Keunikan Rumah Joglo yang Belum Banyak Diketahui

properti

Sebagai rumah khas masyarakat Jawa Tengah, Rumah Joglo adalah representasi dari sifat warga Jawa yang terbuka, hangat dan bersahaja.

Jika Anda sering berkeliling ke daerah Jawa Tengah, Anda akan melihat banyak pemandangan hunian lebar dengan atap menonjol seperti gunung, tapi puncaknya mendatar, itulah Rumah Joglo yang merupakan hunian tradisional masyarakat Jawa Tengah.

Bagi masyarakat Jawa Tengah, Rumah Joglo hanya dimiliki bagi mereka yang berkasta tinggi. Maklum, material pembuatan rumah ini seluruhnya menggunakan kayu jati yang tergolong sangat mahal sehingga hanya kaum elite yang bisa membangun rumah Joglo. Sebagian besar diantara mereka bahkan membeli asuransi properti untuk melindungi hunian mahal ini dari resiko kebakaran dan kerusakan lain.

Baca juga: Ingin Hunian Eksentrik? Rumah Adat Bali Bisa Jadi Inspirasi

Seperti yang sudah dijelaskan, rumah Joglo berbahan dasar kayu jati yang mahal dan bernilai tinggi. Jadi, jika Anda ingin membangun rumah atau hunian dengan aksen Joglo maka pertimbangkan untuk membeli asuransi properti, sehingga jika di masa depan ada kebakaran, kerusakan dan pencurian yang sangat merugikan, bisa ditanggung oleh perusahaan asuransi.

Namun, jangan heran jika premi yang diberikan mahal. Sebab perusahaan asuransi biasanya akan menilai rumah berbahan kayu jati sebagai properti mahal, berbeda dengan rumah berbahan besi dan baja yang dianggap beresiko rendah mengalami kerusakan dan kebakaran.

Masyarakat jawa juga percaya bahwa Rumah Joglo tidak boleh dimiliki oleh sembarang orang, hanya kaum bangsawan, raja, pangeran, serta mereka yang terhormat dan terpandang. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, sudah banyak masyarakat awam yang membangun Rumah jenis ini, tapi lebih difungsikan sebagai gedung pertemuan serta perkantoran.

Mengenal Rumah Joglo

Mengenal Rumah Joglo

Rumah Joglo adalah rumah tradisional khas masyarakat Jawa Tengah yang material utamanya adalah kayu jati dengan atap berbentuk gunung, tapi puncaknya mendatar. Orang-orang sering menyebutnya sebagai Tajug. Umumnya rumah joglo sangat minm pembatas atau pagar.

Hal ini bertujuan untuk memberitahukan tamu bahwa pemilik rumah adalah orang yang terbuka dan siap menjalin silaturahmi dengan siapa pun yang bertamu ke rumahnya. Joglo juga sebenarnya bukanlah satu-satunya rumah khas masyarakat Jawa Tengah. Sebab, ada juga jenis lain yang masuk dalam kategori rumah tradisional, yakni bentuk Panggangpe, bentuk Kampung, dan bentuk Limasan. Jenis-jenis rumah khas tradisional Jawa Tengah inihanya didasarkan pada perbedaan bentuk atapnya.

Pada umumnya, rumah joglo memiliki kerangka utama yang terdiri dari sogo guru, yaitu berupa empat tiang yang berfungsi sebagai penyangga struktur bagunan dan juga tumpang sari yang berbentuk susunan balok sebagai sanggahan soko guru. Sebenarnya bentuk joglo adalah bujur sangkar, tapi dalam perkembangannya mengalami perubahan dengan adanya penambahan-penambahan ruang di sisi bangunannya.

Berbagai penambahan itu akhirnya melahirkan berbagai tipe Rumah Joglo baru, seperti di bawah ini.

  • joglo jompongan,
  • joglo kepuhan lawakan,
  • joglo ceblokan,
  • joglo kepuhan limolasan,
  • joglo sinom apitan,
  • joglo pengrawit,
  • joglo kepuhan apitan,
  • joglo semar tinandu,
  • joglo lambangsari,
  • joglo wantah apitan,
  • joglo hageng, dan
  • joglo mangkurat.

Baca juga: Punya Pagar Minimalis Tapi Tidak Bisa Merawatnya? Ini Caranya!

Bagian-Bagian Rumah Joglo

Salah satu daya tarik rumah khas Jawa Tengah ini adalah bagian-bagian di dalam rumah yang amat banyak. Bagian ini menggambarkan sifat masyarakat Jawa Tengah yang sangat teratur. Sehingga membutuhkan biaya besar jika Anda benar-benar ingin menjiplak desain rumah Joglo. Bagian-bagian yang terdapat di dalam rumah tradisional ini adalah sebagai berikut.

Pendopo/Pendapa

pendopo rumah joglo

Pendopo (Pendapa) ini adalah sebuah bangunan yang terpisah dari rumah Joglo yang menjadi bangungan tambahan dan diletakkan pada bagian depan rumah. Bangunan ini berfungsi sebagai ruang pertemuan, upacara adat, pertunjukkan seni dan aktivitas menerima tamu.

Namun, ruangan ini tidak menambahkan kursi, karena pemilik rumah ingin menciptakan kesetaraan antara tamu dan pemilik rumah. Sehingga seluruh orang yang berada di dalam ruangan tersebut harus duduk beralaskan tikar. Selain itu, ruangan ini juga sangat terbuka, tidak ada pintu-pintu maupun pagar pembatas. Hal ini mencerminkan sifat terbukaan dan ramah orang-orang Jawa Tengah.

Pringgitan

Pringgitan ini merupakan penghubung antara Pendopo dengan Omah (rumah utama), yang fungsinya sebagai jalan masuk ke rumah. Pringgitan juga kerap digunakan sebagai tempat ringgit atau bermain wayang. Jika melihat bagian atapnya, model atap Pringgitan inil Limasan atau Kampung.

Emperan

Bagian yang ketiga adalah Emperan yang merupakan teras depan yang menghubungkan Pringgitan dengan Omah. Fungsinya hampir sama dengan Pendopo, yakni sebagai tempat menerima tamu. Namun biasanya, emperan ini dilengkapi dengan meja dan kursi.

Omah

Inilah bagian utama dari sebuah Rumah Joglo, Omah berasal dari bahasa Austronesia yang berarti “rumah”. Omah merupakan tempat tinggal pemilik rumah yang berbetuk persegi dengan luas dan tinggi lebih besar dibandingkan dengan ruangan lainnya. Selain itu, omah juga dilengkapi dengan atap yang bermodelkan Joglo atau Limasan.

Dalem

keunikan rumah joglo

Dalem merupakan ruangan atau bagian dalam rumah yang terbagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian depan, tengah, dan belakang. Biasanya bagian depan digunakan sebagai ruang tamu yang menempel dengan ruang tidur. Sementara bagian tengahnya digunakan sebagai tempat duduk pengantin pria dan wanita saat melangsungkan upacara pernikahan. Pada zaman dulu, bagian Dalem ini lebih berfungsi sebagai ruang ibadah menyembah Dewi Sri. Sementara bagian belakang Dalem adalah kamar yang disebut dengan Senthong.

Senthong

Senthong menjadi kamar utama para pemilik rumah yang terletak di bagian paling belakang rumah. Selain berfungsi sebagai tempat tidur, Senthong juga sering dijadikan sebagai gudang penyimpanan bahan makanan dan juga menyimpan alat pertanian. Umumnya dalam satu rumah ada tiga senthong, yaitu sebagai tempat tidur, gudang penyimpan makanan, dan kamar di bagian tengah yang digunakan untuk menyimpan benda keramat, seperti keris. Selain itu kamar ini juga menjadi ruangan yang dianggap paling suci dan digunakan sebagai tempat ibadah juga.

Gandhok

Gandhok merupakan bangunan tambahan saja, biasanya dibangun di sebelah kiri dan kanan rumah. Fungsinya adalah sebagai tempat tidur keluarga dan juga ruang tidur untuk tamu.  Selain itu, di bagian paling belakang terdapat dapur, kamar mandi, dan sumur. Sumur biasanya terletak di sebelah timur.

Baca juga: Tips Menata Dapur Minimalis

Itulah denah atau bagian dari rumah Joglo yang sudah banyak diadaptasi oleh para arsitek untuk pembangunan hunian masyarakat modern. Jika ingin membangun rumah dengan konsep Rumah Joglo, Anda harus mengucurkan dana yang tidak sedikit karena selain memerlukan wilayah yang luas, bahan dasar atau material bangunannya pun tergolong mahal. Namun, dengan perencanaan keuangan yang tepat Anda pasti bisa mewujudkan rumah impian Anda.

Comments are closed.