Hari Demokrasi Internasional, Pengingat Suara Rakyat

Lifestyle & Leisure

Hari demokrasi internasional menjadi pengingat bahwa suara masyarakat masih jadi suara Tuhan. Yuk, ketahui lebih lanjut mengenai hari Demokrasi International berikut ini!

Setiap tanggal 15 September seluruh dunia memeringati hari demokrasi internasional. Hari yang sungguh krusial bagi negara-negara yang menganut sistem pemerintahan ini, termasuk Indonesia dengan paham demokrasi Pancasilanya. Rasanya kurang etis jika hari demokrasi dimaknai dengan pesta atau kemeriahan, lebih pas jika dengan keheningan dan evaluasi diri.

Sebab demokrasi adalah hajat hidup orang banyak dan patokan sudah sejauh mana suara masyarakat didengar. Hari demokrasi sudah ada sejak 1988 dan digaungkan oleh Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB). Dulu mereka berharap adanya hari demokrasi interasional dapat menjadi cermin sudah sejauh mana perkembangan demokrasi di dunia.

Tema Hari Demokrasi Internasional 2019

tema hari demokrasi international

Dilansir dari situs resmi PBB tema untuk hari demokrasi 2019 adalah partisipasi. “Ketika kita memperingati Hari Demokrasi, saya mendesak semua pemerintah untuk menghormati hak untuk berpartisipasi aktif, substantif dan bermakna; dan saya salut kepada Anda semua yang berusaha tanpa lelah untuk mewujudkan hal ini.” – Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres.

Hari spesial ini harusnya bisa menjadi pengingat kembali bahwa demokrasi adalah tentang manusia. Demokrasi dibangun di atas inklusi, perlakuan dan partisipasi yang setara dan ini merupakan fondasi dasar bagi perdamaian, pembangunan berkelanjutan, dan hak asasi manusia. Demokrasi dianggap sebagai sistem yang paling bisa menyediakan lingkungan terbaik untuk melindungi dan merealisasikan Hak Asasi Manusia (HAM).

Baca Juga: Bagaimana Sistem Pemerintahan di Indonesia?

Demokrasi sejati adalah jalan dua arah, dibangun di atas dialog yang konstan antara masyarakat sipil dan kelas politik. Dialog ini harus memiliki pengaruh nyata terhadap keputusan politik. Inilah sebabnya mengapa partisipasi politik, ruang sipil dan dialog sosial menjadi fondasi dari tata pemerintahan yang baik. Bahkan lebih benar lagi dengan dampak globalisasi dan kemajuan teknologi.

Namun hari ini, ruang sipil menyusut di seluruh dunia pada tingkat yang mengkhawatirkan. Aktivis masyarakat sipil semakin sulit untuk beroperasi. Pembela hak asasi manusia dan anggota parlemen sedang diserang. Perempuan masih kurang terwakili. Wartawan menghadapi gangguan, dan dalam beberapa kasus kekerasan.

Hari Demokrasi kali ini, adalah kesempatan untuk mendesak semua pemerintah diseluruh penjuru dunia untuk menghormati hak warganya untuk berpartisipasi aktif, substantif, dan bermakna dalam demokrasi.

Mengapa Hari Demokrasi ini Penting?

Memperingati Hari Demokrasi International

Di Indonesia mungkin jarang ada yang mendengar soal hari penting ini. Padahal sebagai salah satu negara yang menganut sistem politik ini, Indonesia diharapkan untuk turut aktif mengampanyekan pentingnya demokrasi dalam hidup. Inilah waktu paling tepat untuk memperkenalkan kepada publik mengenai apa itu demokrasi dan apakah demokrasi di negara kita sudah berjalan baik?

Perayaan pada hari demokrasi adalah memobilisasi kemauan politik dan sumber daya untuk mengatasi masalah-masalah global, dan untuk merayakan dan memperkuat pencapaian kemanusiaan. Dibentuknya hari besar ini bisa menjadi tolak ukur seberapa besar tingkat keterlibatan duni dalam mengampanyekan demokrasi dan HAM.

Namun nyatanya memang tanggal istimewa ini belum punya efek domino. Terbukti belum ada aksi-aksi yang mengguncang dunia terkait hari demokrasi. Karena itu PBB akan terus mencari tema dan konsep kampanye yang berbeda setiap tahun agar pembahasan soal demokrasi ini jadi fokus utama.

Masalah Demokrasi yang Masih Jadi Virus

Tak dapat dipungkiri isu HAM dan kesetaraan sosial masih jadi cencern kita semua. Meski sudah banyak pemerintahan berbagai negara menggemakan sistem politik ini, namun pada kenyataannya mereka yang berkuasa selalu berusaha menutup jalan diskusi bagi pihak oposisi. Tentu ini menjadi sebuah kemunduran ketika masyarakat tak lagi punya kekuatan untuk menyuarakan pendapatnya. Di Indonesia sendiri terdapat beberapa masalah demokrasi yang masih jadi polemik, seperti beriku ini.

Bertambahnya Masyarakat Apatis

Apatis disini adalah mereka yang enggan bersuaran, enggan mengkritik dan mengajukan suara ketika pemerintah semakin otoriter. Pembiaran dengan alasan bosan, ataupun terlalu sibuk dengan kegiatannya masih-masing merupakan sebuah kemunduran. Ini bisa menjadi pembunuh demokrasi secara pelan, dan lambat laun juga akan menghilangkan HAM dinegeri ini.

Baca Juga: Negara Yunani: 7 Fakta Menarik dari Negara Dewa-Dewi

Sudah saatnya masyarakat peduli, berani melakukan kritik dan menggugat mereka yang menyalahi demokrasi. Diam, bukanlah jawaban atas semua ketidakteraturan negara, justru sebagai rakyat kita haruslah jadi yang paling lantang berteriak.

Hilangnya Oposisi

Masih ingat soal “koalisi” yang terjadi pada pemilu 2019 lalu, ini bisa jadi salah satu tanda mulai memudarnya demokrasi di negera ini. Hilangnya oposisi dan adanya satu partai berkuasa akan melanggenggkan satu sistem yang tak dapat disentuh. Tentu kondisi ini sangat berbahaya jika para pemangku jabatan punya kepentingan individu. Jelas kepentingan orang banyak akan mereka kesampingkan.

Maraknya Hoaks

Semakin banyaknya hoaks yang bertebaran di linimasa adalah bukti bahwa demokrasi yang positif sudah mati. Cara-cara licik dengan intrik mulai digunakan hany demi memperoleh suara terbanyak. Bagaimana cerminan pejabat negara jika sebelum duduk dikursinya saja hal apapun ia lakukan?

Melakukan fitnah keji dan menggiring opini publik adalah tindak tidak terpuji, dan hanya dilakukan mereka yang tak percaya diri mendapatkan suara rakyat. Sayangnya inilah yang terjadi di Indonesia dan harusnya hari perayaan ini menjadi evaluasi bagaimana mengembalikan demokrasi secara utuh.

Rendahnya Etika Politik

Bisa dibilang politisi Indonesia ini narsistik, etikanya pun perlu dipertanyakan. Tidak ada seorang pemangku kepentingan menyindir lawannya lewat media sosial. Seharunya debatlah yang mempertemukan mereka dengan masyarakat sebagai penonton dan penilai. Para politisi Indonesia juga seakan menutup telinga dengan berbagai kritikan keras masyarakat tentang bagaimana cara mereka bersikap.

Baca Juga: 10 Negara yang Dihapuskan dari Peta Dunia

Padahal pejabat adalah contoh bagi generasi masa depan. Bagaimana kita bisa mencetak anak-anak ungguk berpolitik jika kaum tuanya saja tak punya etika politik?

Diskriminasi Kelompok Minoritas

Mungkin dalam perbincangan sehari-hari Anda masih sering mendengar ungkapn “Si Jawa”, “Si Batak” dan lain sebagainya. Penyebutan ini menandakan bahwa Indonesia belum merasakan satu, masih terkotak kotak dan saling mendiskriminasi satu sama lain. Intoleransi juga masih terlihat dibeberapa bagian wilayah Indonesia. Padahal demokrasi sangat menjunjung perbedaan, demokrasi ada untuk menyatukan banyak kepala berbeda, menempatkannya dalam satu kasta bukan meng-kotak kotakkan dan memberikan level berbeda.

Itulah beberapa masalah demokrasi yang masih jadi virus di Indonesia, dengan hari demokrasi sedunia mari sama-sama membenahi diri dan membuat Indonesia jadi tempat paling aman untuk mereka yang berbeda-beda.

Comments are closed.