Mengenal Trem, Sejarah dan Jenis-Jenisnya

Lifestyle & Leisure

Pernah popular di Indonesia pada periode 60-an trem kini hanya tinggal kenangan. Moda transportasi khas perkotaan Eropa ini punya sejarah unik yang membuatnya tak lekang oleh zaman.

Trem, moda transportasi ini sering terlihat dalam film-film yang bercerita tetang abad pertengahan. Wajar, memang trem meraih puncak popularitasnya ketika revolusi Prancis bergulir. Saat itu Trem menjadi alat transportasi utama di jalanan kota yang sibuk. Eropa menjadi tempat yang paling banyak menggunakan alat transportasi satu ini.

Di Asia sendiri khususnya Indonesia trem sebenarnya bukanlah hal baru. Pada awal masa kemerdekaan transportasi massal ini sempat menjamur di Jakarta. Pertama diproduksi menggunakan tenaga kuda lalu berubah menggunakan tenaga listrik sebelum akhirnya mati setelah kehadiran bis yang dianggap lebih modern.

sejarah trem

Sementara di Eropa, trem masih dipertahankan dibeberapa kota terutama ibu kota. Mengapa mereka masih mempertahankan alat transportasi yang sudah berusia lanjut ini? Mari kita simak dari sejarahnya dulu untuk mengetahui mengapa trem bisa eksis hingga saat ini.

Baca juga: 10 Kereta Tercepat di Dunia. Mau Coba?

Sejarah Munculnya Trem

Trem adalah kendaraan transportasi berbasis kereta api yang awalnya berevolusi dari jaringan kereta api biasa menjadi layanan transportasi penumpang berbasis perkotaan. Awal kemunculannya ia dijalankan dengan tenaga kuda, kemudian menggunakan tenaga uap ketika revolusi Prancis bergulir dan akhirnya kini menggunakan tenaga listrik atau diesel.

Lintasan yang menggunakan rel tidak sama dengan kereta api. Jika kereta api memiliki jalur sendiri dengan rel mesti berada diaras tanah. Kendaraan ini lain lagi karena relnya bisa ditanam didalam tanah, sehingga dapat bersebelahan dengan mobil maupun bus. Tercatat hingga saat ini ada lebih dari 380 kota di seluruh dunia membangun moda transportasi massal ini.

Tram modern dioperasikan oleh listrik, sebagian kereta dapat beroperasi di jalur kereta api tradisional atau bahkan jalur magnetik. Kemunculan pertamanya sendiri dimulai pada abad ke-19 di South Wales, Inggris, di mana sebagian kecil Kereta Api Swansea dan Mumbles. Bentuknya menyerupai mobil dengan badan kereta api yang ditarik dengan kuda.

Tak lama berselang beberapa jaringan pertama muncul di Amerika Serikat (New York pada 1832, New Orleans pada 1835), Prancis (1839), Chili (Santiago, 1858), Mesir (Alexandria, 1850), Australia (Sydney, 1860) dan Indonesia (Jakarta, 1869). Pada akhir 1800-an moda transportasi ini ditenagai oleh lokomotif uap kecil (meskipun versi di Paris menggunakan mesin uap yang lebih besar yang terletak di bawah gerbong penumpang). Mereka menjadi sangat populer tidak hanya di Eropa, Amerika Utara di Asia namun tidak sedikit yang menolak kehadirannya.

Sebabnya adalah gas buang berupa asap yang sangat mengganggu, belum lagi kebisingan yang diciptakan dinilai tidak pas berada ditengah hiruk pikuk kota. Sementara yang bertenaga listrik sendiri mulai ada pada 1880. Diciptakan di Saint Petersburg, Rusia oleh Fyodor Pirotsky.

Jenis-Jenis

mengenal trem

Ternyata moda transportasi massal berbasis kereta ini ada banyak jenisnya, berikut diantaranya:

  • Single-ended, yakni kereta yang memiliki posisi operator di salah satu ujungnya.
  • Double-ended, yakni kereta dengan dua posisi pengoperasian, satu di setiap sisi kereta. Pendekatan ini membuat kereta jadi lebih fleksibel (tidak perlu hanya berjalan di trek melingkar), tetapi juga meningkatkan kompleksitas dan bobotnya.
  • Low floor, yakni kereta dengan desain modern yang memungkinkan penumpang untuk lebih mudah dan cepat masuk atau keluar dari kereta. Pengguna difabilitas dengan kursi roda dapat lebih mudah menggunakan kereta.
  • Ultra low floor – Peningkatan teknis terkini di mana sebagian besar sistem motor berada di atap, membuat area lantai sangat dekat dengan tanah. Karena kereta ini memiliki ketinggian masuk hanya 18cm (mirip dengan ketinggian trotoar), kereta ini memudahkan pengguna kursi roda atau mereka yang membawa kereta bayi. Minusnya adalah dibutuhkan lintasan jalur yang unik dan memakan biaya besar
  • Articulated – kereta yang memiliki sambungan artikulasi dan platform berjalan yang menghubungkan gerbong penumpang yang bersebelahan. Jenis ini sangat populer di seluruh dunia.
  • Double Decker – kereta dengan lantai 2. Anda dapat menemukan kereta jenis ini di jalanan Inggris Raya, Australia, Hong Kong dan Alexandria.
  • Tram-train – Adalah kereta yang memenuhi semua persyaratan teknis (daya, tipe roda, keselamatan, dll.) Yang dapat beroperasi di jalur rel kereta api biasa. Umumnya menghubungkan lebih dari satu wilayah perkotaan yang dipisahkan oleh jalur kereta api biasa.

Baca juga: Nyaman Gunakan Fasilitas MRT Jakarta, ini Dia Tipsnya!

Sejarah di Indonesia

Mulai meramaikan jalan-jalan di Indonesia pada 1869, mulanya kereta ini ditarik menggunakan tenaga kuda. Empat ekor tenaga kuda diperlukan untuk sekali perjalanan. Saat itu Indonesia jadi satu-satunya negara Asia yang sudah punya kereta jenis ini, bahkan di Eropa saja moda transportasi ini masih jarang. Tapi, kemajuan teknologi transportasi ini harus dibayar dengan kematian ratusan kuda tiap tahunnya. Tercatat ada 540 kuda lebih yang mati setiap tahun akibat kelelahan menarik kereta penumpang.

Nah pada 1881, masuklah kereta kecil bertenaga uap yang menggantikan tenaga kuda. Sehingga selain ramah lingkungan juga dapat menempuh perjalanan lebih cepat, biayanya pun jauh lebih murah. Namun tidak butuh waktu lama hingga akhirnya, kereta kecil bertenaga listrik mulai meramaikan pasar Indonesia. Ya memasuki pengujung 1897, kereta listrik mulai hadir di Batavia. Dikelola oleh perusahaan Electriche Tram Mij, kereta ini beroperasi untuk lima jalur yakni Menteng-Kramat-Jakarta Kota; Senen-Gunung Sahari; dan Menteng-Merdeka Timur-Harmoni.

jenis trem

Tentu saja kehadirannya membuat warga bahagia, karena selain tiketnya yang murah sekitar sepuluh sen, perjalanan para warga kota juga jadi lebih cepat. Tak pelak pemerintah pun menyambut antuasiame ini dengan terus menambah jalurnya. Sampai 1909 jalur-jalur di Batavia sudah sepanjang 14 kilometer.

Kereta ini mulai menghadapi titik kematian pada awal 1960-an. Sebabnya adalah rasa tidak suka Presiden Sukarno terhadap moda transportasi ini yang ia anggap kurang efektif dan tak lagi moderen. Bagi presiden pertama Indonesia tersebut, kereta bertenaga listrik yang hilir mudik didepan Istana Negara mengganggu kenyamanan. Sejak saat itu semua perjalanan kereta ini dihentikan, rel-rel yang tak lagi terpakai terpaksa ditutup aspal.

Kini hanya ada sisa-sisa peninggalan kereta bertenaga listrik ini di beberapa sudut kota Jakarta. Meski kehadirannya mampu memenuhi kebutuhan transportasi masa kini, namun dianggap kurang cocok digunakan di Indonesia dengan kondisi jalan yang padat kendaraan.

Baca juga: Traveling dengan Kereta di Dunia, Mana yang Anda Suka?

Comments are closed.