Apa Saja yang Menjadi Perbedaan Haji dan Umroh?

Lifestyle & Leisure

Meksipun sama-sama mengujungi dan beribadah ke tanah suci, tapi terdapat perbedaan haji dan umroh yang sangat mendasar. Apa saja itu?

Bagi umat islam, ibdah haji adalah rukun Islam kelima yang wajib dilakukan jika mampu. Jika dilihat secara sekilas, ibadah haji memiliki banyak persamaan dengan umroh. Namun, kedua ibadah ini juga mempunyai perbedaan mendasar terkait waktu dan hukum pelaksanaannya. Haji secara literal berarti mengunjungi. Makna dari kata itu adalah segaja untuk datang ke Baitullah secara fisik dan jiwa dan siap menunaikan amalan tertentu, dengan syarat-syarat tertentu, dan pada waktu tertentu, yaitu pada bulan-bulan haji.

Beda halnya dengan umroh, ibadah umroh secara literal dipahami sebagai berziarah. Maknanya, berziarah ke Baitullah untuk melaksanakan amalan-amalan tertentu yaitu tawaf, sai, dan bercukur bisa dilakukan kapan pun tanpada adanya batasan waktu.

Baca juga: Naik Haji: Usia Terbaik Mempersiapkan Tabungan!

Pengertian Ibadah Haji dan Umroh

ragam perbedaan haji dan umroh

Dikarenakan haji dan umroh merupakan salah satu ibadah yang menjadi agenda rutin bagi setiap muslim di Indonesia setiap tahunnya, tidak heran jika sudah banyak masyarakat Indonesia yang lebih memilih untuk menabung uangnya dan berangkat ke tanah suci. Baik untuk melakukan ibadah umroh atau haji sekalipun. Namun, perbedaannya untuk berangkat haji Anda harus menunggu antrian bertahun-tahun, sedangkan umroh, Anda bisa lansung berangkat asalkan biayanya mencukupi. Oleh karena itulah, tidak sedikit dari mereka yang lebih memilih untuk menjalankan ibadah umroh dengan asumsi umroh sudah sama dengan haji kecil. Padahal kedua ibadah tersebut memiliki status hukum tersendiri dalam Islam dan tidak bisa disamakan. Selain itu haji tidaklah menggantikan umroh ataupun sebaliknya.

Haji secara bahasa bermakna al-qoshdu (sengaja/bermaksud) yaitu mengunjungi tempat yang dimuliakan. Secara istilah haji bisa diartikan sebagai serangkaian ibadah yang dilakukan pada waktu tertentu dan dengan tata-cara tertentu untuk mendapatkan keridhaan Allah SWT. Haji menjadi rukun Islam ke-enam dimana itu adalah kewajiban dan menjadi salah satu indikator bagi kesempurnaan keislaman seseorang dengan ketentuan mereka mampu secara lahir maupun batin dalam menjalankannya.

Beda halnya dengan umroh, ibadah ini adalah hukumnya sunah yang apabila dilakukan akan mendapatkan kemuliaan disisi Allah SWT. Umroh juga disiratkan dalam Al-Qur’an sebagai salah satu ibadah maliah atau ibadah yang menuntut adanya pengorbanan harta benda. Meskipun ada perbedaan mengenai hukum umroh, namun kebanyakan ulama di Indonesia sepakat bahwa umroh hukumnya adalah sunah dan dilakukan sekali seumur hidup. Nah, untuk lebih jelas lagi mengenai perbedaan haji dan umroh, berikut ini ulasan selengkapnya.

Perbedaan Hukum Haji dan Umroh

ragam perbedaan haji dan umroh

Hukum haji sudah tidak menjadi persoalan lagi yaitu wajib bagi setiap muslim yang mampu sebagaimana ditegaskan dalam Surat Al-Imran ayat 97, Allah berfirman: “Dan Allah mewajibkan atas manusia haji ke baitullah bagi orang yang mampu mengerjakannya”. Maksudnnya kata mampu di sini adalah setiap muslim yang mempunyai kemampuan baik dalam hal biaya, fisik maupun waktu. Ketika sudah merasa mampu, kemudian bisa melaksanakan haji juga masih harus mengikuti syarat, wajib, dan rukun haji yang akan dijelaskan pada poin berikutnya. Kesimpulannya adalah haji hukumnya wajib dan dilakukan satu kali seumur hidup.

Mengenai hukum umroh, para ulama memiliki pendapat yang berbeda-beda. Hal ini adalah hal yang sangat wajar karena mereka juga memiliki referensi hadits yang berbeda-beda dalam membuat kesimpulan terhadap sesuatu. Dalam kitab Al Fiqhu ‘Alal Madzahibil Arba’ah karya Syaikh ‘Abdul Rahman bin Muhammad ‘Awad al-Jaziri di sana dimuat tentang perbedaan hukum terkait dengan umroh. Ulama’ yang menyepakati umroh adalah ibadah sunah muakkadah (sunah yang dianjurkan) adalah Imam Maliki dan Imam Hanafi. Pendapat yang mewajibkan adalah Imam Syafi’i dan Imam Hambali.

Perbedaan Waktu Haji dan Umroh

Haji merupakan ibadah yang waktunya sudah ditetapkan yaitu antara tanggal 9 sampai 13 bulan dzulhijjah atau yang dikenal sebagai waktu haji, musim haji ataupun waktu-waktu haji. Itu artinya musim haji hanya terjadi satu kali dalam satu tahun, yaitu sekitar 5 hari pada bulan dzulhijjah tersebut. Namun yang menjadi prinsip dan inti dari ibadah haji adalah wuquf di padang Arofah (al-hajju Arafatun) maka boleh Anda berpendapat bahwa hari haji itu tepatnya jatuh pada tanggal 9 dzulhijjah di setiap tahunnya.

Lain halnya dengan umroh. Umroh bisa dilakukan kapan saja dan hanya sunnah dilakukan sekali seumur hidup. Terlepas dari kenyataanya pada pendapat para ulama, masyarakat Indonesia cenderung melakukan umroh berkali-kali dengan alasan kerinduan terhadap rumah Allah SWT. Selama itu tidak menjadikan beban dan menimbulkan dampak negatif para ulama sepakat membolehkan umroh berkali-kali seperti yang sering dilakukan ketika bulan-bulan haji dan bulan Ramadan.

Baca juga: Siapkan Hal Ini dalam Persiapan Ibadah Haji Anda

Syarat, Kewajiban, Rukun Haji dan Umroh

ragam perbedaan haji dan umroh

Sebenarnya kalau membahas mengenai syarat, wajib, dan rukun haji serta umroh, hal ini berhubungan erat dengan tata-cara atau teknis haji atau umroh itu sendiri. Dalam prakteknya, masyarakat bisa langsung mempelajari hal ini ketika sudah mendaftar haji karena pasti sebelum berangkat ke tanah suci, terlebih dahulu akan ada bimbingan haji disetiap daerah di Indonesia.

Untuk syarat haji, Anda bisa merujuk pada pedoman umum dalam pembahasannya mengenai fiqih kontemporer dalam buku Fiqh Islam karya H.Sulaiman rasyjidin halaman 346 ditulis bahwa ada empat syarat wajib haji yaitu sebagai berikut.

  1. Islam
  2. Mukallaf (Berakal dan Baligh). Baligh artinya orang yang sudah mampu membedakan antara yang benar dan yang salah.
  3. Orang Merdeka (tidak berstatus menjadi budak). Di Indonesia sudah tidak ada lagi sistem perbudakan.
  4. Mampu atau Kuasa (memiliki kemampuan melaksanakan haji sendiri). Dalam bahasa arab mampu atau kuasa disebut istatha’ah. Kemudian kategori ini bisa diperluas lagi yaitu orang yang memiliki kondisi kesehatan baik, adanya kendaraan yang dapat dimanfaatkan untuk pulang/pergi, adanya keamanan dalam perjalanan, memiliki bekal yang cukup selama menunaikan ibadah haji, dan bagi perempuan harus disertai oleh muhrimnya atau bersama dengan perempuan lain yang ada muhrimnya.

Secara rukun, ibadah haji membutuhkan kekuatan fisik yang lebih dari pada umroh karena wilayah yang akan dikunjungi bermacam-macam dengan jumlah jamaah yang jauh lebih banyak. Rangkaian ibadah haji harus mengunjungi Arafah, Muzdalifah dan Mina sementara rangkaian ibadah umroh hanya dilakukan di sekitaran masjid Al-Haram dan Ka’bah saja. Persamaannya, baik dalam ibadah haji maupun umroh juga harus bertawaf di Kakbah (mengelilingi) dan Sai (lari-lari kecil) di Safa dan Marwah. Oleh karena itu baik ibadah haji maupun umroh membutuhkan kesiapan fisik yang prima.

Baca juga: Asuransi Haji: Perlindungan Nyaman Saat Ibadah Haji

Comments are closed.