Biaya Hidup Di Hongkong Tinggi: Ini Penyebabnya!

Lifestyle & Leisure

Dari sewa rumah berbiaya Rp30 juta/bulan hingga pendidikan yang memakan ratusan juta, inilah sebab mengapa biaya hidup di Hongkong semakin tinggi.

Hongking menjadi salah satu destinasi liburan yang paling digemari di Asia. Disneyland dan hiburan malam jadi daya tarik wisatawan yang berkunjung ke sana. Namun, gemerlap Hongkong nyatanya berbanding terbalik dengan kehidupan warganya. Katanya biaya hidup di Hongkong adalah yang tertinggi di Asia, melebihi negara-negara maju lain, seperti Jepang dan Korea Selatan.

Jumlah penduduk yang tinggi disinyalir jadi faktor utama biaya hidup di Hongkong begitu tinggi. Selain persoalan kepadatan manusia, ada faktor lain yang menyebabkan mahalnya ongkos harian di sini.

Alasan Biaya Hidup Di Hongkong Tinggi

Tingginya Biaya Sewa Rumah

Saat mengunjungi pusat kota Hongkong jangan heran jika melihat banyak orang tidur di jalanan, toilet umum, dan di halaman restoran cepat saji. Ini karena mereka tidak mampu membayar sewa kamar yang makin tinggi. Di Kownloon misalnya, distrik yang sedikit jauh dari pusat kota saja harga sewa rumah perbulannya bisa mencapai Rp15 juta. Sementara di pusat Hongkong sendiri untuk rumah dengan tiga kamar harga sewanya dipatok mencapai Rp 30 juta/bulan.

Bagi mereka yang berpendapatan rendah, berbagi kamar dengan orang lain adalah solusinya. Maka tak heran jika setiap keluarga biasanya hanya menempati ruangan dengan luas 5×4 meter saja. Itu pun sudah termasuk kamar mandi dan dapur di dalamnya.

Mahalnya Makanan

Biaya hidupHongkong juga tak bisa lepas dari soal makanan. Para pemilik restoran menetapkan harga tinggi untuk setiap produknya. Contohnya, untuk membeli makanan cepat saji yang notabene sangat murah pun mereka mesti mengeluarkan lebih dari Rp 50ribu untuk sekali makan. Di restoran modern bahkan sampai tiga kali lipatnya. Memasak sendiri juga tidak murah, harga perkilogram daging ayam saja bisa mencapai Rp100 ribu.

Sulit Mendapat Pekerjaan dengan Gaji Tinggi

Sebenarnya Hongkong membuka banyak lowongan kerja bergengsi, tapi gajinya tetap tidak dapat menutupi biaya hidup sebagian besar warganya, terutama mereka yang sudah berkeluarga. Pekerjaan seperti penjaga toko, waiters atau bartender yang digaji lumayan besar di Indonesia, di sini hanya mendapatkan gaji rata-rata. Tidak sebanding dengan biaya hidup. Beruntung mereka yang bernaung dip erusahaan dengan bos yang baik, setidaknya biaya pengobatan atau tempat tinggal ada yang menopang.

Biaya Pendidikan Terus Meroket

Pendidikan jadi salah satu sebab mengapa semakin banyak warga asli tak mampu mengubah diri. Bayangkan untuk skala sekolah dasar saja para orang tua harus mengeluarkan kocek mencapai Rp 100-400 juta. Itu untuk biaya masuknya saja, belum termasuk buku dan seragamnya. Tak heran jika warga sana banyak yang berpendidikan rendah dan gagal mengubah nasib keluarganya.

Selain itu, kehidupan sekolahnya juga sangat kompetitif yang mengakibatkan anak mudah stres. Para orang tua yang tidak memiliki cukup uang biasanya akan pindah ke kota yang lebih kecil untuk mencari biaya pendidikan yang lebih rendah. Sebab, biaya hidup dyang terus naik tidak cocok untuk mereka.

Budaya Konsumsi yang Tinggi

Hongkong adalah kota yang penuh dengan mal, butik mewah, department store, dan toko arloji bermerek yang bertebaran ditiap sudut kota. Ketika sebagian besar warganya hidup di bangunan tua tak terpakai, para ekspatriat dan ningratnya menghabiskan hari-harinya di pusat perbelanjaan hingga larut malam.

Ya, disini ada puluhan mall yang selalu ramai dikunjungi.  Contohnya, di Central ada IFC Mall. Di Admiralty, ada Pacific Place, Causeway Bay ada Times Square, dan Tsim Sha Tsui punya Harbour City. Tidak seperti di negara lain, di sini mall buka hingga tengah malam. Imbasnya banyak pekerja muda terlilit hutang kredit untuk memenuhi gaya hidup dan biaya hidup hingga berakhir menjadi miskin karena tak mampu melunasinya.

Kesehatan Jadi Barang Langka

Udara di distrik sama seperti China yang tergolong buruk sehingga warganya sering menderita gangguan pernafasan. Pemerintah setempat berupaya membantu dengan menyediakan fasilitas pengobatan gratis, tapi pada kenyataannya penangan tersebut sering lama. Mau tak mau Anda harus merogoh kocek sendiri ketika sakit. Sementara biaya kesehatan di sana juga tidak murah.

Tarif sekali pemeriksaan ke dokter adalah Rp60 juta untuk satu keluarga, belum termasuk obat-obatan. Warga Hongkong yang miskin bahkan sering tak mendapat penangan yang semestinya. Biaya hidup menyedot semua kantong para pekerja hingga tak cukup lagi untuk menopang biaya kesehatannya.

Biaya Transportasi yang Tak Murah

Seperti kota-kota maju di dunia, Hongkong juga sudah dilengkapi dengan MRT dan bus yang terintegarsi. Namun, untuk mendapatkan fasilitas ini Anda perlu mengeluarkan kocek sekitar Rp50 ribu untuk sekali perjalanan, atau menggunakan pass yang dapat digunakan selama sebulan penuh dihargai Rp1 juta. Jika ingin menaiki taksi, siapkan dana yang lebih besar, karena belum jalan pun argonya sudah diangka Rp 50ribu.  Sementara untuk kendaraan pribadi juga tidak murah. Harga bahan bakar per liternya sekitar Rp30 ribu.

Namun, biaya hidup Hongkong yang luar biasa ini sebenarnya bisa tertutupi dengan pekerjaan bergaji tinggi. Apa saja jenis pekerjaan tersebut? berikut daftarnya:

Pekerjaan Di Hongkong Bergaji Tinggi

Project Directors

Hal ini juga mencakup sektor properti, bisnis F&B, dan juga retail. Dengan lebih dari 10 tahun pengalaman kerja dibidang yang sama, para Project Directors bisa mengantongi gaji antara Rp1-2 juta HKD atau senilai Rp 1-2 Miliar/tahun. Namun, Anda mesti memiliki pengetahuan mendalam disemua aspek untuk sampai diposisi ini. Tak jarang para ekspatriat yang mampu menduduki posisi tersebut.

Industri Telkomunikasi dan e-Commerce

Perkembangan dunia digital yang begitu cepat membuka banyak peluang kerja baru dan yang paling bergengsi adalah industri e-commerce. Setidaknya di Hongkong seorang Head Of Digital bisa mencicipi gaji sekitar Rp1 miliar. Namun, ada kesenjangan besar yang terjadi untuk para karyawan dengan jabatan lebih rendah yang gajinya bisa di angka Rp400-500 juta saja per tahunnya.

Industri Perbankan dan Keuangan

Sektor perbankan dan jasa keuangan selalu punya nilai istimewa. Hal ini dikarenakan banyak ekspatriat berinvestasi di Hongkong maka jasa finance pribadi sangat dibutuhkan. Para finance bersertifikat bisa mengantongi hingga Rp 700juta/tahunnya. Belum termasuk bonus-bonus dari para client.

HRD

Setiap perusahaan baik kecil maupun besar pasti butuh keberadaan Human Resource Department. Posisi ini di Hongkong diisi oleh orang-orang hebat yang sudah berpengalaman minimal 10 tahun dalam bidang perekrutan sumber daya manusia. Tak tanggung-tanggung pertahunnya pendapatan mereka bisa mencapai Rp3 miliar.

So, jika Anda punya kemampuan mumpuni di industri tersebut tidak ada salahnya mencoba peruntungan di negeri orang. Biaya hidup Hongkong yang tinggi tidak akan jadi soal selama pendapatan Anda diatas rata-rata warga lokal.

Comments are closed.