut mendapati anak mereka mengidap kelainan ini. Sebabnya Albino bisa menyerang siapa saja termasuk Anda yang sebenarnya tidak memiliki keturuan albinsm. Ciri-ciri albinism ini bisa kita lihat sejak bayi lahir, bahkan mungkin dideteksi saat masih jadi janin. Caranya? Dengan melakukan analisis DNA pada plasenta ibu hamil.

Berikut Tanda-Tanda Bayi Menderita Albino

Saat Memasuki Usia Tiga Bulan, Gerakan Mata Tidak Beraturan

Bayi normal pada umumnya masih belum bisa menggerakkan bola mata dengan cepat diusia tiga bulan. Namun, berbeda bagi mereka yang membawa kelainan genetik albinism. Biasanya bola mata sudah bergerak cepat tidak beraturan ketika bayi memasuki usia tiga atau empat bulan. Jika mendapati kejadian serupa segera bawa ke dokter agar Anda bisa melakukan penanganan yang tepat.

Warna Kulit, Rambut, dan Mata Pucat

Warna mata bayi dengan albinism biasanya berwarna biru atau cokelat pucat. Jadi, jangan lantas senang jika Anak terlahir dengan bola mata biru layaknya orang barat, padahal dikeluarga Anda tak ada yang memiliki warna mata serupa. Jika warna bulu disekujur tubuh juga memutih menandakan ia sudah dalam kondisi serius, tidak boleh berada dibawah sinar matahari langsung.

Biasanya kulit penderita mutasi gen ini akan lebih gelap dengan sendirinya seiring usianya yang semakin besar. Namun, ini tidak banyak terjadi, bahkan sebaliknya justru semakin besar gelaja Albino makin terlihat.

Sensitif dengan Cahaya Matahari

Kebiasaan orang Indonesia ketika merawat bayi adalah menjemurnya dibawah sinar matahari pagi. Bayi normal tidak akan mengalami gejala apa pun ketika melakukan rutinitas ini. Namun, tidak bagi mereka para Albinism. Baru membuka pakaian saja maka gejala seperti bintik merah seperti akan terbakar muncul.

Segera Tutup Pakaiannnya dan Hindarkan dari Cahaya Matahari Langsung jika Mendapati Kondisi Ini.

Bayi dengan kondisi albinism memang rentan mengalami penyakit lain. Hal ini karena Anda harus super protektif ketika merawat mereka. Lakukan pencegahan untuk mengurangi resiko masuknya UVB ke tubuh bayi, salah satunya dengan selalu menutup seluruh tubuh bayi saat bepergian dan kenakan kaca mata hitam pada mata mereka.

Itulah beberapa hal soal kelainan ini yang mungkin Anda belum tahu. Be Nice person, penyakit ini tidak menular. Jangan jauhi orangnya tapi jauhi penyebabnya.

Baca juga: Waspadai Penyakit GBS!

Comments are closed.