Mengukur Kualitas dari Uji Tabrak Mobil

Mobil

Meningkatnya angka kecelakaan mobil setiap tahun mendorong pemerintah memberlakukan uji tabrak mobil atau car crash test guna meminimalisir angka kecelakaan lalu lintas.

Tingkat kecelakaan lalu lintas di Indonesia tercatat meningkat setiap tahun. Dari enam juta kecelakaan, 20 persen diantaranya adalah kecelakaan mobil. Meilhat persentasi yang begitu tinggi, mendorong Kementerian Perhubungan Republik Indonesia membuat program untuk menguji fasilitas tabrak mobil pada tahun 2020 ini.

Kabar ini pun sudah beredar dan tidak sedikit menyambut baik. Salah satunya ada para APM (Agen Pemegang Merek) di Indonesia, yaitu Honda dan Toyota yang sangat. Pada Uji Tabrak Mobil setidaknya ada beberapa macam tes yang harus dilalui agar sebuah mobil dianggap layak mengaspal, berikut diantaranya:

Baca juga: Fitur Keselamatan pada Mobil untuk Menekan Angka Kecelakaan

Uji Tabrak Mobil Bagian Depan Mobil

apa itu uji tabrak mobil

Uji tabrak biasanya akan dilakukan di beberapa bagian, yang pertama adalah bagian depan. Tes ini dilakukan untuk mengetahui seberapa parah jika terjadi tabrakan di bagian depan. Pada bagian ini, mobil melaju pada kecepatan 64 km/jam, kemudian mobil akan menabrak sebuah tembok yang sebelumnya telah disediakan khusus untuk uji tabrak. Tembok ini dihadirkan untuk mendukung tes ini menyerupai kejadian nyata. Ketika melakukan tes ini, tidak ada orang di dalamnya. Hanya ada dummy atau boneka di bagian sopir dan penumpang. Penilaian tes ini berupa rating bintang melalui indikator dummy yang berada di dalam. Jika dummy atau boneka tersebut mengalami sedikit lecet ketika uji tabrak ini, sudah dipastikan mobil tersebut memiliki kondisi yang aman dan akan mendapatkan rating baik.

Uji Tabrak Bagian Samping Mobil

Selain bagian depan, bagian samping juga merupakan tes yang paling krusial. Proses tes ini dimulai dari mobil yang akan mendapat tabrakan dari samping seperti hantaman pada bagian pintu mobil. Sama seperti uji kelayakan pada bagian depan, untuk bagian samping ini masih menggunakan dummy atau boneka yang menjadi indikatornya. Penilaiannya pun dilakukan sama, yaitu jika penumpang atau pengendara tidak mengalami efek yang parah, maka mobil ini akan mendapatkan nilai yang baik.

Uji Tabrak Bagian Atas

Saat ini tes pada bagian atas pengendara menjadi kegiatan yang wajib dilakukan, tidak seperti pada tahun 2009 yang menjadikan tes ini sebagai nilai tambahan saja. Car crash test bagian atas ini bertujuan untuk mengetahui potensi cedera pengendara atau penumpang di bagian bagian abdomen dan dada. Menggunakankecepatan 32 km/jam, mobil akan dtabrak dari bagian samping. Jika mobil tersebut tidak memiliki airbag di bagian sisi jendela, bukan hanya mendapatkan nilai jelek,tapi tidak akan lolos crash test.

Uji Tabrak Terhadap Pejalan Kaki

mengintip uji tabrak mobil

Bukan hanya antara mobil, kendaraan lain, atau benda keras saja, kecelakaan seperti tabrakan juga dapat terjadi dengan pejalan kaki. Uji tabrak pada pejalan kaki juga merupakan tes yang krusial. Terdapat beberapa simulasi yang dilakukan terhadap dummy yang diletakan di depan mobil. Pada tes ini digunakan kecepatan 40 km/jam dan hasil tes ini akan dianalisa dari berbagai faktor, seperti seberapa keras proteksi bumper mobil hingga kap mobil berbahaya bagi para pejalan kaki disaat terjadi tabrakan. Saat melakukan tes ini, dummy atau boneka akan dibagi menjadi tiga bagian utama. Uji tabrak ini dilakukan pada bagian kaki, badan, dan juga kepala.

Meksipun terlihat cukup berbahaya, tetapi uji tabrakan dilakukan menggunakan fitur-fitur canggih sebuah mobil, mulai dari ESC Testing, tes pengereman (AEB Testing), dan keamanan  mobil melalui Advance Active Safety System. Kemudian, ada pula aspek keselamatan yang akan menjadi tolak ukur penilaian. Setidaknya ada 3 aspek yang mengacu pada ASEAN NCAP sebagai salah satu indikator penilaian.

Perlindungan Penumpang Dewasa

Masih sama dengan yang sebelumnya, untuk dapat memperlihatkan aspek keamanan dibutuhkan dummy orang dewasa yang akan ditempatkan di bagian pengemudi dan penumpang. Mobil tersebut akan digerakan secara otomatis untuk dibenturkan ke bagian depan dan samping. Dari hasil benturan tersebut, dummy akan diperiksa untuk melihat seberapa parah efek dari benturan, khususnya di bagian kepala, leher, dan badan. Jika terjadi benturan pada kepala, maka poin yang didapatkan akan kecil atau bahkan tidak akan mendapatkan nilai. Pada tes ini maksimal poin yang didapatkan masing-masing 16 poin, dan bobotnya 50 persen pada seluruh penilaian.

Baca juga: Sebelum Pasang Happy Family Sticker Mobil, Ketahui Hal Ini!

Perlindungan Anak-Anak

Tidak berbeda jauh, perlindungan anak pun sama halnya dengan perlindungan pada penumpang dewasa, Pada tes ini diperhatikan seberapa aman anak-anak terlindungi dari sebuah tabrakan. Dummy pada tes ini akan disesuaikan dan posisi duduknya akan diletakkan pada baby car seat. Selanjutnya sama dengan tes pada penumpang dewasa, mobil akan dibenturkan di bagian depan dan dari arah samping. Pada tes ini akan ada tiga penilaian, yakni Dynamic Assesment dengan poin maksimal 24 poin, CRS Installation Assesment dengan poin maksimal 12 poin, dan Vehicle Based Assesment dengan poin maksimal 13 poin. Tes ini akan berkontribusi 25 persen dari seluruh penilaian.

Peran Fitur Keselamatan

Perihal peran fitur keselamatan, uji terakhir yang dilakukan adalah memeriksa seberapa berfungsinya hal tersebut.Jika fitur keselamatan pada mobil bisa melindungi pengemudi dan penumpang, maka akan semakin baik pula penilaian yang akan didapatkan. Ada 4 hal yang diperhatikan pada tes ini, yaitu Effective Braking and Avoidance (EBA), Seat Belt Reminders (SBR), Blind Spot Technology (BST), dan Advanced Safety Assist Technology (SASTs). Pada aspek EBA poin maksimal yang didapatkan adalah 8 poin, SBR 2 poin, dan SATs 2 poin. Pda penilaian fitur keamanan ini, bobot terhadap keseluruhan penilaian adalah 25 persen.

Jika keseluruhan aspek telah dilaksanakan, gabungkan dan hitung untuk mendapatkan hasil total poin dan bintang yang telah didapat. Dilansir dari Kumparan.com, berikut ini merupakan komposisi penilaian:

cara uji tabrak mobil

Penilaian Bintang 5 dengan minimal total poin 75 persen

Penilaian Bintang 4 dengan minimal total poin 65 persen

Penilaian Bintang 3 dengan minimal total poin 50 persen

Penilaian Bintang 2 dengan minimal total poin 40 persen

Penilaian Bintang 1 dengan minimal total poin 30 persen

Dengan adanya uji tabrakan ini, orang Indonesia akan lebih cerdas dalam memilih kendaraan selain melihat fungsi, harga, safety, juga styling. Pihak Kementerian Perhubungan berjanji akan merilis hasil uji tabrak dari masing-masing produk ke publik secepat mungkin. Hal ini dilakukan supaya masyarkat mengetahui kualitas mobil yang baik dan standar kemanan yang dianjurkan.

Baca juga: 4 Penyebab Kecelakaan Mobil yang Sering Terjadi

Temukan Asuransi Mobil Terbaik Anda

Rp

Comments are closed.