Apa Itu Ventilator? Berikut Kegunaan dan Manfaatnya!

Health

Mungkin Anda sering dengar pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit dengan bantuan alat ventilator. Namun, apakah Anda tahu apa fungsi dan kegunaan alat tersebut?

Di berbagai negara yang sedang berperang melawan Covid-19, mereka berusaha menyediakan alat yang disebut dengan ventilator ini. Bahkan, di rumah sakit darurat yang mereka buat, alat ini harus dipastikan ada.

Begitu juga di Indonesia. Di Wisma Atlet yang sudah ditunjuk sebagai tempat penangangan pasien Covid-19 juga sudah dilengkapi dengan alat-alat penangangan Covid-19. Salah satunya alat ventilator ini.

Lalu, apa sebenarnya kegunaan dari alat yang satu ini?

Baca juga: Beli Asuransi Proteksi Virus, Cermati 7 Hal Berikut!

Kegunaan Utama Ventilator

Tahukah Anda apa yang diserang oleh virus corona atau Covid-19 ini? Organ tubuh yang pertama kali diserang adalah paru-paru. Makanya, mereka yang dinyatakan positif Covid-19 biasanya akan mengalami masalah batuk disertai dengan sesak nafas.

kegunaan ventilator

Nah, peran ventilator adalah di bagian yang satu ini. Jadi, alat ini akan membantu orang yang mengalami sesak nafas agar mendapatkan udara sehingga masih bisa bertahan. Alat ini akan memompa udara ke dalam paru-paru dalam beberapa detik. Kemudian, alat tersebut akan berhenti sembaru udara keluar dengan sendirinya dari paru-paru.

Pada intinya, ini adalah alat bantu pernafasan ketika sistem pernafasan tidak bekerja secara normal. Ini tidak hanya digunakan untuk pasien corona. Beberapa orang yang memiliki masalah pernafasan seperti asma berat dan gangguan paru-paru juga membutuhkan alat yang satu ini. Hanya saja, di saat wabah pandemi seperti saat ini, alat bantu pernafasan ini sering dikaitkan dengan pasien corona saja.

Tidak Semua Pasien Covid-19 Harus Menggunakannya

manfaat ventilator

Lalu, apakah semua pasien harus mendapatkan bantuan alat pernafasan? Faktanya tidak. Pasalnya, banyak pasien yang tidak mengalami gejala sesak nafas. Mereka yang tidak menunjukkan gejala seperti itu tidak perlu dipasang alat ventilator.

Ini yang sebenarnya menyebabkan banyak rumah sakit was-was. Pasalnya, di beberapa rumah sakit daerah, mereka tidak memiliki alat yang memadai untuk menangangi Covid-19. Memang mereka sudah disupply dengan APD standard. Hanya saja, ada yang tidak mampu melakukan pengadaan alat ventilator ini.

Mau tidak mau, jika ada pasien positif Covid-19 di daerah, maka pasien harus dirujuk ke rumah sakit yang ada di kota besar. Apalagi jika pasien memiliki gejala sulit bernafas.

Yang jelas, tidak semua pasien positif corona itu memiliki gejala sulit bernafas. Ada yang hanya menunjukkan gejala ringan seperti batuk dan sedikit demam. Jika sudah ada gejala sesak nafas, itu sudah gejala berat dan harus mendapatkan alat bantu ventilator.

Selain itu, ada juga kondisi di mana dokter akan memasang alat bantu pernafasan ini seperti adanya risiko pasien mengalami serangan jantung. Apalagi jika pasien memiliki riwayat penyakit jantung. Alat yang satu ini harus disiapkan meskipun pasien belum menunjukkan gejala sesak nafas.

Baca juga: Daftar Rumah Sakit Rujukan Penanganan Virus Corona di Indonesia

Cara Menggunakan Ventilator

alat ventilator

Memakaikan alat bantu pernafasan ini bukan hal yang mudah. Ini harus dilakukan oleh tenaga medis yang sudah terlatih dan berpengalaman.

Ada risiko yang bisa dialami oleh pasien. Misalnya saja risiko terluka pada bagian mulut dan tenggorokan. Luka ini bisa terjadi ketika dilakukan tindakan intubasi. Selain itu, ada juga paru-paru mengalami infeksi. Risiko ini bisa diantisipasi dengan cara memastikan selang sudah benar-benar bersih dan steril dari kuman.

Cedera dan juga risiko buruk tersebut harus dihindari dengan cara memahami tata cara penggunaan ventilator dengan baik. Berikut ini langkah-langkah pemasangan alat bantu pernafasan:

1. Bius

Awalnya, pasien akan dibius. Ini tindakan pertama yang harus dilakukan karena pemasangan selang pada tenggorokan itu menyakitkan.

2. Intubasi

Intubasi adalah proses di mana selang khusus dimasukkan pada mulut. Ada juga beberapa kasus di mana selang harus dimasukkan ke dalam hidung atau lubang yang harus dibuat di bagian leher depan yang disebut dengan trakeostomi.

3. Pemasangan Ventilator

Setelah intubasi berhasil dilakukan, maka selanjutnya adalah menyambungkan selang dengan alat bantu pernafasan.

Tiga tahap pemasangan alat bantu pernafasan tersebut terlihat mudah dan sederhana. Namun, pada kenyataannya sangat rumit. Bahkan, hanya dokter yang sudah berpengalaman saja yang biasanya bisa melakukan pemasangan. Dokter yang sudah mendapatkan lisensi namun belum pernah punya pengalaman memasang alat ini biasanya tidak dianjurkan untuk melakukan pemasangan.

Ketika Ventilator Dipasang

Selama alat bantu pernafasan itu dipasang, maka banyak hal yang tidak bisa dilakukan oleh pasien. Misalnya saja pasien tidak bisa berbicara dengan dokter ataupun perawat. Yang bisa dilakukan hanyalah berkomunikasi dengan bahasa isyarat atau tulisan.

Selain itu, pasien juga tidak bisa makan dan minum. Asupan nutrisi didapatkan oleh pasien melalui infus. Selain itu, dokter juga menambahkan obat penenang atau obat anti nyeri. Ini diperlukan ketika pasien merasa kurang nyaman selama alat bantu ventilator terpasang.

Pasien tidak bisa berganti posisi. Selama alat dipasang, ia harus berbaring. Inilah yang terkadang membuat pasien merasa bosan dan tidak nyaman. Lama penggunaan ventilator tergantung kondisi pasien. Jika sistem pernafasan sudah bekerja dengan baik, maka alat akan dilepas.

Selama alat bantu pernafasan masih terpasang, dokter akan melakukan pemantauan yang sangat ketat. Selain itu, pemeriksaan juga dilakukan secara berkala. Pemeriksaan meliputi pemeriksaan fisik, tes urin, tes darah, dan juga foto rontgen. Dari data-data pemeriksaan itulah yang kemudian digunakan untuk mengambil tindakan apakah alat bantu pernafasan sudah bisa dilepas atau tidak.

Baca juga: Apa itu Asuransi Penyakit Kritis? Bagaimana Cara Klaimnya?

Kreativitas Ketika Alat Bantu Pernafasan Terbatas

Tidak hanya Indonesia. Negara maju sekelas Inggris saja kekurangan ventilator. Hal ini disebabkan tingginya angka pasien Covid-19 di negara tersebut.

Di Indonesia, memang kasus Covid-19 tidak sebanyak yang ada di Amerika Serikat. Namun, ada pasien yang memiliki gejala sesak nafas yang juga harus mendapatkan bantuan alat pernafasan. Karena keterbatasan tersebut, seorang insinyur dari Amerika serikat melakukan hal yang kreatif, yaitu membuat alat bantu pernafasan dengan menggunakan alat pompa ASI elektrik.

Alat yang sebenarnya digunakan untuk memompa ASI tersebut dimodifikasi sehingga bisa menjalankan peran layaknya alat bantu pernafasan. Ini menjadi angin segar di tengah masalah alat bantu pernafasan yang terbatas dan harganya sangat mahal.

Namun, apakah alat modifikasi ini bisa digunakan? Meskipun bukan alat bantu pernafasan sebenarnya, sudah ada ijin dari FDA atau Food and Drugs Administrations untuk menggunakan alat tersebut di masa darurat seperti ini. Mungkin pemerintah Indonesia bisa meniru apa yang dilakukan oleh insinyur di Amerika Serikat ini, terutama untuk rumah sakit di daerah yang tidak mampu membeli ventilator.

Jadi, sekarang Anda sudah tahu apa itu ventilator lengkap dengan kegunaannya. Alat ini memang sangat dibutuhkan di tengah pandemi virus corona Covid-19. Semakin banyak pasien yang dirawat nanti, maka semakin banyat alat bantu pernafasan yang dibutuhkan. Ini akan terus terjadi sampai wabah virus Covid-19 usai.

Comments are closed.