Ingin Hunian Eksentrik? Rumah Adat Bali Bisa Jadi Inspirasi

properti

Rumah adat Bali dibangun dengan banyak ruang dan lebih sering berbentuk persegi panjang. Selain itu, nuansa rumah adat ini sangat kental dengan agama yang menampilkan kesan religious.

Bali merupakan salah satu provinsi yang paling dikenal oleh wisatawan asing. Kekayaan alam berupa pegunungan dan gugusan pantai yang indah menarik minat para wisatawan yang menginginkan keindahan pulau tropis. Selain memiliki pemandangan alam eksentrik, Bali juga kaya akan budaya religinya yang kental.

Budaya religi itu terlihat dari keseharian mereka dalam berpakaian dan bertutur kata. Selain budaya religi dan wisata bahari, ada keunikan lain yang menjadikan Bali dicintai wisatawan, yakni rumah adat Bali yang eksentrik dan penuh filosofi.

Baca juga: Tips Menata Dapur Minimalis

Menariknya, jika di daerah lain hanya terdapat satu macam rumah adat, tapi berbeda dengan Bali yang punya lebih dari satu rumah adat Bali. Keseluruh rumah adat tersebut punya aksen dan ciri tersendiri sehingga mampu menghadirkan inspirasi. Tidak sekedar menampilkan desain yang inspiratif, rumah adat bali juga dibangun dengan penuh filosofi.

Sebelum mengenal rumah adat Bali secara mendalam, jangan lupa untuk melindungi rumah dan seluruh isinya dengan asuransi properti. Jangan sampai Anda merugi dikarenakan rumah yang menjadi tempat berlindung bagi Anda keluarga terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Sebab, asuransi properti dapat memberikan perlindungan untuk rumah dari resiko kebakaran, banjir, pencurian dll.

Rumah Adat Bali

Rumah adat ini dikenal dengan nama “Gapura Candi Bentar“, yakni sebuah rumah yang di dalamnya memiliki banyak ornamen pendukung sebagai kesatudan dari Gapura Candi Bentar. Sebab, desain rumah adat ini sangat kental dengan agama Hindu.

Hal ini terlihat dari adanya Pura di bagian depan rumah, tepatnya di dalam gapura candi bentar. Pura merupakan tempat ibadah umat Hindu. Rumah adat bali memiliki aturan khusus, pada denah pembangunannya terbagi ke dalam beberapa bagian yang disebut Asta Kosala Kosali.

Secara filosofi Asta Kosala Kosali diartikan sebagai terbangunnya keselarasan dan kedinamisan dalam hidup apabila tercapai dalam suatu hubungan yang harmonis. Asta Kosala Kosali ini dibangun dari bebatuan yang diukir atau dipahat.  Selain itu, di setiap rumah akan terdapat patung-patung dan ornamen khas Bali yang menjadi simbol keyakinan kebanyakan masyarakat asli Bali.

Filosofi Rumah Adat Bali

Filosofi Rumah Adat Bali

Pembangunan sebuah rumah adat Bali itu tidak semudah yang dibayangkan. Sebab, sebuah rumah harus mengandung filosofi yang mencerminkan kehidupan masyarakat Bali harmonis antara aspek pawongan, kelemahan, dan parahyangan.

Ketiga aspek ini dikenal sebagai “Tri Hita Karana”. Pawongan merujuk pada penghuni rumah. Diharapkan adanya rumah ini dapat membuat hubungan orang-orang di dalamnya menjadi lebih harmonis. Sementara Palemahan artinya harus ada hubungan yang baik antara penghuni dengan lingkungannya.

Arsitektur tradisional Bali umumnya kaya akan dekorasi yang mencerminkan agama Hindu, mulai dari ukiran dan juga elemen pewarnaan yang khas dengan agama tersebut. Setiap ruangan juga di penuhi dengan berbagai patung sebagai simbol ritual beribadah umat Hindu.

Bagi masyarakat Bali, rumah adat adalah miniatur alam semesta yang selalu mengingatkan bahwa mereka tinggal berdampingan dengan sesama manusia, flora, fauna, dan juga pemilik semesta. Karena itu proses pembangunannya juga tidak bisa sembarangan.

Ada aturan khusus terkait pembangunan rumah adat tradisional Bali ini, seperti letak bangunan, arah desain, dimensi pekarangan, konstruksi, dan struktur bangunan harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Meski pulau Bali sering dikunjungi oleh para wisatawan, tapi budaya dan adat Bali tidak pernah tergerus zaman. Bahkan rumah adat Bali ini sering menjadi inspirasi desain rumah mondern para pendatang di pulau ini.

Macam-Macam Bagian Rumah Adat Bali

Macam-Macam Bagian Rumah Adat Bali

Rumah adat Bali ini sangat kental dengan nunsa Hindu, maka desain dan arsitektur bangunannya juga tidak sekedar asal berdiri. Ada beberapa macam bagian dari rumah adat yang harus ada dengan bentuk yang tak boleh diubah. Berikut ini ulasannya.

Angkul-Angkul

Ini merupakan bagian yang terdapat di pintu masuk utama. Bentuknya mirip dengan Gapura Candi Bentar. Namun, fungsinya hanya sekedar pintu masuk saja. Hal yang membedakan Angkul-Angkul dengan Gapura Candi Bentar adalah pada atap yang menghubungkan kedua bangunan letaknya sejajar, sementara pada Candi Bentar tidak ada penghubung atap.

Aling-Aling

Aling-Aling adalah pembatas antara Angkul-Angkul dengan halaman yang menjadi tempat suci. Dinding pembatasnya disebut dengan penyengker. Beberapa pemilik rumah juga menggunakan patung sebagai pembatas atau penyengkar. Di dalam ruang berpembatas tersebut ada ruangan yang bisa digunakan untuk aktifitas penghuni rumah. Bangunan ini diyakini dapat memancarkan aura positif.

Pura Keluarga

Pada setiap rumah adat di bali umumnya terdapat pura kecil yang biasa disebut sebagai pura keluarga, beberapa yang lain menyebutnya sebagai bangunan sanggah atau pamerajan. Pura ini biasa dibangun di sudut timur rumah. Pura ini juga kerap digunakan untuk beribadah bersama.

Baca juga: Yuk, Cari Tahu Seputar NJOP untuk Urusan Properti!

Rumah Adat Bale Manten

Ruangan atau bangunan ini khusus dirancang dan dibuat untuk para kepala keluarga dan anak perempuan. Bentuknya harus persegi panjang dengan tambahan bale di bagian kanan dan kirinya. Para anak gadis Bali harus tinggal di ruangan tersebut sampai akhirnya membina keluarga. Bangunan ini sendiri dibangun disebelah sebelah timur.

Bale Dauh

Bale Dauh ini adalah tempat pemilik rumah menerima tamu, tapi acapkali digunakan juga sebagai kamar tidur anak remaja. Bentuknya mirip rumah adat bale manten, yakni persegi panjang. Namun bedanya bale ini bukan merupakan bangunan khusus, jadi letaknya ada di bagian dalam ruangan. Bale Dauh biasa ditempatkan di sisi barat dengan posisi lantai lebih rendah dari Bale Manten. Jumlah bale dauh di tiap rumah berbeda-beda.

Bale Sekapat

bale sekapat rumah adat bali

Source: https://thegorbalsla.com/

Bangunan ini merupakan gazebo dengan empat tiang yang berfungsi sebagai tempat berkumpul dan bersantai seluruh anggota keluarga. Adanya Bale Sekapat ini diharapkan dapat membuat keluarga semakin dekat dan akrab.

Bale Gede

Sesuai namanya, bangunan ini berukuran sangat besar untuk rata-rata rumah standar. Pasalnya, ruangan ini memang digunakan untuk pelaksaan upacara adat dan ibadah besar. Dibangun di sebelah timur area rumah dengan bentuk persegi panjang yang terdiri dari 12 tiang. Ada tambahan bale di bagian kanan dan kirinya.  Posisi Bale Gede lebih tinggi ketimbang bale manten.

Pawaregen

Pawaregen ini merupakan istilah yang merujuk pada dapur rumah adat ini. Biasanya dibangun disebelah selatan atau barat laut rumah utama dengan dua area, yaitu untuk memasak dan menyimpan alat-alat dapur.

Baca juga: Punya Pagar Minimalis Tapi Tidak Bisa Merawatnya? Ini Caranya!

itulah macam-macam bagian rumah adat Bali. Tak heran jika ukuran rumah adat Bali selalu besar karena didalamnya memuat bangunan tambahan. Jika Anda berniat menjadikan rumah adat Bali ini sebagai inspirasi desain rumah sebaiknya konsultasikan dulu dengan arsitek rumah Anda.

 

Sumber: https://moondoggiesmusic.com/rumah-adat-bali/

Comments are closed.