Tradisi Mudik Lebaran dan Hari Raya Agama Lain di Dunia

Travel

Sejatinya, tradisi mudik tidak hanya dirasakan dan dilakukan oleh orang Indonesia dan yang beragama Islam. Negara dan agama lain pun juga punya.

Mungkin Anda berpikir bahwa mudik hanya berlaku untuk orang-orang Indonesia dan yang beragama Islam. Padahal, tradisi mudik tidak hanya ada di tanah air. Bahkan, lebih dari itu, tradisi mudik bukan hanya dilakukan oleh orang yang beragama Islam, melainkan berbagai agama di dunia. Tak heran jika beberapa negara di dunia memiliki tradisi mudik lebaran dan perayaan agama lain yang berbeda dan bahkan unik. Penasaran? Berikut adalah tradisi mudik lebaran dan hari besar agama lain di dunia!

Baca juga: Sebelum Pergi Mudik Lebaran, Lakukan Persiapan Ini!

Tradisi Mudik Lebaran dan Hari Besar Agama Lain di Dunia

Tiongkok

Kalau di Tiongkok budaya mudik ini biasa dilakukan saat hari raya Imlek, sama saja seperti Idul Fitri, di mana saat itu merupakan momen yang pas untuk saling silaturahmi satu sama lain. Sebagian besar masyarakat di Tiongkok lebih memilih pulang ke kampung halaman untuk merayakan Imlek dengan keluarga atau pergi ke daerah pedesaan. Bisa dibayangkan bagaimana macetnya jalanan di sana, Tiongkok merupakan negara yang memiliki jumlah penduduk terbanyak di seluruh dunia. Bedanya, di Tiongkok pada saat mudik adalah menyiapkan hadiah untuk diberikan kepada orangtua dan kerabat. Di sana juga biasanya mengenakan pakaian dan perhiasan terbaik yang secara tidak langsung menggambarkan tingkat kemakmuran di daerah perantauan mereka.

Korea

Budaya mudik di Korea bisa dilihat saat Chuseok yaitu hari libur resmi dan dirayakan secara besar-besaran pada bulan ke-8 di hari ke-15 penanggalan bulan. Hari Chuseok juga biasa disebut Hari Panen, Festival Bulan Musim Panen, atau Hangawi (hari besar di tengah musim gugur). Bagi masyarakat Korea, kalau sudah mendenger kata Chuseok maka hal-hal yang terlintas di pikiran mereka itu kemacetan parah, mudik, dan peringatan arwah leluhur. Jadi Chuseok itu juga merupakan kesempatan masyarakat Korea untuk mengucapkan syukur kepada arwah leluhur, melakukan ritual seperti Charye dan Seongmyo, lalu menghabiskan waktu dengan makan dan minum bersama keluarga. Dan tidak cuma kita yang punya makanan ketupat saat lebaran, orang Korea pun memiliki makanan khas saat Chuseok yaitu kue Songpyeon yang terbuat dari tepung beras yang berisi kacang atau wijen. Saat malam sebelum Chuseok, setiap anggota keluarga akan duduk bersama membuat kue tersebut. Kalau untuk yang masih single alias jomblo, mereka akan buat Songpyeon yang sangat bagus karena katanya bisa membuat mereka dapat pasangan yang cantik dan tampan nantinya.

Baca juga: Liburan Menyenangkan ke Taman Bunga Terindah di Dunia!

India

Kalau di India, setiap tahun masyarakatnya akan pulang kampung untuk merayakan Festival Cahaya atau Diwali (Deepavali). Menurut kalender Gegoleran Gregorian, biasanya perayaan ini jatuh pada Oktober atau November, dan dirayakan selama lima hari berturut-turut. Saat hari perayaan rumah-rumah di sana didekorasi dengan kilauan di mana-mana dan malam Diwali pun meriah dengan petasan-petasan di sepanjang jalan. Sebelum Hari Diwali, biasanya kereta-kereta di sana pasti sudah ramai, karena perjalanan mudik ke kampung halaman ini sudah menjadi semacam tradisi juga di India. Jika tidak ingin kehabisan tiket kereta calon pemudik harus pesan tiket dari jauh-jauh hari, agar kebagian kursi. Selain ramai oleh pemudik, ditambah juga oleh ramainya wisatawan yang berlibur saat hari raya Diwali, bisa dibayangkan seperti apa padatnya jalanan di India.

Bangladesh

Kegiatan mudik Idul Fitri pun ke kampung halaman masing-masing sangat ramai di negeri ini, kerena Bangladesh merupakan negara yang mayoritasnya adalah muslim. Beberapa hari sebelum Idul Fitri arus mudik di Bangladesh sudah sangat terlihat padat merayap menyerbu terminal bus, kereta api, dan perahu sungai demi mendapatkan tiket mudik. Kabarnya kereta api menjadi transportasi mudik favorit di sana, karena masyarakat di sana sangat menghindari perjalanan darat yang jalanannya rusak parah dan bergelombang akibat musim hujan.

Malaysia

Sama seperti Bangladesh, negara tetangga kita Malaysia pun merayakan Idul Fitri karena mayoritas masyarakatnya yang memeluk agama Islam. Kalau istilah mudik di Indonesia namanya pulang kampung, kalau di Malaysia istilahnya dinamakan balik kampong. Sebelum mudik biasanya mereka sibuk belanja di pusat perbelanjaan dan masyarakat di kampung halaman sibuk berbenah menyambut kedatangan anak-anak dan kerabatnya dari kota. Selain itu, tentu saja ada tradisi saling memaafkan sesama anggota keluarga dan kerabat hingga menyempatkan untuk mengunjungi makam keluarganya yang sudah meninggal. Juga tradisi memberi uang alias THR juga ada di negara ini. Bedanya di Malaysia mereka punya dua kali hari mudik, saat Idul Fitri dan juga saat Imlek, karena saat libur Imlek orang-orang di Malaysia memanfaatkan liburnya untuk balik kampong.

Baca juga: Senang Liburan? Ini Cara Mengurus Visa di VFS Global

Fiji

Walaupun umat Muslim Fiji termasuk minoritas, perayaan Idul Fitri di sana terbilang istimewa. Para pria yang telah usai menjalankan salat Ied akan kembali ke rumah untuk menikmati hidangan istimewa dari istri tersayang bersama kerabat ataupun tetangga. Makanannya berupa mie manis dicampur susu yang disebut Samai dan sejenis kari ayam dan daging yang disebut samosa.

Turki

Lebaran di Turki dikenal dengan sebutan ‘Bayram’. Pada momen Bayram, orang Turki merayakan dengan menyandang pakaian khas yang disebut Bayramlik. Mereka saling bertemu dan mengucapkan selamat “Bayraminiz Kutlu Olsun” , “Mutlu Baylamar” atau “Bayraminiz Mubarek Olsun” yang kurang lebih artinya “selamat merayakan hari bayram”. Di Turki, salat Ied biasanya diadakan di Masjid dan hanya diikuti oleh para pria. Setelah itu baru para wanita bergabung untuk bersilaturahmi. Mereka bersilaturahmi berkeliling door to door kepada para tetangga sambil memberikan salam Bayram sambil melayangkan doa-doa kebaikan pada pemilik rumah. Pemilik rumah akan memberikan hadiah berupa uang, cokelat atau permen laiknya saat Haloween.

Mesir

Kalau di Indonesia kita mengawali silaturahmi dengan mengunjungi tetangga terdekat. Lain halnya dengan negaranya Mohamed Salah ini. Saat Lebaran, kegiatan silaturahmi lebih fokus pada keluarga dan kerabat dekat saja. Biasanya kumpul keluarga dilakukan di ruang tamu tapi karena keluarga Mesir biasanya terdiri dari banyak anggota keluarga, lazim kalau kegiatan silaturahmi ini juga dilakukan di taman atau hadiqah. Tak heran, taman-taman di Mesir akan dipenuhi keluarga-keluarga yang melepas rindu. Tak lupa mereka menyantap Ranja, santapan khas Lebaran di Mesir berupa ikan asin dan sejenis acar.

Australia

Walaupun penduduk muslimnya termasuk minoritas, tapi perusahaan-perusahaan Australia memberikan libur khusus bagi para pekerja Muslimnya. Hal ini memungkinkan penduduk muslim Australia berkumpul bersama keluarga merayakan Ied Mubarak. Istimewanya, tiap Lebaran di berbagai kota di Negeri Kangguru diadakan event spesial dengan tajuk Mulicultural Eid Festival. Bentuk festivalnya bervariasi, mulai dari karnaval hingga pekan raya besar yang hits. Festival ini dibuka untuk umum sehingga para penduduk muslim juga bisa berbagi kebahagiaan dengan penduduk dari berbagai agama. Festival ini bahkan sudah menjadi agenda wisata di kota masing-masing. Terlihat jelas bukan, bahwa setiap negara memiliki tradisi mudiknya masing-masing, baik lebaran untuk yang beragama muslim dan hari raya agama lainnya di dunia. Lalu, bagaimana tradisi mudik Anda bersama keluarga?

Comments are closed.