Buka Mata Terhadap Polusi Udara Sekitar, Ini Dia Pemicunya!

Health

Menjaga kualitas udara agar terhindar dari polusi udara wajib dilakukan, mengingat banyaknya risiko yang berdampak pada kesehatan tubuh, apa saja pemicunya?

Polusi udara sendiri terbagi menjadi dua kategori, yaitu polusi udara yang terjadi di luar ruangan dan di dalam ruangan . Contoh polusi di luar ruangan meliputi pembakaran bahan bakar fosil (asap kendaraan dan pabrik), gas berbahaya (sulfur oksida, nitrogen oksida, karbon monoksida), dan asap rokok.

Sedangkan contoh polusi udara di dalam ruangan yaitu gas (karbon monoksida, radon), produk dan bahan kimia rumah tangga, asap rokok, bahan bangunan (asbes, timbal, formaldehida), alergen dalam ruangan (kecoak, kotoran tikus, debu), serta jamur dan serbuk sari. Dalam beberapa kasus, polusi udara luar ruangan bisa masuk ke dalam rumah melalui jendela, pintu, ventilasi, dan lubang sirkulasi udara lain yang terbuka.

Baca juga: Ciri-Ciri Asuransi Kesehatan Keluarga yang Bagus

Pemicu dan Risiko Buruk Polusi Udara Bagi Kesehatan

mengatasi polusi udara

Negara yang bisa menurunkan tingkat polusi di udara akan ikut menurunkan faktor risiko penyebab penyakit jantung, stroke, kanker paru-paru, persalinan prematur pada ibu hamil, serta gangguan pernapasan akut maupun kronis termasuk asma, dan bahkan kematian.  Polusi luar ruangan, terlebih di udara, mengandung materi karsinogenik atau zat yang bisa menyebabkan kanker. Penurunan polusi di udara juga akan membantu meningkatkan kesehatan saluran pernapasan dan juga kardiovaskular.

Kualitas udara yang buruk memengaruhi perkembangan paru-paru dan ginjal pada bayi dalam kandungan, serta meningkatkan risiko keguguran. Pada orang tua, kualitas udara yang buruk meningkatkan risiko serangan jantung, stroke, dan demensia. Risiko berkembangnya penyakit asma, diabetes, obesitas, hingga kanker juga menghantui orang di segala usia.

Berikut beberapa pemicu polusi di udara beserta dampak buruknya bagi kesehatan:

  • Karbon Monoksida. Zat beracun ini tidak memiliki aroma dan warna.  Asap yang mengandung zat ini terdapat pada limbah, minyak tanah, batu bara, dan kayu yang dibakar. Zat kimia ini mengurangi daya angkut sel darah merah dalam membawa oksigen. Efeknya terhadap kesehatan bergantung pada berapa lama paparan dan seberapa banyak karbon monoksida yang terhirup. Gejala yang timbul akibat paparan karbon monoksida kadar rendah meliputi sakit kepala, pusing dan kelelahan. Sedangkan paparan karbon monoksida yang lebih tinggi dapat menyebabkan gangguan penglihatan, gangguan fokus, penurunan kesadaran, hingga kematian.
  • Nitrogen Dioksida.Nitrogen dioksida (NO2) muncul dari proses pembakaran (emisi dari pembangkit listrik, mesin kendaraan, dan kapal). NO2 mengiritasi mukosa mata, hidung, tenggorokan, dan paru-paru. Terpapar NO2 secara terus-menerus dapat meningkatkan gejala bronkitis dan emfisema, bahkan dapat memperparah penyakit jantung hingga kematian dini. NO2 juga dapat menurunkan fungsi paru-paru dan meningkatkan risiko infeksi pernapasan.
  • Partikel padat dan cair. Komponen partikel di udara yang terdiri atas sulfat, nitrat, bahan kimia organik, logam, partikel tanah, atau debu. Komponen ini terdapat pada asap kendaraan, pembangkit listrik, dan kebakaran hutan. Jika terpapar oleh kombinasi unsur-unsur tersebut secara terus-menerus, dapat meningkatkan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular dan pernapasan.

dampak polusi udara

  • Ozon di permukaan tanah berbeda dengan lapisan ozon di atmosfer. Walau pada lapisan atmosfer ozon berfungsi sebagai penangkal cahaya ultraviolet (UV), namun pada permukaan bumi, ozon termasuk polusi. Ozon di permukaan bumi terbentuk ketika cahaya matahari memicu reaksi kimia antara unsur-unsur polusi. Ozon merupakan gas yang sangat reaktif dan bisa mengiritasi mata dan menyebabkan gangguan pernapasan bagian atas dan bawah pada orang sehat sekalipun. Polusi ozon dapat memicu serangan asma pada penderita asma. Ozon juga dapat meningkatkan kerentanan seseorang terhadap infeksi pernapasan dan memperparah penyakit pernapasan yang sudah diderita sebelumnya. Paparan jangka panjang terhadap konsentrasi ozon yang tinggi dapat menyebabkan penurunan fungsi paru yang signifikan, pembengkakan jalan napas, dan gangguan pernapasan. Orang dengan penyakit paru-paru sangat rentan terhadap efek gangguan pernapasan akibat ozon.
  • Sulfur Dioksida. Sulfur dioksida atau SO2 dihasilkan dari pembakaran batu bara dan bensin. Zat ini dapat mengiritasi mata dan hidung. Menghirup unsur ini dapat menyebabkan penyempitan saluran pernapasan, di mana penderita asma dan penyakit pernapasan kronis akan lebih sensitif terhadap unsur ini.
  • Timbal. Mayoritas timbal atau disebut juga timah berasal dari emisi kendaraan, industri, penggunaan solder, dan cat. Timbal sangat beracun dan diketahui merusak sistem saraf, ginjal, serta mengganggu proses pembentukan hemoglobin.  Anak-anak lebih rentan terhadap efek timbal, yang dapat mengakibatkan penurunan nilai IQ (tingkat kecerdasan), penurunan prestasi, gangguan perilaku, pubertas yang tertunda, penurunan fungsi pendengaran, hingga kinerja kognitif. Sementara pada orang dewasa, paparan timbal dapat mengakibatkan penyakit kardiovaskular, gangguan saraf, penurunan kesuburan, hingga penurunan fungsi ginjal.

Baca juga: Waspada! Virus Corona Semakin Meluas

Cara Kurangi Risiko Paparan Polusi

Untuk mengurangi risiko paparan pencemaran udara dalam ruangan, Anda bisa memastikan bahwa ruangan rumah atau kantor Anda berventilasi baik, dan dibersihkan secara teratur untuk mencegah penumpukan debu dan munculnya jamur. Penghuni suatu ruangan juga harus bijaksana untuk mengurangi penggunaan polutan dan iritan seperti aerosol, bahan kimia pembersih rumah tangga, dan bahan penyebab polusi lain. Gunakan kompor masak yang hemat gas dan batasi penggunaan listrik atau bahan bakar.

Sementara itu, paparan kualitas udara yang buruk baik yang terbuka atau di luar ruangan dapat dikurangi dengan memeriksa indeks kualitas udara, menghindari lalu lintas yang padat bila memungkinkan, serta menghindari paparan asap rokok.

Kota di Indonesia Dengan Kualitas Udara Terburuk

Kota Jakarta memang dinobatkan sebagai kota dengan kualitas udara yang buruk, namun ternyata Jakarta tak sendirian. Di Indonesia terdapat sepuluh kota yang memiliki kualitas udara buruk selain Jakarta, diantaranya yaitu Pontianak, Palangkaraya, Balai Pungut, Pemangkat, Singkawang, Sungai Raya, Tangerang Selatan, Rangkasbitung, Pandeglang, dan Pekanbaru.

penyebab polusi

Posisi pertama yang menduduki kota dengan polusi terburuk adalah Pontianak. Kota yang berada di Provinsi Kalimantan Barat tersebut menduduki posisi pertama kota yang memiliki kualitas udara terburuk di Indonesia dengan angka kualitas udara sebesar 191. Artinya, kota tersebut ditandai dengan warna merah yang berarti tidak sehat.

Kota kedua adalah Palangkaraya, kota yang terletak di Provinsi Kalimantan Tengah tersebut tercatat memiliki tingkat kualitas udara sebesar 182. Posisi ketiga kota dengan udara terburuk di Indonesia adalah Balai Pungut. Kota ini terletak di Provinsi Riau dan memiliki tingkat kualitas udara sebesar 168.

Baca juga: Tangani Penyakit Serius dengan Pengobatan Rawat Jalan

Posisi keempat hingga keenam ditempati oleh kota-kota yang berada di Provinsi Kalimantan Barat, yakni Pemangkat, Singkawang, dan Sungai Raya. Ketiga kota tersebut memiliki tingkat kualitas udara sebesar 165, 164, dan 164.   Tiga kota setelahnya ditempati oleh kota-kota yang berada di Provinsi Banten, yakni Kota Tangerang Selatan, Rangkasbitung, dan Pandeglang. Ketiga kota tersebut mempunyai tingkat kualitas udara sebesar 161, 155, dan 154. Terakhir, kota kesepuluh dengan tingkat polusi tinggi adalah Pekanbaru. Kota ini terletak di Provinsi Riau dan tercatat memiliki tingkat kualitas udara sebesar 154.

Terhindar dari polusi memang tak mudah, sebab beberapa diantaranya sulit untuk dicegah. Namun, berupaya menghindari pemicunya akan lebih baik ketimbang tak menghiraukannya sama sekali paling tidak mulai dari polusi di dalam rumah. Semangat selalu jaga kualitas udara di dalam rumah ya!

Comments are closed.