Hari Ibu, Wujud Nyata Emansipasi Wanita

Lifestyle & Leisure

Selain sebagai ungkapan kasih sayang kepada jasa seorang ibu, Hari Ibu juga sesungguhnya merupakan tonggak sejarah perjuangan perempuan bagi kemerdekaan bangsa.

Sebagian dari kita menganggap bahwa Hari Ibu hanya merupakan hari untuk mengungkapkan rasa kasih sayang dan terima kasih. Padahal, lebih dalam dari pada itu Hari untuk Ibu lahir sebagai bentuk penghargaan bagi perjuangan para wanita-wanita di masa lampau dalam memerangi ketidakadilan. Perjuangan para wanita ini tentu berperan penting dalam mendukung terwujudnya kemerdekaan bagi bangsa Indonesia.

Pada zaman sekarang, peringatan hari bagi ibu memiliki makna yang lebih luas. Kebanyakan dari Anda, pasti akan langsung teringat dengan kebaikan seorang Ibu yang terlah merawat dan menjaga kita sedari kecil. Tentu hal itu bukan berari salah, sebab mengungkapkan kasih sayang dan terima kasih kepada Ibu merupakan hal yang positif. Tapi,  bagi Anda yang ingin mengetahui lebih dalam sebenarnya apa makna historis yang  menjadi  cikal bakal lahirnya Hari untuk Ibu, berikut fakta-fakta yang bisa Anda pahami.

Sejarah Penetapan Hari Ibu di Indonesia

Sejarah hari Ibu

Kesamaan pandangan untuk mengubah nasib perempuan di Tanah Air membuat berbagai organisasi perempuan yang ada di Sumatera dan Jawa berkumpul dalam satu tempat. Mereka berdiskusi, bertukar pikiran dan menyatukan gagasannya di Dalem Jayadipuran, Yogyakarta.

Bermacam gagasan dan pemikiran diungkapkan dalam Kongres Perempuan pada 90 tahun lalu, 22 Desember 1928. Selama tiga hari, dari 22 Desember sampai 25 Desember terdapat beberapa isu yang dibicarakan dalam pertemuan bersejarah yang dihadiri 600 orang dari 30 organisasi. Isu yang dibahas antara lain pendidikan perempuan bagi anak gadis, perkawinan anak-anak, kawin paksa, permaduan dan perceraian secara sewenang-wenang.

Selain itu, kongres juga membahas dan memperjuangkan peran wanita bukan hanya sebagai istri dan pelayan suami saja. Berawal dari situlah, persatuan dari beberapa organisasi wanita ini semakin kuat dan akhirnya tergabung dalam organisasi yang lebih besar, yakni Perikatan Perkoempolan Isteri Indonesia (PPII). Sampai akhirnya, ketika Kongres ketiga, perkumpulan ini mematangkan dan menyuarakan mengenai pentingnya perempuan dan menetapkan 22 Desember, dimulainya Kongres Perempuan I pada 1928, sebagai Hari Ibu.

Presiden Soekarno kemudian mengeluarkan keputusan presiden untuk menetapkan dukungan atas Kongres Perempuan III. Melalui Keputusan Presiden Nomor 316 tahun 1959 akhirnya Mother’s Day resmi menjadi Hari Nasional. Penetapan itu disesuaikan dengan kenyataan bahwa Hari tersebut pada hakikatnya merupakan tonggak sejarah perjuangan perempuan sebagai bagian dari perjuangan bangsa yang dijiwai oleh Sumpah Pemuda 1928.

Baca juga: Hari Ayah, Mengenang Jasa Kepala Keluarga

Hari Ibu pada Zaman Dahulu

Tradisi hari untuk ibu ternyata sudah berlangsung sangat lama. Bahkan dalam mitologi Yunani, terdapat festival musim semi yang digelar untuk menghormati dewi para ibu, yaitu Rhea. Rhea adalah istri dari Cronus dan dipercayai sebagai ibu para dewa.

Salah satu bangsa tertua yang tercatat merayakan hari tersebut adalah bangsa Romawi. Mereka memiliki festival tiga hari untuk para ibu yang disebut Hilaria. Hilaria didedikasikan bagi ibu para dewi, yaitu Cybelle. Para pengikut dewi ini akan memberikan persembahan di kuil, membuat permainan dan pesta topeng.

Berbeda dengan Negara Lain

Sejarah hari Ibu

Mother’s Day di Indonesia yang diperingati tiap tahunnya berbeda dengan Mother’s Day di negara-negara lain. Dilansir dari Harian Kompas yang terbit pada 22 Desember 1977, Hari untuk Ibu di negara lain biasanya diperingati untuk memanjakan ibu yang telah bekerja mengurus rumah tangga setiap hari tanpa mengenal waktu dan lelah.

Sementara di Indonesia, momen Mother’s Day ditujukan untuk menandai emansipasi perempuan dan keterlibatan mereka dalam perjuangan kemerdekaan. Sebelumnya, peringatan Mother’s Day selalu tertuju pada kaum perempuan. Namun, pada 1986, peringatan ini ditujukan untuk seluruh rakyat Indonesia. Dilansir Harian Kompas yang terbit pada 16 Desember 1986, mulai 1986 Mother’s Day diperingati secara nasional oleh seluruh rakyat Indonesia.

Hal itu dikemukakan oleh L Sutanto selaku Menteri Negara Urusan Peranan Wanita ketika itu. Dengan diperingati oleh elemen masyarakat, khususnya generasi muda lebih bisa menghayati arti kebangkitan dari peran wanita. Sehingga nilai luhur yang terkandung dalam sejarah kebangkitan wanita dapat diwariskan kepada seluruh rakyat Indonesia.

Festival untuk Ibu

Di beberapa negara, Mother’s Day dirayakan beberapa hari. Di India, perayaan hari untuk ibu berlangsung selama festival 10 hari dan disebut sebagai Durga Puja. Di sana, keluarga akan menyiapkan waktu berminggu-minggu untuk menyiapkan makanan, mengumpulkan hadiah dan mendekorasi rumah mereka.

Sementara di Ethiopia ada festival untuk ibu, yaitu Antrosht festival. Festival ini dilakukan pada akhir musim penghujan di awal musim gugur. Seluruh keluarga besar akan berkumpul untuk perayaan dan makan besar. Anak perempuan akan membawa keju sementara anak laki-laki membawa daging. Bersama-sama mereka membuat perkedel daging dan bernyanyi serta menari sembari bercerita tentang pahlawan dalam keluarga.

Beragam Tanggal

Tidak semua negara merayakan hari satu ini pada tanggal yang sama. Di Indonesia hari untuk ibu dirayakan pada tanggal 22 Desember dan ditetapkan sebagai perayaan nasional. Namun, di berbagai negara seperti Amerika Serikat dan lebih dari 75 negara lainnya di Eropa Barat, Malaysia, Taiwan dan Hong Kong, Mother’s Day dirayakan pada hari Minggu di pekan kedua bulan Mei.

Sementara di beberapa negara Eropa dan Timur Tengah, Hari Perempuan Internasional atau International Women’s Day diperingati setiap tanggal 8 Maret.

Hari untuk Kaisar

Di beberapa negara, Mother’s Day dihubungkan dengan upaya menghormati pemimpin perempuan atau figur penting negara tersebut. Jepang, misalnya. Tradisi Haha no Hi awalnya dimulai dengan perayaan ulang tahun kaisar perempuan Koujun. Tetapi kemudian hari untuk ibu berubah pada minggu kedua bulan Mei. Di Thailand, hari untuk ibu dirayakan pada ulang tahun Ratu Sirikit, yaitu pada tanggal 12 Agustus.

Baca juga: Hari Lansia Nasional, Bentuk Dukungan Kepedulian Sosial

Membangun Museum

Ibu Sukonto, Ketua Kongres Perempuan I meletakkan batu pertama Museum Pergerakan Wanita Indonesia pada 22 Desember 1953. Museum yang terletak di Yogyakarta itu diberi nama Museum Pergerakan Wanita Indonesia Mandala Bhakti Wanitatama.

Bunga untuk Ibu

Sejarah hari Ibu

Bunga Carnation adalah salah satu hadiah yang paling sering diberikan kepada ibu di Mother’s Day. Bunga Carnation berwarna merah dan merah muda diberikan kepada ibu yang masih hidup sementara carnation putih dipersembahkan bagi mereka yang telah meninggal dunia.

Pelarangan di Korea Utara

Tidak semua anak bebas menunjukkaan rasa cinta mereka kepada ibu. Pada awalnya, hari untuk ibu diperkenalkan pemerintah Korea Utara sebagai bagian dari propaganda negara. Namun sejalan dengan waktu, hari untuk ibu semakin populer dan komersil. Orang memanfaatkan Mother’s Day untuk belanja.

Alasannya karena ucapan cinta kasih anak kepada ibu mereka sendiri dianggap menganggu upaya penghormatan kepada figur ‘ayah’ Kim Jong Un. Namun diam-diam orang Korea Utara tetap membelikan bunga atau hadiah dari hasil kerja keras mereka untuk ibu tercinta.

Mengetahui fakta-fakta di atas, Bagaimana cara Anda merayakan hari istimewa ini di tahun ini?

Baca juga: Opsi Merayakan Hari Ibu dengan Berlibur, Kunjungi Negara yang Asyik Liburan Bareng Ibu!

Comments are closed.