Penyakit Epilepsi: Ini Gejala dan Penyebabnya!

Health

Penyakit epilepsi merupakan salah satu penyakit berbahaya yang jika tidak diobati akan merangsang timbulnya penyakit baru. Oleh karena itu, penyakit ini harus segera mendapatkan penanganan dokter. Untuk memastikan ada atau tidaknya penyakit ini, berikut ini gejala dan penyebab dari penyakit eplepsi.

Epilepsi atau yang sering disebut dengan ayan adalah penyakit yang berhubungan dengan gangguan sistem saraf pusat akibat pola aktivitas listrik otak yang tidak normal, sehingga menimbulkan keluhan kejang, sensasi dan perilaku yang tidak biasa, hingga hilang kesadaran. Gangguan pada pola aktivitas listrik otak saraf dapat terjadi dikarenakan kelainan pada jaringan otak, ketidakseimbangan zat kimia di dalam otak, atau kombinasi dari beberapa faktor penyebab tersebut. Kejang merupakan gejala utama yang akan dirasakan jika penyakit epilepsi ini sedang kambuh. Biasanya penyakit ini bisa kambuh dikarenakan timbulnya impuls listrik pada otak yang melebihi batas normal. Kemudian, kondisi ini menyebar ke area sekelilingnya sehingga menimbulkan sinyal listrik yang tidak terkendali. Sinyal tersebut terkirim juga pada otot yang menimbulkan kedutan hingga kejang. Penyakit epilepsi memiliki tingkatan yang berbeda-beda. Membedakan masing-masing tingkatan tersebut dilihat dari keparahan saat penderita kejang-kejang. Ada yang hanya berlangsung beberapa detik dan memandang dengan tatapan kosong, atau terjadi gerakan lengan dan tungkai berulang kali. Kejang dapat dibagi menjadi dua kelompok utama, yaitu kejang umum dan kejang parsial atau fokal. Penderita epilepsi biasanya akan mengalami jenis kejang yang sama sepanjang dinyatakan epilepsi, meski ada juga yang mengalami beberapa jenis kejang pada saat yang berbeda. Penyakit epilepsi bisa menyerang siapa pun. Baik itu anak kecil atau orang dewasa. Namun, pada umumnya epilepsi bermula pada usia anak-anak atau malah mulai pada saat usia lebih dari 60 tahun. Kalau begitu, apa saja gejala yang bisa dirasakan jika penyakit epilepsi ini sedang kambuh?

Baca juga: Kenali Berbagai Jenis dan Gejala Gangguan Kecemasan

Gejala Penyakit Epilepsi

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, bahwa kejang merupakan salah satu gejala utama dari timbulnya penyakit ini. Namun, kejang memiliki variasi tergantung pada bagian otak yang terganggung. Berikut ini beberapa karakteristik kejang umum:

Kejang Tonik-Klonik

Kejang ini merupakan jenis yang paling umum terjadi. Gejalanya dapat terbagi menjadi dua tahap, yaitu tahap tonik yang ditandai dengan hilang kesadaran, tubuh menjadi kaku, dan tubuh tiba-tiba jatuh ke bawah. Tahap berikutnya adalah tahap klonik yang ditandai dengan anggota tubuh bergerak-gerak (kelojotan), kehilangan kendali atas buang air besar dan buang air kecil, lidah tergigit, serta sulit bernapas. Kejang ini biasanya berhenti setelah beberapa menit. Sesudah itu, penderita dapat merasa pusing, bingung, lelah, atau sulit mengingat apa yang sudah terjadi.

Kejang Petit Mal

Anak-anak yang mengidap penyakit epilepsi, biasanya sering mengalami kejang petit mal. Kejang ini ditandai dengan memandang tatapan kosong atau melakukan gerakan tubuh yang halus, seperti mata berkedip atau mengecap bibir sehingga menimbulkan kehilangan kesadaran yang singkat.

Kejang Tonik

Kejang tonik bisa membuat semua otot kaku seperti kejang tonik-klonik tahap pertama, sehingga keseimbangan tubuh bisa hilang dan tubuh bisa jatuh. Kejang jenis ini akan mempengaruhi otot punggung, lengan, dan tungkai.

Kejang Atonik

Kejang atonik merupakan jenis kejang yang mengakibatkan seluruh otot tubuh mengendur atau kehilangan kendali, sehingga tubuh bisa jatuh. Kejang yang disertai dengan kehilangan kesadaran ini berlangsung sangat singkat dan penderita dapat segera bangun kembali.

Kejang Mioklonik

Jenis kejang yang satu ini biasanya ditandai dengan kontraksi tiba-tiba dari otot lengan, tungkai, atau seluruh tubuh. Kejang ini biasanya terjadi setelah bangun tidur dan berlangsung selama kurang dari satu detik, meski beberapa penderita dapat merasakannya selama beberapa saat.

Kejang Klonik

Kejang seperti ini muncul sebagai gerakan otot berkedut yang berulang atau berirama (kelojotan) seperti halnya fase kedua kejang tonik-klonik. Kendati demikian, otot tidak menjadi kaku pada awalnya. Kejang jenis ini terjadi pada otot leher, wajah, dan lengan.

Baca juga: Tangani Penyakit Serius dengan Pengobatan Rawat Jalan

Penyebab Penyakit Epilepsi

Penyakit epilepsi bisa terjadi dikarenakan adanya beberapa penyebab seperti beberapa hal berikut ini:

Usia

Epilepsi umumnya terjadi pada anak kecil dan manula. Biasanya anak kecil yang baru berusia satu atau dua tahun akan mengalami ayan atau kejang-kejang, karena epilepsi. Selain itu, jika usia seseorang mencapai 35 tahun ke atas, tingkat kasus baru epilepsi yang mulai muncul pun meningkat. Kondisi ini bisa disebabkan oleh stroke, tumor otak, atau penyakit alzheimer, yang semua dapat menyebabkan epilepsi.

Jenis Kelamin

Penyebab epilepsi berikutnya adalah dikarenakan jenis kelamin. Pasalnya, penyebab epilepsi antara wanita dan pria cukup berbeda. Perbedaan ini timbul dikarenakan biologis antara perempuan dan laki-laki,dan juga karena peran sosial yang berbeda dari masing-masing jenis kelamin pada penderita epilepsi.

Baca juga: Seberapa Pentingkah Tes Kesehatan Dilakukan?

Faktor Genetik

Penyebab berikutnya dari epilepsi dikarenakan adanya faktor genetik dari orangtua atau saudara yang mengidap epilepsi. Belum diketahui penyebab pasti dari faktor ini, tetapi kesamaan DNA dan golongan darah pada saudara sekandung atau orangtua nyatanya dapat mempengaruhi epilepsi terjadi.

Trauma pada Otak

Kerusakan atau cedera otak terjadi ketika sel-sel otak yang dikenal sebagai neuron menjadi hancur. Hal ini dapat disebabkan oleh kerusakan fisik antara lain pasca operasi bagian otak, kecelakaan, terbentur, dan hal yang mengakibatkan saraf otak manusia mengalamii kerusakan. Kerusakan saraf pada otak tersebut dapat menimbulkan epilepsi pada penderitanya.

Kondisi Medis Tertentu

Infeksi pada sistem saraf dapat mengakibatkan aktivitas kejang. Ini termasuk infeksi pada otak dan cairan tulang belakang atau penyakit meningitis, infeksi otak atau ensefalitis, dan virus yang memengaruhi imun manusia (HIV), serta infeksi saraf dan imun manusia terkait yang dapat menjadi penyebab epilepsi.

Gangguan Mental

Epilepsi adalah gangguan otak yang ditandai dengan kejang atau kejang berulang. Sedangkan autisme adalah penyakit neurobehavioral yang mencakup penurunan interaksi sosial dan perkembangan bahasa, yang sering kali berisi kaku, sistematis, melakukan sesuatu berulang-ulang. Kedua kondisi ini dapat mempengaruhi individu dengan berbagai tingkat keparahan yang dialami. Sebuah penelitian telah menemukan bahwa orang dewasa yang mengidap epilepsi lebih mungkin untuk menunjukkan tanda-tanda autisme dan sindrom asperger ke depannya.

Kehamilan

Epilepsi memengaruhi perempuan secara berbeda, khususnya pada wanita yang sedang hamil. Siklus hormonal dan menstruasi, kehamilan, menopause, dapat menyebabkan epilepsi.  Ketika wanita memiliki epilepsi, umumnya disebabkan oleh hormon tertentu. Dua hormon ini adalah estrogen, yang meningkatkan aktivitas listrik otak, dan progesteron, yang memiliki efek sebaliknya. Epilepsi jika terjadi pada wanita hamil akan berpotensi diturunkan pada bayinya.

Comments are closed.