Penyakit Difteri: Apa Saja Gejala dan Penyebabnya?

Health

Penyakit difteri merupakan salah satu penyakit lama yang kini hadir kembali dan sudah mewabah di berbagai pelosok Indonesia. Oleh karena itu, Anda perlu hati-hati dengan mengetahui gejala dan juga penyebab timbulnya penyakit ini.

Penyakit difteri termasuk salah satu jenis penyakit yang sudah mewabah di Indonesia. Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan angka vaksinasi untuk pencegahan penyakit ini tergolong masih sangat rendah. Meskipun sempat hilang lama, tetapi pada 2017 silam, penyakit ini kembali datang dan sudah menyebar di berbagai pelosok Indonesia. Difteri merupakan salah satu penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri corynebacterium. Wabah difteri adalah momok yang menakutkan, karena dapat menyebabkan komplikasi berbahaya bahkan hingga kematian jika tidak segera ditanggulangi. Penderita yang menginap penyakit ini memiliki gejala yang bisa dilihat, yaitu badan tiba-tiba lemah dan lesu, radang tenggorokan, dan juga demam tinggi hingga menggigil. Ini hanya sebagain kecil gejala-gejala yang timbul akibat penyakit ini. Masih ada gejala lain dan juga penyebab mengapa bakteri tersebut bisa ada di dalam tubuh manusia. Berikut ini ulasan selengkapnya.

Baca juga: Cara Ampuh Menjaga Kesehatan Anak

Gejala Penyakit Difteri

Perlu diketahui bahwa penyakit ini bisa menyerang jaringan apa saja yang ada di dalam tubuh. Agar Anda tetap waspada, berikut ini beberapa gejala yang paling menonjol dari penyakit difteri ini.

  1. Tenggorokan dilapisi selaput tebal berwarna abu-abu.
  2. Radang tenggorokan dan serak.
  3. Pembengkakan kelenjar pada leher.
  4. Masalah pernapasan dan saat menelan.
  5. Cairan pada hidung dan ngiler.
  6. Demam dan menggigil.
  7. Batuk yang keras.
  8. Perasaan tidak nyaman.
  9. Perubahan pada penglihatan.
  10. Bicara yang melantur.
  11. Tanda-tanda shock, seperti kulit yang pucat dan dingin, berkeringat, dan jantung berdebar cepat.

Kemungkinan ada tanda-tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan sebuah gejala tertentu, konsultasikanlah dengan dokter Anda.

Baca juga: Kenali Manfaat dan Jenis Madu untuk Kesehatan

Penyebab Penyakit Difteri

Difteri merupakan suatu infeksi yang sangat mudah menular, karena bakterinya hidup dan menyebar di udara. Jadi, apabila Anda menghirup partikel udara dari batuk atau bersin orang yang terinfeksi, Anda dapat tertular difteri. Cara ini sangat efektif untuk menyebabkan wabah difteri, terutama pada tempat yang ramai. Selain itu, penyebab lainnya adalah adanya kontak langsung dengan benda-benda dan juga peralatan rumah tangga yang terkontaminasi. Anda bisa tertular penyakit ini apabila memegang tisu bekas orang yang terinfeksi atau minum menggunakan gelas yang sama dengan penderita yang tidak dicuci. Bisa juga lewat penggunaan peralatan rumah tangga secara bergantian dengan orang yang terinfeksi, seperti handuk atau mainan. Namun, yang penyebab yang lebih mudah lagi tertular adalah dengan menyentuh luka di kulit yang terinfeksi. Penderita difteri bukan hanya bisa tertular dari hal-hal di atas saja, tetapi juga dikarenakan tidak adanya pencegahan dari vaksinisasi. Indonesia termasuk salah satu negara berkembang yang angka vaksinisasinya masih sangat rendah. Difteri adalah penyakit yang sangat mudah menyebar pada anak-anak dan orang dewasa yang tidak diimunisasi. Seseorang lebih mungkin terjangkit infeksi ini jika tidak mendapatkan atau tidak melengkapi imunisasi difteri sewaktu kecil dulu. Sayangnya, banyak orangtua yang bahkan menolak sama sekali untuk memberikan vaksin kepada anaknya karena sudah terlanjur percaya mitos-mitos tentang imunisasi di masyarakat. Misalnya, imunisasi menyebabkan kelumpuhan atau autisme yang padahal sudah terbukti salah besar dan sudah dibuktikan oleh banyak penelitian medis. Inilah salah satu penyebab difteri kembali mewabah di Indonesia setelah sekian lama. Terlepas dari vaksinasi, ada beberapa faktor lainnya yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena difteri, yaitu sebagai berikut.

  1. Belum pernah mendapatkan vaksinasi difteri.
  2. Tidak mendapatkan vaksinasi difteri lanjutan atau terbaru.
  3. Memiliki gangguan sistem imun, misalnya terkena HIV/AIDS, kanker, atau penyakit lainnya.
  4. Memiliki sistem imun lemah, misalnya anak-anak dan lansia.
  5. Tinggal di pemukiman padat penduduk dan kebersihannya tidak terjaga dengan baik.
  6. Melakukan perjalanan ke daerah yang terkena wabah difteri.

Jika Anda atau anak Anda melakukan kontak dengan seseorang dengan penyakit difteri, Anda harus segera mengunjungi dokter untuk mendapatkan tes diagnostik dan kemungkinan pengobatan.

Cara Mengobati Penyakit Difteri

Difteri memang salah satu penyakit menular yang cukup berbahaya karena bisa berisiko pada kematian. Namun, meskipun begitu penyakit ini juga masih bisa dicegah dengan melakukan pengobatan sesegera mungkin untuk memutuskan penyebarannya. Dokter pertama-tama akan memberi suntikan antitoksin untuk melawan racun yang dihasilkan oleh bakteri. Jika ternyata Anda alergi terhadap antitoksin, segera beri tahu dokter agar dokter dapat menyesuaikan pengobatan. Pada pasien dengan alergi, biasanya dokter akan memberi dosis antitoksin yang rendah dan meningkatkan kadar secara bertahap. Setelah itu, dokter akan memberikan antibiotik untuk membantu mengatasi infeksi. Setelah diberikan obat-obatan tersebut, dokter akan menyarankan Anda untuk mendapatkan vaksin dosis pendorong (boost immunisation) setelah sehat untuk membangun pertahanan terhadap bakteri difteri. Selama pengobatan, dokter mungkin akan meminta Anda untuk rawat inap di rumah sakit guna mengawasi reaksi terhadap pengobatan dan mencegah penyebaran penyakit. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, penyakit difteri bisa dicegah dengan melakukan vaksinsasi. Vaksin difteri biasanya diberikan lewat imunisasi DPT (Difteri, Pertusis/batuk rejan, dan Tetanus) sebanyak lima kali yang dimulai ketika bayi berusia dua bulan. Anak Anda harus mendapat vaksinasi DPT pada usia dua bulan, tiga bulan, empat bulan, 18 bulan, dan usia empat hingga enam tahun. Untuk anak usia di atas tujuh tahun diberikan vaksinasi Td atau Tdap. Vaksin Td/Tdap juga akan melindungi Anda dari risiko tetanus, difteri, dan pertusis. Vaksin Td/Tdap harus diulang setiap 10 tahun sekali. Ini juga berlaku untuk orang dewasa.

Comments are closed.